BAHASA DALAM WACANA INTERAKTIF: Suatu Kajian Tentang Demokratisasi Komunikasi Melalui Tema Terorisme

BAB 1
PENDAHULUAN

Disertasi ini melaporkan kajian kritis tentang bahasa dalam wacana interaktif, dengan fokus kajian tentang demokratisasi komunikasi. Kajian ini terutama didasarkan pada analisis dokumen terhadap data primer berupa teks komentar pembaca dan berita yang dikonstruksi media yang keduanya terdapat dalam wacana terorisme yang dipublikasikan oleh media berita online di Internet. Kajian berperspektif kualitatif dan berjenis studi kasus ini menggunakan paradigma analisis wacana kritis (critical discourse analysis) yang dikembangkan oleh Fairclough ( 1995, 2001) dan van Dijk (1995) serta prosedur dan teknik Grounded Theory yang dikembangkan oleh Strauss dan Cobin (1990). Pada Bab Pendahuluan ini disajikan tentang latar belakang kajian, rumusan masalah dan pertanyaan penelitian, kebermaknaan penelitian, gambaran data, dan tinjauan umum metodologi. Bab ini ditutup dengan bahasan tentang batas-batas kajian dan definisi operasional beberapa istilah khusus yang digunakan.

1. Latar Belakang
Dalam konteks masyarakat Indonesia pascareformasi yang kini sedang berproses menuju terwujudnya tatanan sosial yang demokratis, praktik hegemoni kewacanaan yang didominasi oleh kalangan penguasa dan pengusaha yang cenderung mendapat justifikasi lewat pemberitaan di media massa tidak boleh dibiarkan. Potensi dominasi ini rawan penindasan, terutama terhadap mereka yang tidak punya akses terhadap modal dan kekuasaan. Karena itu, konglomerasi media massa dipandang sebagai ancaman terhadap demokrasi (Mc Chesney, 1998: 1). Sejatinya, dalam negara demokrasi, tidak boleh ada pemaksaan kebenaran oleh satu kelompok terhadap kelompok lain. Toleransi dan pluralisme dalam sikap politik adalah sesuatu yang niscaya (Locke, 1994: 56-62).
Dalam kasus pemberitaan peristiwa terorisme, misalnya, dikhawatirkan pluralitas dan antagonisme pemaknaan tentang wacana terorisme yang ada di level masyarakat justru dirawat dengan pembungkaman lewat penghakiman di media konvensional, seperti media cetak dan televisi, yang cenderung satu arah dan berpusat pada produsen. Akibatnya, sering kali distorsi informasi bukan berasal dari apa yang dibaca dan dipersepsikan, akan tetapi disebabkan oleh gumpalan keyakinan akibat informasi bertubi-tubi yang didapatkan secara sepihak. Karena itu, diperlukan kajian ilmiah yang berupa tafsir dan sikap kritis tentang wacana terorisme dari pembaca yang luas yang dapat dilakukan secara cepat, bebas, dan terbuka terhadap pemberitaan sepihak dan informasi yang hanya dikutip dari ‘narasumber resmi’.
Kajian ini bertolak dari tiga asumsi berikut. Pertama, fitur esensial sebuah wacana adalah adanya interaksi (Halliday, 1978:139), sehingga, makna yang terdapat di dalam wacana bukan hanya maksud (intention) penutur, akan tetapi juga makna sebagaimana yang diterima (perception) oleh petutur. Kedua, konteks situasi interaktif dalam struktur wacana menunjuk pada adanya relasi kuasa yang tidak pernah seimbang alias selalu asimetris (Foucault, 1979). Ketiga, struktur wacana bukan sesuatu yang tetap, melainkan sesuatu yang dapat bertransformasi atau dinamis (Hoed, 2011: 283). Atas dasar asumsi-asumsi tersebut, kajian ini akan mencoba menelusuri dan mengkonseptualisasikan bagaimana mode of discourse yang berupa teknologi komunikasi Internet yang digunakan oleh media berita online-interactive (OI) mendorong dinamika relasi kuasa dan memberikan dampak transformatif terhadap proses demokratisasi komunikasi sebagai sistem sosial.
Dalam kaitannya dengan disiplin ilmu bahasa, perkembangan kajian wacana selama dua dekade terakhir, yakni munculnya paradigma critical discourse analysis (CDA), menyediakan pisau analisis yang relatif tajam untuk membongkar muatan ideologi, dominasi, dan hegemoni di balik praktik berwacana (van Dijk, 1993; Fairclough, 1995, 2001). Sebagai perkembangan terakhir (the state of the art) kajian wacana, Fairclough, dalam Language and Power (2001), mencoba menghubungkan antara wacana dan perkembangan teknologi komunikasi global. Atas dasar itu, isu demokratisasi komunikasi dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa dalam konteks perkembangan teknologi Internet menjadi relevan dan menarik untuk dikaji lebih luas dan dalam. Hal itu penting dilakukan terutama sebagai upaya mencari dan menemukan alternatif media yang dapat menjadi arena proses kewacanaan secara lebih setara, adil dan prosemen (gabungan sisi pandang produsen dan konsumen). Dengan demikian, tujuan akhir kajian ini adalah mengkonseptualisasikan Internet sebagai forum demokrasi.
Beberapa kajian telah dilakukan para ahli berkaitan dengan dengan topik penelitian ini. Michel Foucault, misalnya, dalam The Archeology of Knowledge (1989), menjelaskan berbagai bentuk wacana (termasuk wacana terorisme) sebagai sebuah bentuk ’arkeologi’ (archeology), yaitu istilah khusus untuk menjelaskan bagaimana pengetahuan yang dikembangkan, relasi sosial yang terbentuk, aktor-aktor dan institusi yang terlibat, serta formasi bahasa (termasuk bahasa kekerasan) yang digunakan akan sangat menentukan pernyataan dan makna yang beroperasi di dalam wacana (termasuk wacana terorisme). ”Arkeologi teror” sebagaimana dikonsepsi Foucault tersebut, menunjukkan intensifnya pengetahuan (savoir) yang dilibatkan di dalam setiap tindakan teror: teknologi teror (pengetahuan bahan, teknologi merakit, prosedur meledakkan), sosiologi teror (kondisi sosial, relasi sosial dan formasi sosial yang ada), psikologi teror (suasana hati dan kondisi psikologis yang mendukung), dan politik teror (relasi kekuasaan dan struktur politik yang ada). Dengan demikian, teror tidak saja sarat tindak kekerasan dan pesan menakutkan, tetapi juga sarat pengetahuan, kepentingan dominasi dan hegemoni kekuasaan.
Namun, terorisme yang beradonan “kekerasan, pengetahuan, dominasi dan hegemoni kekuasaan” itu, dalam tatapan pakar komunikasi Marshal Mcluhan “tidak pernah ada” tanpa peran serta media massa yang mewacanakannya. “Without communication, terorism would not exist,” tegasnya, seperti dikutip Manuel Torres Soriano, seorang kandidat profesor komunikasi dari Spanyol, dalam artikel yang dimuat Athena Intelegence Journal, Vol.3, No. 1, 2008, yang bertajuk “Terrorism and The Mass Media after Al-Qaeda: A Change of Course”.

Demikianlah, terorisme kini menjelma sebagai “narasi besar” yang mengglobal. Salah satu pemicunya adalah media massa yang “mewacanakan” peristiwa terorisme dalam berbagai bentuk wacana jurnalistik, yang berupa: berita, tajuk, opini para ahli, komentar khalayak, perdebatan para politisi, kajian kaum akademik, dan yang sejenisnya. Paling tidak, sepanjang sepuluh tahun terakhir, wacana terorisme mengisi hampir semua ruang publik dengan kecenderungannya yang kontroversial. Setiap orang, kelompok, dan lembaga meresepsi dan memproduksi wacana terorisme sesuai dengan pengetahuan, pemahaman, kepentingan, ideologi, dan relasi kekuasaannya.
Berkaitan dengan kondisi pemberitaan tentang terorisme di media massa, Basil Triharyanto, seorang penulis cum peneliti Yayasan Pantau, melaporkan hasil penelitiannya di Koran Tempo, Jumat, 13 Mei 2011, dengan tajuk “Terorisme, Media, dan Bin Ladin”. Ia mengungkapkan tesisnya tentang relasi antara media dan teroris, yang menurutnya sangat mungkin berkembang di Indonesia. Dalam tatapannya, keterlibatan Imam Firdaus, juru kamera Global TV, dalam kasus jaringan Pepi Fernando yang merupakan perpanjangan tangan dari TV Al-Jazeera yanag disinyalir sebagai corong kepentingan Al-Qaeda, dalam rangkaian peledakan bom di Cirebon dan Serpong, sesungguhnya memberikan fakta-fakta terbentuknya hubungan antara media dan teroris.
Di sisi lain, anggota Dewan Pers Agus Sudibyo, yang dimuat TempoInteraktif, Senin, 07 Februari 2011, mengungkapkan, sebanyak 80 persen dari 512 pengaduan pers yang masuk ke Dewan Pers sepanjang tahun 2010 ternyata menunjukkan media terbukti melanggar kode etik jurnalistik. “80 persen dari kasus yang ditangani atau dimediasi dewan pers, berakhir dengan keputusan media melakukan pelanggaran kode etik,” ungkapnya. Menurut dia, bentuk pelanggaran kode etik dilakukan media antara lain, pemberitaan tidak berimbang, tidak melakukan verifikasi dan menghakimi, mencampurkan fakta dan opini tanpa data yang tidak akurat serta keterangan sumber berbeda dengan yang dikutip dalam berita. Pelanggaran lain yakni sumber berita tidak kredibel/ tidak jelas, berita mengandung muatan kekerasan, sadisme, atau pornografi serta media menjadi conflict intensivier. “Pelanggaran kode etik terjadi terutama yang berkaitan dengan pemberitaan tentang terorisme,” tegasnya.
Berdasarkan fakta-fakta di atas, pemberitaan tentang terorisme di media massa selama ini cenderung sepihak: didominasi oleh elit kekuasaan yang menciptakan, mempertahankan, melegitimasi, dan mengabaikan ketidakadilan dan ketidaksetaraan. Akibatnya, terjadi krisis kepercayaan terhadap wacana terorisme yang dikonstruksi dan dipublikasikan oleh media massa. Disepakati bahwa media massa merupakan kekuatan keempat dalam negara demokrasi, sejajar dengan tiga kekuatan lainnya, yakni: eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Diyakini bahwa media massa merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan kebenaran. Akan tetapi, dalam praktiknya, media massa sering dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk kepentingan di luar media, seperti kekuatan ekonomi, politik, dan lain-lain. Kepentingan media (menyampaikan informasi yang objektif dan benar) kepada khalayak sering terabaikan. Informasi yang disampaikan oleh media sering bersifat bias. Pada kondisi inilah media sering terseret melakukan “kekerasan simbolik (symbolic harshment)” (Chomsky, 2005), atau semacam “kekuatan lunak (soft power)” (Nye dalam Hoed, 2011: 284,285), yakni “aksi terorisme melalui konstruksi wacana berita”.
Apa yang terjadi ketika symbolic harshment atau soft power yang berujud “wacana terorisme” dan bertema “ketidaksetaraan dan ketidakadilan” yang bermuatan “kekerasan simbolik” itu mendominasi sumber-sumber diskursus publik? Sejumlah masalah timbul karenanya. Misalnya, dengan tajuk “Mengganggu Wacana Terorisme”, seorang aktivis mahasiswa Universitas Indonesia (Noory Okthariza-Suara Pembaca okt nomad@yahoo.co.id, Oktober 2010), menulis komentar terhadap berita penyergapan orang-orang yang diduga sebagai “teroris” dalam peristiwa Bom JW Marriot & Ritz Carlton, 17 Juli 2009. Menurutnya, Polisi dan media begitu bersemangat memberitakan keberadaan gembong teroris yang telah lama dicari. Satu per satu orang yang dianggap teroris ditangkap, tertembak(atau ditembak) mati. “Yang menarik dicermati dan menimbulkan kecurigaan, penyergapan itu bertepatan dengan sejumlah momentum penting politik Indonesia,” ungkapnya. Ia kemudian menyebut beberapa kasus yang menonjol: indikasi kecurangan dalam Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009, kasus Century, dan kasus mafia pajak. “Semua itu tampak jalin-menjalin sedemikian rupa, namun ada sekelumit jalinan peristiwa yang belum ada penjelasan. Kita tidak pernah tahu bagaimana pemberitaan sampai di sekitar kita. Narasumber yang diterima masyarakat terbatas pada ‘aktor-aktor lama’. Polisi, media, pengamat terorisme, dan beberapa orang dekat atau minimal pernah kontak langsung dengan kelompok teroris. Diskursus ini tidak menjadi pencerdasan. Malah justru menjadi tragedi bagi orang kebanyakan. Peristiwa penting tidak menjadi titik tolak keberangkatan menuju kebaikan bersama melainkan titik degradasi sosial yang semakin mengkhawatirkan.”
Masih berkenaan dengan wacana terorisme yang berkaitan dengan “Peristiwa Bom Kuningan Jilid 2” itu, suara lain muncul dari kalangan jurnalis sendiri. Yang pertama datang dari Wartawan senior Arya Gunawan dalam situs Tempointeraktif, edisi Rabu 5 Agustus 2009. Ia mencatat sejumlah bukti bahwa pemberitaan media massa Indonesia tentang terorisme di tengah aroma budaya kapitalis yang massif sekarang ini kerap tergoda, bahkan terjerumus, ke dalam “gairah berbuat dosa ”. Penandanya adalah banyaknya media massa yang menyebal dari kaidah-kaidah profesionalisme yang diusungnya ketika memberitakan peristiwa terorisme. Standar yang paling dasar dalam kerja jurnalistik, yakni keberimbangan (both-side), akurasi, dan kepatutan ternyata mudah oleng oleh berbagai “kepentingan yang menekan” baik yang datang dari luar lingkaran media massa maupun yang mengemuka dari tubuhnya sendiri. Kasus pemberitaan tentang terorisme sangat tipikal menunjukkan bahwa telah terjadi inkonsistensi dalam tradisi peliputan dan penulisan berita di media massa kita, termasuk oleh media massa yang sejak lama dikenal memiliki kredibilitas tinggi dan sangat taat azas terhadap budaya profesionalisme dalam berjurnalistik. Dilaporkan lebih rinci dalam kolom tersebut, bagaimana media massa kita mengkonstruksi pemberitaan tentang “Peristiwa Bom Kuningan”. Konstruksi pertama, pengabaian terhadap asas kepatutan dan relevansi. Konstruksi kedua, media telah menempatkan dirinya bukan lagi semata-mata sebagai pelapor, melainkan telah bergerak terlalu jauh hingga menjadi interogator, bahkan inkuisitor (salah satu definisi dari istilah terakhir ini adalah a questioner who is excessively harsh alias “seorang pewawancara yang amat kasar”). Inilah salah satu wujud nyata dari apa yang disebut sebagai trial by the press, bahkan ia telah layak digolongkan sebagai teror dalam bentuk lain. Konstruksi ketiga, masih terkait dengan konstruksi nomor dua, akurasi dan kualitas informasi yang cenderung gegabah dan sepihak, dengan hanya mengandalkan informasi dari lembaga-lembaga resmi, seperti kepolisian serta pihak-pihak lain yang merupakan representasi pihak yang berkuasa.
Mengiringi hebohnya wacana terorisme tersebut, banyak kajian dan penelitian ilmiah di tingkat global telah dilakukan para pakar berbagai bidang, yang berusaha menguak misteri di balik wacana terorisme. Diantaranya yang sempat terlacak: Jean Aitchison (2003), dalam New Media Language, menulis laporan penelitian empiriknya “From Armageddon to War: The Vocabulary of Terrrorism”; David L. Altheide (2007) mempublikasikan artikel kajian konseptualnya “The mass media and terrorism” di situs pribadinya; Adam Hodges dan Chad Nilep (2007) menyunting Discourse, War and Terrorism; Richard Jackson (2005) menulis Writing the War on Terrorism: Language, Politics and Counter-terrorism; Elizabeth Arveda Kissling ( 2010) menulis “Street Harassment: The Language of Sexual Terrorism” dalam jurnal Discourse & Society; dan Alexander Spencer (2010) menulis The Tabloid Terrorist : The Predicative Construction of New Terrorism in the Media dalam bentuk ebook. Bambang Trisno Adi (2010) menulis buku berdasarkan disertasinya yang bertajuk Critical Discourse Analysis (CDA) of Terrorism in Newsweek Magazine: Uncovering Connections between Language, Ideology and Power .
Dalam konteks Indonesia, beberapa penelitian ilmiah telah dilakukan berkenaan dengan isu wacana terorisme dalam kaitannya dengan media massa. Heri Budiyanto (2006) menulis artikel di Bulletin Penelitian berdasarkan disertasinya yang berjudul “Perspektif Pemberitaan tentang Terorisme di Indonesia (Analisis Wacana Komparasi di Harian Umum Republika dan Kompas”. Danu Dwi Pemungkas (2009) menulis tesis Pemberitaan Eksekusi Mati Amrozi Cs di Media Asing dan Media Nasional (Analisis Wacana Pemberitaan Situs http://www.theaustralian.news.com.au dan Harian Kompas Tentang Eksekusi Amrozi Cs )”. Roekha Roekhan (2009) menulis disertasi Kekerasan Simbolik di Media Massa. Hizkia Y. S. Polimpung (2010) menulis artikel konseptualnya yang bertajuk “Media, Kapitalisme, dan Terorisme: Sindikat Pembodohan Global” di situs pribadinya. Tidak ada hubungannya dengan wacana terorisme, tetapi berkaitan dengan media online-interacitve, Hamzah (2005) menulis disertasi di Program Studi Linguistik FIB UI tentang Interaksi dan pengembangan topik di dalam cet.
Semua kajian itu, baik di tingkat global maupun nasional, secara umum masih berupa kajian deskriptif dan interpretatif serta dampak-dampak yang ditimbulkannya. Sejauh yang dapat dilacak, belum ada kajian tentang wacana terorisme yang berusaha mencari alternatif praktik berbahasa dan penggunaan media yang yang dapat mengakomodasi kepentingan publik untuk menerima dan memahami serta memproduksi wacana terorisme secara lebih adil dan setara. Penelitian ini mencoba mengisi kekosongan itu, dengan mengajukan topik tentang bahasa dan wacana interaktif: suatu kajian tentang demokratisasi komunikasi melalui tema terorisme.
Dalam penelitian ini, wacana interaktif yasng bertemakan terorisme (selanjutnya disebut “wacana interaktif terorisme”) didefinisikan sebagai satuan bahasa yang utuh, yang berisi berita tentang peristiwa terorisme, yang dikonstruksi dan dipublikasikan oleh media berita online-interactive dengan dukungan teknologi Internet. Sebagai wacana informasional di bidang politik, wacana interaktif terorisme bukan hanya mengandung kesatuan makna antarbagian, yaitu antarkata, antarkalimat, antarparagraf, antara judul dan isi, antara teras berita (lead) dan tubuh berita (body), akan tetapi lebih dari itu: kesatuan makna wacana interaktif terorisme berkaitan juga dengan konteks, kognisi sosial, ideologi, dan relasi kekuasaan yang mengitarinya. Misalnya, ada situasi apa di balik berita tentang terorisme itu dan mengapa media memaparkan konteks itu dengan cara tertentu; siapa saja yang terlibat beropini secara dominan dalam praktik berwacana itu dan apa kepentingannya serta dengan cara bagaimana mereka mewacanakan kepentingannya itu; lalu apa respons pembaca terhadap pemberitaan yang dikonstruksi media dan opini yang berkembang di dalamnya. Pertanyaan terakhir itu, yang merupakan fokus penelitian ini, penting diajukan agar proses pemaknaan tentang wacana terorisme tidak berpusat dan tidak berhenti pada produsen wacana ( dalam hal ini media dan para narasumber dominan), akan tetapi berbagi dan bergeser pada konsumen wacana ( dalam hal ini pembaca).
2. Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang itu, penelitian ini bermaksud melakukan konseptualisasi terhadap komentar pembaca dan berita yang dikonstruksi media di sejumlah media berita OI yang diduga menunjukkan tanda-tanda kesetaraan dalam berkomunikasi. Permasalahan pokoknya: Apakah proses kewacanaan di Internet dalam berita tentang terorisme dapat dikonseptualiasikan sebagai forum demokratisasi komunikasi?
3. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan permasalahan pokok di atas, pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian adalah sebagai berikut.
• Bagaimana informasi tentang terorisme di Internet dimaknai oleh penanggap: apakah informasi itu dipahami sebagaimana dimaksudkan oleh media?
• Faktor apa yang menyebabkan adanya makna tertentu tentang terorisme yang diberikan oleh media dan penanggap?
4. Kebermaknaan Penelitian
Paling tidak, ada empat manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini.
Pertama, adanya rekonstruksi wacana terorisme dalam konteks politik global dan nasional. Pertanyaannya, apakah tepat menandai sekelompok orang dengan teori yang lebih berat segi identitasnya. Persoalannya: apakah rekonstruksi wacana terorisme memungkinkan terbentuknya satu nasionalisme masyarakat internasional atau ini adalah manifestasi dari power relation yang tidak seimbang dalam konteks politik nasional? Dengan melakukan rekonstruksi wacana terorisme yang terdapat di media OI secara kritis, mungkin penelitian ini akan menjadi langkah awal menuju terjawabnya pertanyaan yang tampak masih terselimuti misteri itu.
Kedua, kontribusi teoretik formal yang diharapkan dari penelitian ini adalah mengembangkan teori tentang hubungan antara bahasa, media, dan teknologi komunikasi. Benarkah proposisi yang menyatakan bahwa relasi bahasa, media, dan teknologi komunikasi bisa digunakan sebagai piranti demokratisasi dan penetrasi kesetaraan dan keadilan? Bila benar, prasyarat apa yang harus dipenuhinya? Paragdigma CDA dipandang berpotensi untuk mendeskripsikan, menginterpretasikan, dan mengeksplanasikan relasi idealistik itu.
Ketiga, kontribusi teoretik substantif yang diharapkan dari penelitian ini adalah memberikan alternatif pemahaman deskriptif dan kritis tentang wacana terorisme sebagaimana dituturkan dan ditafsirkan oleh para pelaku tutur di media berita OI.
Keempat, secara praktis, penelitian ini bermanfaat karena akan menunjukkan alternatif media yang dapat mengakomodasi kepentingan masyarakat dalam proses pemaknaan tentang wacana terorisme secara lebih setara, adil, interaktif, dan prosemen (gabungan sisi pandang produsen dan konsumen).
5. Data
Data primer penelitian ini, sebagai objek kajian sekaligus sebagai korpus penelitian, berupa 1159 komentar pembaca yang terdapat di dalam 25 berita yang dikonstruksi media yang berisi pemberitaan-pemberitaan tentang terorisme di media berita OI. Ada delapan media berita OI yang dijadikan sumber perolehan data, yaitu Arrahmah.com, Detik.com, okezone.com, Kompas.com, Republika Online, Tempointeraktif, Rakyat Merdeka online, dan vivanews.com, dengan asumsi kedelapan media tersebut merepresentasikan latar ideologi yang relatif berbeda serta segmen pembaca yang beragam. Secara tematis, objek penelitian ini adalah wacana berita tulis tentang terorisme yang dipubliksikan oleh delapan media OI tersebut, dengan alasan: tema terorisme merupakan isu yang hangat dan cenderung kontroversial sepanjang dekade terakhir ini. Secara topikal, objek penelitian ini memfokuskan pada berita tentang pidato Presiden SBY yang berkaitan kejadian peledakan bom di Hotel JW. Marriot dan Ritz Carlton, yang dikenal dengan sebutan “Peristiwa Bom Kuningan Jilid 2”, yang terjadi pada Jumat 17 Juli 2009, dengan alasan: topik tersebut sangat tipikal mencerminkan terjadinya irisan antara peristiwa terorisme di satu sisi dengan peristiwa politik (dalam hal ini Pilpres 2009) di sisi lain, sehingga dipandang cocok untuk dijadikan objek kajian CDA yang notabene sarat dengan muatan ideologi. Ada pun teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara memilih dan mengkopi semua wacana terpublikasi (published discourse) di media berita OI yang dijadikan sumber perolehan data, yang relevan dengan tema dan topik objek penelitian.
Uraian tentang data tersebut digambarkan sebagai berikut.
Gambar 1 Data Wacana Interaktif

6. Tinjauan Metodologi
Paradigma yang digunakan di dalam penelitian yang berperspektif kualitatif dan berjenis studi kasus ini adalah paradigma kritis (Fairclough, 1995; van Dijk, 1993), dengan asumsi bahwa wacana terorisme merupakan wacana yang berada di ranah politik yang sarat dengan muatan ideologi dan relasi kekuasaan. Adapun metodologinya mengikuti prosedur dan teknik Grounded Theory (GT), dengan alasan karakteristik permasalahan penelitian ini lebih pada upaya konseptualiasi dan pengembangan teori substantif tentang Internet sebagai forum demokratisasi komunikasi yang bermula pada pengumpulan data, berlanjut dengan pengkodean dan analisis data, dan bermuara pada interpretasi data (Strauss & Cobin, 1990: 17-32).
Ada enam tahapan dalam prosedur penelitian ini: pengumpulan data, pengkodean data, analisis data, penyimpulan, generalisasi, dan interpretasi, sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 1 berikut.
No. TAHAPAN DESKRIPSI
1 Pengumpulan data mengumpulkan wacana terpublikasi (published discourse) di media berita OI yang dijadikan sumber perolehan data, dilakukan dengan cara mengumpulkan salinan (hardcopy) wacana terorisme yang berupa komentar pembaca dan berita yang dikonstruksi media sebagai data primer.
2 Pengkodean data Melakukan pengkodean terbuka (open coding), pengkodean axial (axial coding) dan pengkodean selektif (selective coding)
3 Analisis Data Melakukan analisis data berdasarkan sinsitifitas teoritis (theoretical sensitivity) paradigma CDA Fairclough dan van Dijk
4 Penyimpulan mengembangkan pemahaman teoretik substantif (substantive theory) dengan cara mengaitkan tahapan-tahapan tindakan/interaksi, membuat matriks kondisional, dan terakhir merancang percontoh teoretis.
5 Generalisasi mengembangkan pemahaman teoretik formal (formal theory). Langkah pengembangan pemahaman teoretik formal dilakukan dengan cara menghapuskan muatan substantif (substantive content) dalam model teoretik yang diajukan, sehingga perhatian dan pemikiran tertuju pada sejumlah konstruk formal (formal constructs).
6 Interpretasi tahap interpretasi terhadap teks ini melibatkan dua elemen dasar, yaitu teks dan penafsiran peneliti. Dalam hal ini, interpretasi muncul lewat kombinasi antara apa yang tertera pada teks dan apa yang ada di kepala peneliti sebagai penafsir.

Secara garis besar, prosedur dan teknik penelitian dalam kajian ini dapat diringkas sebagai berikut.
Gambar 2 Ikhtisar Prosedur dan Teknik Penelitian
MASUKAN  PROSES  LUARAN 

 BALIKAN

7. Batasan Penelitian
Kajian ini tergolong jenis penelitian studi kasus, sehingga temuannya tidak dapat digunakan untuk membuat generalisasi yang lebih luas tentang hubungan bahasa, media, dan teknologi komunikasi. Meskipun begitu, temuan penelitian dapat dijadikan salah satu indikator yang relatif terpercaya dari berbagai kemungkinan dan kecenderungan yang ada.
Secara metodologis, penelitian ini juga hanya mengandalkan dokumen terpublikasi, sehingga tingkat keutuhan datanya masih terbuka untuk dilengkapi dengan metode lain, seperti wawancara, observasi, dan survey. Meskipun begitu, data primer yang berupa dokumen terpublikasi yang dijadikan bahan analisis dalam penelitian ini, menurut paradigma CDA dan prosedur Grounded Theory, dipandang representatif untuk kepentingan pencapaian tujuan penelitian ini, yakni melakukan konseptualisasi tentang suatu fenomena dalam konteks tertentu.

8. Definisi Operasional
Bahasa:
Dalam penelitian ini konsep bahasa dipahami sebagai sebuah sistem komunikasi yang membuat manusia dapat berinteraksi untuk berbagai kepentingan. Ada tiga kata kunci dalam pengertian tentang bahasa tersebut: sistem komunikasi, interaksi, dan kepentingan. Sistem komunikasi menunjuk pada satuan kosakata, struktur gramatikal, dan struktur teks. Interaksi menunjuk pada adanya hubungan minimal diadik antar partisipan serta hubungan antara teks dan konteks. Kepentingan mengacu pada muatan makna, pesan, dan ideologi.

Wacana interaktif:
Dalam penelitian ini konsep wacana interaktif didefinisikan secara operasional sebagai proses kewacanaan yang berlangsung di media berita OI, yang berisi berita yang dikonstruksi media dan komentar yang diungkapkan pembaca.
Demokratisasi komunikasi:
Dalam penelitian ini konsep demokratisasi komunikasi didefinisikan secara operasional sebagai posisi kesetaraan atau simetris antara partisipan dalam proses kewacanaan.
Tema terorisme:
Dalam penelitian ini tema terorisme menunjuk pada berita dan komentar di media OI yang berkaitan dengan peristiwa terorisme.

About acengruhendisaifullah

dosen di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), mahasiswa S3 program Ilmu Linguistik Universitas Indonesia, peminat kajian Pragmatik, analisis wacana kritis, linguistik forensik, Jurnalistik, dan analisis Wacana Kritis

Posted on Maret 14, 2012, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: