silabus pragmatik

SILABUS pragmatik

silabus pragmatik

SILABUS pragmatik

POWER POINT PERKULIAHAN ANALISIS FRAMING

handout analisis framing:

Bab 1 Pendahuluan: BAHASA DALAM WACANA INTERAKTIF

BAHASA DALAM WACANA INTERAKTIF: Suatu Kajian Tentang Demokratisasi Komunikasi Melalui Tema Terorisme

BAB 1
PENDAHULUAN

Disertasi ini melaporkan kajian kritis tentang bahasa dalam wacana interaktif, dengan fokus kajian tentang demokratisasi komunikasi. Kajian ini terutama didasarkan pada analisis dokumen terhadap data primer berupa teks komentar pembaca dan berita yang dikonstruksi media yang keduanya terdapat dalam wacana terorisme yang dipublikasikan oleh media berita online di Internet. Kajian berperspektif kualitatif dan berjenis studi kasus ini menggunakan paradigma analisis wacana kritis (critical discourse analysis) yang dikembangkan oleh Fairclough ( 1995, 2001) dan van Dijk (1995) serta prosedur dan teknik Grounded Theory yang dikembangkan oleh Strauss dan Cobin (1990). Pada Bab Pendahuluan ini disajikan tentang latar belakang kajian, rumusan masalah dan pertanyaan penelitian, kebermaknaan penelitian, gambaran data, dan tinjauan umum metodologi. Bab ini ditutup dengan bahasan tentang batas-batas kajian dan definisi operasional beberapa istilah khusus yang digunakan.

1. Latar Belakang
Dalam konteks masyarakat Indonesia pascareformasi yang kini sedang berproses menuju terwujudnya tatanan sosial yang demokratis, praktik hegemoni kewacanaan yang didominasi oleh kalangan penguasa dan pengusaha yang cenderung mendapat justifikasi lewat pemberitaan di media massa tidak boleh dibiarkan. Potensi dominasi ini rawan penindasan, terutama terhadap mereka yang tidak punya akses terhadap modal dan kekuasaan. Karena itu, konglomerasi media massa dipandang sebagai ancaman terhadap demokrasi (Mc Chesney, 1998: 1). Sejatinya, dalam negara demokrasi, tidak boleh ada pemaksaan kebenaran oleh satu kelompok terhadap kelompok lain. Toleransi dan pluralisme dalam sikap politik adalah sesuatu yang niscaya (Locke, 1994: 56-62).
Dalam kasus pemberitaan peristiwa terorisme, misalnya, dikhawatirkan pluralitas dan antagonisme pemaknaan tentang wacana terorisme yang ada di level masyarakat justru dirawat dengan pembungkaman lewat penghakiman di media konvensional, seperti media cetak dan televisi, yang cenderung satu arah dan berpusat pada produsen. Akibatnya, sering kali distorsi informasi bukan berasal dari apa yang dibaca dan dipersepsikan, akan tetapi disebabkan oleh gumpalan keyakinan akibat informasi bertubi-tubi yang didapatkan secara sepihak. Karena itu, diperlukan kajian ilmiah yang berupa tafsir dan sikap kritis tentang wacana terorisme dari pembaca yang luas yang dapat dilakukan secara cepat, bebas, dan terbuka terhadap pemberitaan sepihak dan informasi yang hanya dikutip dari ‘narasumber resmi’.
Kajian ini bertolak dari tiga asumsi berikut. Pertama, fitur esensial sebuah wacana adalah adanya interaksi (Halliday, 1978:139), sehingga, makna yang terdapat di dalam wacana bukan hanya maksud (intention) penutur, akan tetapi juga makna sebagaimana yang diterima (perception) oleh petutur. Kedua, konteks situasi interaktif dalam struktur wacana menunjuk pada adanya relasi kuasa yang tidak pernah seimbang alias selalu asimetris (Foucault, 1979). Ketiga, struktur wacana bukan sesuatu yang tetap, melainkan sesuatu yang dapat bertransformasi atau dinamis (Hoed, 2011: 283). Atas dasar asumsi-asumsi tersebut, kajian ini akan mencoba menelusuri dan mengkonseptualisasikan bagaimana mode of discourse yang berupa teknologi komunikasi Internet yang digunakan oleh media berita online-interactive (OI) mendorong dinamika relasi kuasa dan memberikan dampak transformatif terhadap proses demokratisasi komunikasi sebagai sistem sosial.
Dalam kaitannya dengan disiplin ilmu bahasa, perkembangan kajian wacana selama dua dekade terakhir, yakni munculnya paradigma critical discourse analysis (CDA), menyediakan pisau analisis yang relatif tajam untuk membongkar muatan ideologi, dominasi, dan hegemoni di balik praktik berwacana (van Dijk, 1993; Fairclough, 1995, 2001). Sebagai perkembangan terakhir (the state of the art) kajian wacana, Fairclough, dalam Language and Power (2001), mencoba menghubungkan antara wacana dan perkembangan teknologi komunikasi global. Atas dasar itu, isu demokratisasi komunikasi dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa dalam konteks perkembangan teknologi Internet menjadi relevan dan menarik untuk dikaji lebih luas dan dalam. Hal itu penting dilakukan terutama sebagai upaya mencari dan menemukan alternatif media yang dapat menjadi arena proses kewacanaan secara lebih setara, adil dan prosemen (gabungan sisi pandang produsen dan konsumen). Dengan demikian, tujuan akhir kajian ini adalah mengkonseptualisasikan Internet sebagai forum demokrasi.
Beberapa kajian telah dilakukan para ahli berkaitan dengan dengan topik penelitian ini. Michel Foucault, misalnya, dalam The Archeology of Knowledge (1989), menjelaskan berbagai bentuk wacana (termasuk wacana terorisme) sebagai sebuah bentuk ’arkeologi’ (archeology), yaitu istilah khusus untuk menjelaskan bagaimana pengetahuan yang dikembangkan, relasi sosial yang terbentuk, aktor-aktor dan institusi yang terlibat, serta formasi bahasa (termasuk bahasa kekerasan) yang digunakan akan sangat menentukan pernyataan dan makna yang beroperasi di dalam wacana (termasuk wacana terorisme). ”Arkeologi teror” sebagaimana dikonsepsi Foucault tersebut, menunjukkan intensifnya pengetahuan (savoir) yang dilibatkan di dalam setiap tindakan teror: teknologi teror (pengetahuan bahan, teknologi merakit, prosedur meledakkan), sosiologi teror (kondisi sosial, relasi sosial dan formasi sosial yang ada), psikologi teror (suasana hati dan kondisi psikologis yang mendukung), dan politik teror (relasi kekuasaan dan struktur politik yang ada). Dengan demikian, teror tidak saja sarat tindak kekerasan dan pesan menakutkan, tetapi juga sarat pengetahuan, kepentingan dominasi dan hegemoni kekuasaan.
Namun, terorisme yang beradonan “kekerasan, pengetahuan, dominasi dan hegemoni kekuasaan” itu, dalam tatapan pakar komunikasi Marshal Mcluhan “tidak pernah ada” tanpa peran serta media massa yang mewacanakannya. “Without communication, terorism would not exist,” tegasnya, seperti dikutip Manuel Torres Soriano, seorang kandidat profesor komunikasi dari Spanyol, dalam artikel yang dimuat Athena Intelegence Journal, Vol.3, No. 1, 2008, yang bertajuk “Terrorism and The Mass Media after Al-Qaeda: A Change of Course”.

Demikianlah, terorisme kini menjelma sebagai “narasi besar” yang mengglobal. Salah satu pemicunya adalah media massa yang “mewacanakan” peristiwa terorisme dalam berbagai bentuk wacana jurnalistik, yang berupa: berita, tajuk, opini para ahli, komentar khalayak, perdebatan para politisi, kajian kaum akademik, dan yang sejenisnya. Paling tidak, sepanjang sepuluh tahun terakhir, wacana terorisme mengisi hampir semua ruang publik dengan kecenderungannya yang kontroversial. Setiap orang, kelompok, dan lembaga meresepsi dan memproduksi wacana terorisme sesuai dengan pengetahuan, pemahaman, kepentingan, ideologi, dan relasi kekuasaannya.
Berkaitan dengan kondisi pemberitaan tentang terorisme di media massa, Basil Triharyanto, seorang penulis cum peneliti Yayasan Pantau, melaporkan hasil penelitiannya di Koran Tempo, Jumat, 13 Mei 2011, dengan tajuk “Terorisme, Media, dan Bin Ladin”. Ia mengungkapkan tesisnya tentang relasi antara media dan teroris, yang menurutnya sangat mungkin berkembang di Indonesia. Dalam tatapannya, keterlibatan Imam Firdaus, juru kamera Global TV, dalam kasus jaringan Pepi Fernando yang merupakan perpanjangan tangan dari TV Al-Jazeera yanag disinyalir sebagai corong kepentingan Al-Qaeda, dalam rangkaian peledakan bom di Cirebon dan Serpong, sesungguhnya memberikan fakta-fakta terbentuknya hubungan antara media dan teroris.
Di sisi lain, anggota Dewan Pers Agus Sudibyo, yang dimuat TempoInteraktif, Senin, 07 Februari 2011, mengungkapkan, sebanyak 80 persen dari 512 pengaduan pers yang masuk ke Dewan Pers sepanjang tahun 2010 ternyata menunjukkan media terbukti melanggar kode etik jurnalistik. “80 persen dari kasus yang ditangani atau dimediasi dewan pers, berakhir dengan keputusan media melakukan pelanggaran kode etik,” ungkapnya. Menurut dia, bentuk pelanggaran kode etik dilakukan media antara lain, pemberitaan tidak berimbang, tidak melakukan verifikasi dan menghakimi, mencampurkan fakta dan opini tanpa data yang tidak akurat serta keterangan sumber berbeda dengan yang dikutip dalam berita. Pelanggaran lain yakni sumber berita tidak kredibel/ tidak jelas, berita mengandung muatan kekerasan, sadisme, atau pornografi serta media menjadi conflict intensivier. “Pelanggaran kode etik terjadi terutama yang berkaitan dengan pemberitaan tentang terorisme,” tegasnya.
Berdasarkan fakta-fakta di atas, pemberitaan tentang terorisme di media massa selama ini cenderung sepihak: didominasi oleh elit kekuasaan yang menciptakan, mempertahankan, melegitimasi, dan mengabaikan ketidakadilan dan ketidaksetaraan. Akibatnya, terjadi krisis kepercayaan terhadap wacana terorisme yang dikonstruksi dan dipublikasikan oleh media massa. Disepakati bahwa media massa merupakan kekuatan keempat dalam negara demokrasi, sejajar dengan tiga kekuatan lainnya, yakni: eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Diyakini bahwa media massa merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan kebenaran. Akan tetapi, dalam praktiknya, media massa sering dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk kepentingan di luar media, seperti kekuatan ekonomi, politik, dan lain-lain. Kepentingan media (menyampaikan informasi yang objektif dan benar) kepada khalayak sering terabaikan. Informasi yang disampaikan oleh media sering bersifat bias. Pada kondisi inilah media sering terseret melakukan “kekerasan simbolik (symbolic harshment)” (Chomsky, 2005), atau semacam “kekuatan lunak (soft power)” (Nye dalam Hoed, 2011: 284,285), yakni “aksi terorisme melalui konstruksi wacana berita”.
Apa yang terjadi ketika symbolic harshment atau soft power yang berujud “wacana terorisme” dan bertema “ketidaksetaraan dan ketidakadilan” yang bermuatan “kekerasan simbolik” itu mendominasi sumber-sumber diskursus publik? Sejumlah masalah timbul karenanya. Misalnya, dengan tajuk “Mengganggu Wacana Terorisme”, seorang aktivis mahasiswa Universitas Indonesia (Noory Okthariza-Suara Pembaca okt nomad@yahoo.co.id, Oktober 2010), menulis komentar terhadap berita penyergapan orang-orang yang diduga sebagai “teroris” dalam peristiwa Bom JW Marriot & Ritz Carlton, 17 Juli 2009. Menurutnya, Polisi dan media begitu bersemangat memberitakan keberadaan gembong teroris yang telah lama dicari. Satu per satu orang yang dianggap teroris ditangkap, tertembak(atau ditembak) mati. “Yang menarik dicermati dan menimbulkan kecurigaan, penyergapan itu bertepatan dengan sejumlah momentum penting politik Indonesia,” ungkapnya. Ia kemudian menyebut beberapa kasus yang menonjol: indikasi kecurangan dalam Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009, kasus Century, dan kasus mafia pajak. “Semua itu tampak jalin-menjalin sedemikian rupa, namun ada sekelumit jalinan peristiwa yang belum ada penjelasan. Kita tidak pernah tahu bagaimana pemberitaan sampai di sekitar kita. Narasumber yang diterima masyarakat terbatas pada ‘aktor-aktor lama’. Polisi, media, pengamat terorisme, dan beberapa orang dekat atau minimal pernah kontak langsung dengan kelompok teroris. Diskursus ini tidak menjadi pencerdasan. Malah justru menjadi tragedi bagi orang kebanyakan. Peristiwa penting tidak menjadi titik tolak keberangkatan menuju kebaikan bersama melainkan titik degradasi sosial yang semakin mengkhawatirkan.”
Masih berkenaan dengan wacana terorisme yang berkaitan dengan “Peristiwa Bom Kuningan Jilid 2” itu, suara lain muncul dari kalangan jurnalis sendiri. Yang pertama datang dari Wartawan senior Arya Gunawan dalam situs Tempointeraktif, edisi Rabu 5 Agustus 2009. Ia mencatat sejumlah bukti bahwa pemberitaan media massa Indonesia tentang terorisme di tengah aroma budaya kapitalis yang massif sekarang ini kerap tergoda, bahkan terjerumus, ke dalam “gairah berbuat dosa ”. Penandanya adalah banyaknya media massa yang menyebal dari kaidah-kaidah profesionalisme yang diusungnya ketika memberitakan peristiwa terorisme. Standar yang paling dasar dalam kerja jurnalistik, yakni keberimbangan (both-side), akurasi, dan kepatutan ternyata mudah oleng oleh berbagai “kepentingan yang menekan” baik yang datang dari luar lingkaran media massa maupun yang mengemuka dari tubuhnya sendiri. Kasus pemberitaan tentang terorisme sangat tipikal menunjukkan bahwa telah terjadi inkonsistensi dalam tradisi peliputan dan penulisan berita di media massa kita, termasuk oleh media massa yang sejak lama dikenal memiliki kredibilitas tinggi dan sangat taat azas terhadap budaya profesionalisme dalam berjurnalistik. Dilaporkan lebih rinci dalam kolom tersebut, bagaimana media massa kita mengkonstruksi pemberitaan tentang “Peristiwa Bom Kuningan”. Konstruksi pertama, pengabaian terhadap asas kepatutan dan relevansi. Konstruksi kedua, media telah menempatkan dirinya bukan lagi semata-mata sebagai pelapor, melainkan telah bergerak terlalu jauh hingga menjadi interogator, bahkan inkuisitor (salah satu definisi dari istilah terakhir ini adalah a questioner who is excessively harsh alias “seorang pewawancara yang amat kasar”). Inilah salah satu wujud nyata dari apa yang disebut sebagai trial by the press, bahkan ia telah layak digolongkan sebagai teror dalam bentuk lain. Konstruksi ketiga, masih terkait dengan konstruksi nomor dua, akurasi dan kualitas informasi yang cenderung gegabah dan sepihak, dengan hanya mengandalkan informasi dari lembaga-lembaga resmi, seperti kepolisian serta pihak-pihak lain yang merupakan representasi pihak yang berkuasa.
Mengiringi hebohnya wacana terorisme tersebut, banyak kajian dan penelitian ilmiah di tingkat global telah dilakukan para pakar berbagai bidang, yang berusaha menguak misteri di balik wacana terorisme. Diantaranya yang sempat terlacak: Jean Aitchison (2003), dalam New Media Language, menulis laporan penelitian empiriknya “From Armageddon to War: The Vocabulary of Terrrorism”; David L. Altheide (2007) mempublikasikan artikel kajian konseptualnya “The mass media and terrorism” di situs pribadinya; Adam Hodges dan Chad Nilep (2007) menyunting Discourse, War and Terrorism; Richard Jackson (2005) menulis Writing the War on Terrorism: Language, Politics and Counter-terrorism; Elizabeth Arveda Kissling ( 2010) menulis “Street Harassment: The Language of Sexual Terrorism” dalam jurnal Discourse & Society; dan Alexander Spencer (2010) menulis The Tabloid Terrorist : The Predicative Construction of New Terrorism in the Media dalam bentuk ebook. Bambang Trisno Adi (2010) menulis buku berdasarkan disertasinya yang bertajuk Critical Discourse Analysis (CDA) of Terrorism in Newsweek Magazine: Uncovering Connections between Language, Ideology and Power .
Dalam konteks Indonesia, beberapa penelitian ilmiah telah dilakukan berkenaan dengan isu wacana terorisme dalam kaitannya dengan media massa. Heri Budiyanto (2006) menulis artikel di Bulletin Penelitian berdasarkan disertasinya yang berjudul “Perspektif Pemberitaan tentang Terorisme di Indonesia (Analisis Wacana Komparasi di Harian Umum Republika dan Kompas”. Danu Dwi Pemungkas (2009) menulis tesis Pemberitaan Eksekusi Mati Amrozi Cs di Media Asing dan Media Nasional (Analisis Wacana Pemberitaan Situs http://www.theaustralian.news.com.au dan Harian Kompas Tentang Eksekusi Amrozi Cs )”. Roekha Roekhan (2009) menulis disertasi Kekerasan Simbolik di Media Massa. Hizkia Y. S. Polimpung (2010) menulis artikel konseptualnya yang bertajuk “Media, Kapitalisme, dan Terorisme: Sindikat Pembodohan Global” di situs pribadinya. Tidak ada hubungannya dengan wacana terorisme, tetapi berkaitan dengan media online-interacitve, Hamzah (2005) menulis disertasi di Program Studi Linguistik FIB UI tentang Interaksi dan pengembangan topik di dalam cet.
Semua kajian itu, baik di tingkat global maupun nasional, secara umum masih berupa kajian deskriptif dan interpretatif serta dampak-dampak yang ditimbulkannya. Sejauh yang dapat dilacak, belum ada kajian tentang wacana terorisme yang berusaha mencari alternatif praktik berbahasa dan penggunaan media yang yang dapat mengakomodasi kepentingan publik untuk menerima dan memahami serta memproduksi wacana terorisme secara lebih adil dan setara. Penelitian ini mencoba mengisi kekosongan itu, dengan mengajukan topik tentang bahasa dan wacana interaktif: suatu kajian tentang demokratisasi komunikasi melalui tema terorisme.
Dalam penelitian ini, wacana interaktif yasng bertemakan terorisme (selanjutnya disebut “wacana interaktif terorisme”) didefinisikan sebagai satuan bahasa yang utuh, yang berisi berita tentang peristiwa terorisme, yang dikonstruksi dan dipublikasikan oleh media berita online-interactive dengan dukungan teknologi Internet. Sebagai wacana informasional di bidang politik, wacana interaktif terorisme bukan hanya mengandung kesatuan makna antarbagian, yaitu antarkata, antarkalimat, antarparagraf, antara judul dan isi, antara teras berita (lead) dan tubuh berita (body), akan tetapi lebih dari itu: kesatuan makna wacana interaktif terorisme berkaitan juga dengan konteks, kognisi sosial, ideologi, dan relasi kekuasaan yang mengitarinya. Misalnya, ada situasi apa di balik berita tentang terorisme itu dan mengapa media memaparkan konteks itu dengan cara tertentu; siapa saja yang terlibat beropini secara dominan dalam praktik berwacana itu dan apa kepentingannya serta dengan cara bagaimana mereka mewacanakan kepentingannya itu; lalu apa respons pembaca terhadap pemberitaan yang dikonstruksi media dan opini yang berkembang di dalamnya. Pertanyaan terakhir itu, yang merupakan fokus penelitian ini, penting diajukan agar proses pemaknaan tentang wacana terorisme tidak berpusat dan tidak berhenti pada produsen wacana ( dalam hal ini media dan para narasumber dominan), akan tetapi berbagi dan bergeser pada konsumen wacana ( dalam hal ini pembaca).
2. Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang itu, penelitian ini bermaksud melakukan konseptualisasi terhadap komentar pembaca dan berita yang dikonstruksi media di sejumlah media berita OI yang diduga menunjukkan tanda-tanda kesetaraan dalam berkomunikasi. Permasalahan pokoknya: Apakah proses kewacanaan di Internet dalam berita tentang terorisme dapat dikonseptualiasikan sebagai forum demokratisasi komunikasi?
3. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan permasalahan pokok di atas, pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian adalah sebagai berikut.
• Bagaimana informasi tentang terorisme di Internet dimaknai oleh penanggap: apakah informasi itu dipahami sebagaimana dimaksudkan oleh media?
• Faktor apa yang menyebabkan adanya makna tertentu tentang terorisme yang diberikan oleh media dan penanggap?
4. Kebermaknaan Penelitian
Paling tidak, ada empat manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini.
Pertama, adanya rekonstruksi wacana terorisme dalam konteks politik global dan nasional. Pertanyaannya, apakah tepat menandai sekelompok orang dengan teori yang lebih berat segi identitasnya. Persoalannya: apakah rekonstruksi wacana terorisme memungkinkan terbentuknya satu nasionalisme masyarakat internasional atau ini adalah manifestasi dari power relation yang tidak seimbang dalam konteks politik nasional? Dengan melakukan rekonstruksi wacana terorisme yang terdapat di media OI secara kritis, mungkin penelitian ini akan menjadi langkah awal menuju terjawabnya pertanyaan yang tampak masih terselimuti misteri itu.
Kedua, kontribusi teoretik formal yang diharapkan dari penelitian ini adalah mengembangkan teori tentang hubungan antara bahasa, media, dan teknologi komunikasi. Benarkah proposisi yang menyatakan bahwa relasi bahasa, media, dan teknologi komunikasi bisa digunakan sebagai piranti demokratisasi dan penetrasi kesetaraan dan keadilan? Bila benar, prasyarat apa yang harus dipenuhinya? Paragdigma CDA dipandang berpotensi untuk mendeskripsikan, menginterpretasikan, dan mengeksplanasikan relasi idealistik itu.
Ketiga, kontribusi teoretik substantif yang diharapkan dari penelitian ini adalah memberikan alternatif pemahaman deskriptif dan kritis tentang wacana terorisme sebagaimana dituturkan dan ditafsirkan oleh para pelaku tutur di media berita OI.
Keempat, secara praktis, penelitian ini bermanfaat karena akan menunjukkan alternatif media yang dapat mengakomodasi kepentingan masyarakat dalam proses pemaknaan tentang wacana terorisme secara lebih setara, adil, interaktif, dan prosemen (gabungan sisi pandang produsen dan konsumen).
5. Data
Data primer penelitian ini, sebagai objek kajian sekaligus sebagai korpus penelitian, berupa 1159 komentar pembaca yang terdapat di dalam 25 berita yang dikonstruksi media yang berisi pemberitaan-pemberitaan tentang terorisme di media berita OI. Ada delapan media berita OI yang dijadikan sumber perolehan data, yaitu Arrahmah.com, Detik.com, okezone.com, Kompas.com, Republika Online, Tempointeraktif, Rakyat Merdeka online, dan vivanews.com, dengan asumsi kedelapan media tersebut merepresentasikan latar ideologi yang relatif berbeda serta segmen pembaca yang beragam. Secara tematis, objek penelitian ini adalah wacana berita tulis tentang terorisme yang dipubliksikan oleh delapan media OI tersebut, dengan alasan: tema terorisme merupakan isu yang hangat dan cenderung kontroversial sepanjang dekade terakhir ini. Secara topikal, objek penelitian ini memfokuskan pada berita tentang pidato Presiden SBY yang berkaitan kejadian peledakan bom di Hotel JW. Marriot dan Ritz Carlton, yang dikenal dengan sebutan “Peristiwa Bom Kuningan Jilid 2”, yang terjadi pada Jumat 17 Juli 2009, dengan alasan: topik tersebut sangat tipikal mencerminkan terjadinya irisan antara peristiwa terorisme di satu sisi dengan peristiwa politik (dalam hal ini Pilpres 2009) di sisi lain, sehingga dipandang cocok untuk dijadikan objek kajian CDA yang notabene sarat dengan muatan ideologi. Ada pun teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara memilih dan mengkopi semua wacana terpublikasi (published discourse) di media berita OI yang dijadikan sumber perolehan data, yang relevan dengan tema dan topik objek penelitian.
Uraian tentang data tersebut digambarkan sebagai berikut.
Gambar 1 Data Wacana Interaktif

6. Tinjauan Metodologi
Paradigma yang digunakan di dalam penelitian yang berperspektif kualitatif dan berjenis studi kasus ini adalah paradigma kritis (Fairclough, 1995; van Dijk, 1993), dengan asumsi bahwa wacana terorisme merupakan wacana yang berada di ranah politik yang sarat dengan muatan ideologi dan relasi kekuasaan. Adapun metodologinya mengikuti prosedur dan teknik Grounded Theory (GT), dengan alasan karakteristik permasalahan penelitian ini lebih pada upaya konseptualiasi dan pengembangan teori substantif tentang Internet sebagai forum demokratisasi komunikasi yang bermula pada pengumpulan data, berlanjut dengan pengkodean dan analisis data, dan bermuara pada interpretasi data (Strauss & Cobin, 1990: 17-32).
Ada enam tahapan dalam prosedur penelitian ini: pengumpulan data, pengkodean data, analisis data, penyimpulan, generalisasi, dan interpretasi, sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 1 berikut.
No. TAHAPAN DESKRIPSI
1 Pengumpulan data mengumpulkan wacana terpublikasi (published discourse) di media berita OI yang dijadikan sumber perolehan data, dilakukan dengan cara mengumpulkan salinan (hardcopy) wacana terorisme yang berupa komentar pembaca dan berita yang dikonstruksi media sebagai data primer.
2 Pengkodean data Melakukan pengkodean terbuka (open coding), pengkodean axial (axial coding) dan pengkodean selektif (selective coding)
3 Analisis Data Melakukan analisis data berdasarkan sinsitifitas teoritis (theoretical sensitivity) paradigma CDA Fairclough dan van Dijk
4 Penyimpulan mengembangkan pemahaman teoretik substantif (substantive theory) dengan cara mengaitkan tahapan-tahapan tindakan/interaksi, membuat matriks kondisional, dan terakhir merancang percontoh teoretis.
5 Generalisasi mengembangkan pemahaman teoretik formal (formal theory). Langkah pengembangan pemahaman teoretik formal dilakukan dengan cara menghapuskan muatan substantif (substantive content) dalam model teoretik yang diajukan, sehingga perhatian dan pemikiran tertuju pada sejumlah konstruk formal (formal constructs).
6 Interpretasi tahap interpretasi terhadap teks ini melibatkan dua elemen dasar, yaitu teks dan penafsiran peneliti. Dalam hal ini, interpretasi muncul lewat kombinasi antara apa yang tertera pada teks dan apa yang ada di kepala peneliti sebagai penafsir.

Secara garis besar, prosedur dan teknik penelitian dalam kajian ini dapat diringkas sebagai berikut.
Gambar 2 Ikhtisar Prosedur dan Teknik Penelitian
MASUKAN  PROSES  LUARAN 

 BALIKAN

7. Batasan Penelitian
Kajian ini tergolong jenis penelitian studi kasus, sehingga temuannya tidak dapat digunakan untuk membuat generalisasi yang lebih luas tentang hubungan bahasa, media, dan teknologi komunikasi. Meskipun begitu, temuan penelitian dapat dijadikan salah satu indikator yang relatif terpercaya dari berbagai kemungkinan dan kecenderungan yang ada.
Secara metodologis, penelitian ini juga hanya mengandalkan dokumen terpublikasi, sehingga tingkat keutuhan datanya masih terbuka untuk dilengkapi dengan metode lain, seperti wawancara, observasi, dan survey. Meskipun begitu, data primer yang berupa dokumen terpublikasi yang dijadikan bahan analisis dalam penelitian ini, menurut paradigma CDA dan prosedur Grounded Theory, dipandang representatif untuk kepentingan pencapaian tujuan penelitian ini, yakni melakukan konseptualisasi tentang suatu fenomena dalam konteks tertentu.

8. Definisi Operasional
Bahasa:
Dalam penelitian ini konsep bahasa dipahami sebagai sebuah sistem komunikasi yang membuat manusia dapat berinteraksi untuk berbagai kepentingan. Ada tiga kata kunci dalam pengertian tentang bahasa tersebut: sistem komunikasi, interaksi, dan kepentingan. Sistem komunikasi menunjuk pada satuan kosakata, struktur gramatikal, dan struktur teks. Interaksi menunjuk pada adanya hubungan minimal diadik antar partisipan serta hubungan antara teks dan konteks. Kepentingan mengacu pada muatan makna, pesan, dan ideologi.

Wacana interaktif:
Dalam penelitian ini konsep wacana interaktif didefinisikan secara operasional sebagai proses kewacanaan yang berlangsung di media berita OI, yang berisi berita yang dikonstruksi media dan komentar yang diungkapkan pembaca.
Demokratisasi komunikasi:
Dalam penelitian ini konsep demokratisasi komunikasi didefinisikan secara operasional sebagai posisi kesetaraan atau simetris antara partisipan dalam proses kewacanaan.
Tema terorisme:
Dalam penelitian ini tema terorisme menunjuk pada berita dan komentar di media OI yang berkaitan dengan peristiwa terorisme.

Wacana Terorisme dalam Perspektif Pragmatik

WACANA TERORISME DALAM PERSPEKTIF PRAGMATIK

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Diketahui bahwa pemberitaan media massa tentang terorisme di tengah aroma budaya kapitalis yang massif sekarang ini kerap tergoda, bahkan terjerumus, ke dalam “gairah berbuat dosa ” (meminjam istilah Arya Gunawan dalam kolom Tempointeraktif, Rabu 5 Agustus 2009). Penandanya adalah banyaknya media massa yang menyebal dari kaidah-kaidah profesionalisme yang diusungnya ketika memberitakan peristiwa terorisme. Standar yang paling dasar dalam kerja jurnalistik, yakni keberimbangan (both-side), akurasi, dan kepatutan ternyata mudah oleng oleh berbagai “kepentingan yang menekan” baik yang datang dari luar lingkaran media massa maupun yang mengemuka dari tubuhnya sendiri. Kasus pemberitaan tentang terorisme sangat tipikal menunjukkan bahwa telah terjadi inkonsistensi dalam tradisi peliputan dan penulisan berita di media massa kita, termasuk oleh media massa yang sejak lama dikenal memiliki kredibilitas tinggi dan sangat taat azas terhadap budaya profesionalisme dalam berjurnalistik.
Dalam tatapan Eric Hobsbawm (1997), fenomena inkonsistensi itu merupakan tradisi yang tidak semata-mata merupakan peninggalan masa lalu, tetapi ada tradisi yang diciptakan kembali untuk alasan tertentu, antara lain untuk kepentingan penguasa. Sumber penciptaan tersebut memang berasal dari masa lalu, dapat berupa ritual di masa yang lampau, cerita fiksi, simbolisme agama, dan yang sejenisnya. Tradisi yang diciptakan kembali itu biasanya diformalkan dan diinstitusikan oleh penguasa, dilakukan dengan pola yang berulang-ulang untuk mengukuhkan bahwa tradisi tersebut berasal dari masa lalu, padahal sebenarnya baru diciptakan.
Dengan berbekal perspektif Eric Hobsbawm itu, mari kita bongkar, bagaimana media massa kita mengkonstruksi pemberitaan tentang terorisme dalam kasus peledakan Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, akhir Juli 2009 lalu. Paling tidak, ada tiga konstruksi pemberitaan yang menyebabkan berubahnya wajah media massa kita yang hampir selalu menghantui dan dapat memerangkap media jika berhadapan dengan peristiwa terorisme seperti pengeboman yang terjadi di Mega Kuningan ini. Banyak faktor yang menjadi penyebab munculnya perangkap tersebut, antara lain “perlombaan” mengejar kecepatan dan eksklusivitas berita sehingga mereka tak terlalu awas lagi terhadap nilai-nilai yang dikedepankan oleh etika jurnalisme (misalnya saja pentingnya akurasi, juga sikap untuk selalu mengupayakan kepatutan/decency). Di tengah perlombaan yang dipicu oleh iklim kompetisi sangat ketat semacam ini, yang lebih tampil adalah hal-hal sensasional, yang bermuara pada aspek komersial, dan tersingkirkanlah nilai-nilai ideal. Faktor lainnya adalah “kemalasan” wartawan untuk melakukan verifikasi guna menawarkan sebuah kontra-teori atas apa yang disampaikan oleh lembaga-lembaga resmi (dalam kasus bom Mega Kuningan, yang mendominasi adalah versi resmi dari pihak kepolisian).
Konstruksi pertama, yang dilakukan media dalam konteks laporan bom Mega Kuningan ini adalah pengabaian terhadap asas kepatutan. Ini tampak nyata, terutama pada media televisi, di mana gambar-gambar yang seharusnya tidak patut ditampilkan (misalnya saja gambar yang menunjukkan bagian-bagian tubuh yang telah terpenggal terkena bom) tetap terpampang. Keprihatinan yang serius telah disuarakan oleh Dewan Pers begitu tayangan tersebut muncul. Sebagian besar media kemudian mendengarkan kritik ini, namun sebagian lainnya masih sempat berlenggang kangkung, business as usual.
Konstruksi kedua, media telah menempatkan dirinya bukan lagi semata-mata sebagai pelapor, melainkan telah bergerak terlalu jauh hingga menjadi interogator, bahkan inkuisitor (salah satu definisi dari istilah terakhir ini adalah a questioner who is excessively harsh alias “seorang pewawancara yang amat kasar”). Inilah yang dengan mencolok diperlihatkan oleh sejumlah stasiun televisi saat para reporternya melakukan wawancara terhadap sejumlah anggota keluarga atau kerabat dari nama-nama yang diduga oleh pihak kepolisian terlibat dalam aksi pengeboman itu. Para sanak keluarga dan kerabat ini seperti tengah mengalami mimpi buruk: hidup yang semula barangkali aman-tenteram, seketika terusik oleh kehadiran para juru warta yang dengan agresif berupaya mendapatkan keterangan–apa pun bentuk keterangan itu–dari mereka.
Media tentu boleh-boleh saja mencari informasi dari mereka, namun harus dengan pertimbangan masak, setidaknya untuk dua hal: (a) relevansi (misalnya, apakah seorang paman dari salah seorang yang disebut-sebut terlibat dalam aksi itu cukup relevan untuk dijadikan narasumber, apalagi sang paman kemudian mengaku sudah 10 tahun tak pernah lagi berhubungan ataupun mendengar kabar mengenai keberadaan sang keponakan); dan (b) cara mengorek informasi. Untuk butir terakhir ini, yang hadir ke hadapan khalayak adalah kesan bahwa pihak yang diwawancarai ditempatkan seolah-olah sebagai pesakitan. Inilah salah satu wujud nyata dari apa yang disebut sebagai trial by the press, bahkan ia telah layak digolongkan sebagai teror dalam bentuk lain.
Masih terkait dengan konstruksi nomor dua ini, perkembangannya kemudian malah kian runyam, yakni ketika tiba-tiba pihak berwajib menyebutkan bahwa nama-nama yang semula diduga terlibat dalam aksi pengeboman itu ternyata keliru. Tidak tampak rasa bersalah, apalagi permintaan maaf terbuka, dari kalangan media yang sebelumnya telah menjalankan peran inkuisitor tadi. Padahal para sanak keluarga dan kerabat itu telah terpapar begitu terbuka ke publik, telah menjadi buah bibir di mana-mana dan bukan tak mungkin telah dijauhi oleh lingkungannya. Damage has been done, dan seakan tak ada upaya dari pihak yang merusak untuk menata kembali kerusakan itu.
Untuk konstruksi pertama dan kedua, obat penawarnya adalah pemahaman terhadap nilai-nilai dan praktek penerapan etika jurnalisme. Setiap lembaga media perlu menerbitkan pedoman internal penerapan etika jurnalisme ini. Setiap wartawan wajib mempelajarinya dan memahami isinya, bila perlu dengan membuat pelatihan khusus mengenai etika dengan berbagai studi kasus yang konkret bagi setiap wartawan baru. Bila perlu, ditambahi pula dengan kontrak kerja yang mencantumkan bahwa si pemegang kontrak wajib mematuhi etika jurnalisme, dan bisa dikenai sanksi tegas jika mengabaikannya. Dengan segala cara ini, nilai-nilai etika jurnalisme menjadi terinternalisasi alias melekat pada diri setiap wartawan, sehingga mereka tahu persis apa yang mesti dilakukan jika diperhadapkan dengan berbagai dilema yang terkait dengan etika jurnalisme dalam tugas mereka sehari-hari.
Adapun konstruksi yang ketiga adalah kemalasan media untuk mencari alternatif versi cerita di luar apa yang disorongkan oleh lembaga resmi. Untuk mendapatkan versi alternatif ini, tentu saja diperlukan upaya ekstrakeras dari media untuk terus menggali informasi dari berbagai sumber, untuk melakukan verifikasi tanpa bosan, untuk tetap skeptis alias tidak menelan mentah-mentah informasi yang diterima, termasuk–tepatnya, apalagi–yang datang dari pihak resmi. Konstruksi ketiga ini sebetulnya terkait dengan konstruksi kedua. Jika media melakukan pertobatan untuk sekuat tenaga menghindar dari konstruksi ketiga ini, hampir pasti media juga akan terhindar dari konstruksi kedua. Sebab, media pasti tidak akan terburu-buru menggeruduk sanak keluarga dari mereka yang dituduh terlibat dalam aksi pengeboman itu, sebelum diperoleh petunjuk sangat kuat yang mengarah pada nama-nama tersebut .

Sebetulnya, perangkap tiga konstruksi seperti ini tak perlu lagi terjadi dalam kasus bom Mega Kuningan ini, karena bukan pertama kalinya media di Indonesia melaporkan peristiwa pengeboman. Kasus Kartosuwiryo dengan DI/TII pada zaman Orde Lama telah memunculkan sebutan “Gerombolan”, lalu zaman Orde Baru muncul sebutan Komji (Komando Jihad), dan terakhir, pada zaman reformasi ini mencuat sebutan “terorisme”. Semuanya itu mengacu kepada aksi, tindakan, perilaku yang sama: perlawanan kalangan militant Islam terhadap penguasa. Dalam ungkapan Eric Hobsbawm (1997), ada tradisi yang “dipelihara” untuk kepentingan dominasi dan kelanggengan kekuasaan. Dan itu dimunculkan berulang-ulang untuk mengukuhkan bahwa tradisi tersebut berasal dari masa lalu, padahal sebenarnya baru diciptakan.

B. FOKUS DAN TUJUAN PENELITIAN
Secara hipotetik, konflik pendapat (ragam pemaknaan) tentang wacana terorisme di media berita interaktif online terjadi karena konstruksi pragmatik yang berkaitan dengan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan yang terdapat dalam pemberitaan tentang terorisme di media berita interaktif di Indonesia telah banyak dilanggar dengan motif ideologis, baik oleh pembuat berita (media) maupun oleh pembacanya (komentator). Karena itu, pertanyaan umum yang kemudian menjadi sangat penting untuk dijawab adalah: sejauh mana prinsip-prinsip kerja sama dan kesantunan telah dilanggar oleh para pelaku tutur dalam wacana terorisme di media berita interaktif dan implikatur serta motif ideologis apa yang timbul akibat pelanggaran itu? Secara lebih spesifik, fokus penelitian ini adalah: (1) bagaimana media dan pembaca merealisasikan prinsip kerja sama di dalam wacana terorisme yang terdapat di media berita interaktif? (2) bagaimana media dan pembaca merealisasikan prinsip kesantunan di dalam wacana terorisme yang terdapat di media berita interaktif? (3) Implikatur apa yang timbul akibat realisasi prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan itu? (4) Sejauh mana implikatur yang timbul itu merepresentasikan ideologi pelaku tutur?
Bertolak dari rumusan masalah tersebut, penelitian ini secara umum bertujuan untuk memperoleh pemahaman deskriptif dan interpretatif tentang wacana terorisme menurut perspektif sosiopragmatik. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah: (1) menghasilkan pemahaman deskriptif dan interpretatif tentang realisasi prinsip kerja sama di dalam wacana terorisme yang terdapat di media berita interaktif? (2) menghasilkan pemahaman deskriptif dan interpretatif tentang realisasi prinsip kesantunan di dalam wacana terorisme yang terdapat di media berita interaktif? (3) menghasilkan pemahaman deskriptif dan interpretatif tentang implikatur yang ditimbulkan oleh realisasi prinsip kerja sama dan kesantunan di dalam wacana terorisme yang terdapat di media berita interaktif? (4) menghasilkan pemahaman deskriptif dan interpretatif tentang implikatur yang merepresentasikan ideologi pelaku tutur.
C. KEBERMAKNAAN PENELITIAN
Kontribusi teoretik formal yang diharapkan dari penelitian ini adalah mengisi kekosongan teori tentang hubungan bahasa dan ideologi dalam konteks struktur competitive power. Benarkah proposisi yang menyatakan bahwa bahasa dan atau praktik wacana bisa digunakan sebagai piranti pemerolehan dukungan kekuasaan dan penentrasi ideologi? Bila benar, prasyarat apa yang harus dipenuhinya? Perspektif sosiopragmatik dipilih karena dipandang berpotensi untuk mengoreksi proposisi simplisistik tentang hubungan bahasa dan ideologi.
Kontribusi teoretik substantif yang diharapkan dari penelitian ini adalah memberikan pemahaman deskriptif dan interpretatif terhadap wacana terorisme sebagaimana dituturkan dan ditafsirkan oleh para pelaku tutur di media berita interaktif. Lebih spesifik, kajian ini menambah berbagai studi tentang hubungan bahasa, politik, budaya, dan ideologi seperti karya: John J. Gumperz (1982), Michael Stubbs (1983), Haliday & Hasan (1989), Noam Chomsky (1991, 2003), Jan Renkama (1993), ( Jacob L. Mey (1993), Teun van Dijk (1994,1998, 2007), Habermas (1994), George Yule (1996), John B. Thomson (2003), F.X. Rahyono, dkk (2005), Pierre Bourdieu (2007).
Secara praktis penelitian ini bermanfaat tidak hanya sebagai bahan perenungan bagi elit politik dan para penguasa yang duduk di pemerintahan, tetapi juga bagi seluruh bangsa untuk tidak lagi terjebak dalam berbagai bentuk konflik pendapat yang kontra produktif, termasuk tidak memancing konflik dengan pernyataan-pernyataan yang bersifat controversial dan emosional, sehingga mendorong pihak pihak tertentu yang merasa tersinggung, terancam muka, teraniaya, dan terzalimi melakukan tidak kekerasaan terorisme. Apalagi dalam budaya kita dikenal semacam kearifan, bahwa “terror kata-kata”, boleh jadi, lebih kejam dan menyakitkan daripada tindakan terorisme itu sendiri.

D. ACUAN TEORETIS
Terorisme: Definisi Operasional
Kata “terorisme” adalah turunan dari kata “teror”, yang, menurut Oxford English Dictionary berarti “rasa takut ekstrim”. Bentuk kata kerja nya “meneror”, yang berarti “Mengancam dan menakut-nakuti” (Soanes, 2002). Bentuk personifikasi katanya, yaitu, teroris, yang berarti “orang yang mengancam atau yang membuat rasa takut”. Dengan demikian, mengingat definisi kamus tersebut, misalnya, seorang ayah yang mengancam anaknya dengan hukuman karena perilaku yang buruk; suami atau istri yang mengancam satu sama lain dengan perceraian karena perselingkuhan; dosen yang mengancam mahasiswa dengan kegagalan karena ketidakhadiran dalam kuliah kuliah, semuanya dapat disebut “teroris”.
Namun, ketika kata tersebut digunakan dalam konteks khas politik, kita mulai menemukan sebuah fenomena khusus yang telah menjadi obyek berbagai analisis, definisi, komentar, kebencian, pujian, kutukan, persetujuan, dan penolakan. Dengan kata lain, “terorisme” adalah istilah yang bermuatan emosi tinggi, untuk menyampaikan banyak hal untuk orang yang berbeda. Karena itulah, dalam tatapan ahli teori dan praktisi politik, posisi seseorang berdiri dalam spectrum social politik akan sangat menentukan bagaimana ia mendefinisikan kata “terorisme”, sehingga keragaman pemaknaan menjadi niscaya. Di tengah keragaman pemaknaan tersebut, satu hal tampaknya menjadi jelas, terorisme adalah sebuah bentuk kekerasan, dan seperti umumnya kekerasan, hal itu menyebabkan cedera pada kehidupan manusia dan properti.
Sebagaimana telah kita lihat di atas, kata “terorisme” mengandung dua jenis definisi; ada definisi yang sempit dan ada definisi yang luas. Definisi sempit membatasi definisi terorisme dengan tindakan fisik manusia yang menyakitkan dan menimbulkan luka fisik pada korban-korban mereka. Ini adalah jenis definisi yang lazim, baik di masa lalu maupun dalam situasi saat ini. Misalnya, definisi sempit seperti ini kerap digunakan untuk menunjuk tindakan mengancam dan menyebarkan rasa takut yang dilakukan oleh tentara yang deserse dari pasukannya (Hughes, 1983:5); penggunaan kekerasan illegal untuk mencapai tujuan politik (Apter, 1979: 18); aksi kekerasan bermotif politik yang dilakukan oleh kelompok sempalan/militant tertentu (USDoS “Patterns of Global Terrorism”, 2003).
Salah satu kelebihan definisi sempit dari terorisme adalah ujud konkret nya, karena indikatornya jelas: pembunuhan, pengeboman, pembajakan, dan sandera. Gambaran terorisme berdasarkan definisi sempit inilah yang sekarang ini dipahami banyak orang.
Namun, ketika “terorisme” dilihat dari perspektif yang luas, orang mulai melihat ketidakmampuan definisi sempit itu menggambarkan konteks terorisme yang sebenarnya. Kelemahan pertama dalam sempit definisi ini adalah hanya membatasi terorisme terhadap efek tindakan yang menimpa korban, tanpa mempertimbangkan penyebab atau motif tindakan tersebut. Konsekuensi seperti konsepsi terorisme dan faktor agen, yaitu, yang melakukan terorisme dan alasan untuk tindakan tersebut dihilangkan. Dimasukkannya faktor agen dalam definisi terorisme yang memadai telah mempertajam kontroversi yang mengelilingi definisi terorisme. Namun, faktor ini sangat penting jika kita ingin menangkap cukup realitas terorisme sebagai sebuah fenomena yang spesifik yang berproses. Jadi, dalam tatapan definisi yang lebih luas, terorisme mungkin merupakan tindakan individu atau kelompok atau bahkan pemerintah. Misalnya, pemerintah menjelma sebagai teroris manakala mengadopsi kebijakan serangan mendahului terhadap sasaran-sasaran yang potensial terlibat dalam terorisme dan memiliki kapasitas melakukan pengeboman atau aksi kekerasan lainnya (Bamikole, 2009: 1).
Berdasarkan uraian di atas, ada sejumlah kata kunci yang bermuatan emosi tinggi yang melekat pada definisi “terorisme”, yaitu, ketakutan, kekerasan, kebencian, kutukan, penolakan, ancaman, tekanan, cedera, sandera, pengeboman, pembajakan, pembunuhan, faktor agen, alasan bertindak, dan motif politik. Dalam penelitian ini, terorisme tidak dipahami sebagai tindakan yang bersifat badaniah yang didorong oleh kondisi-kondisi kejiwaan tertentu, akan tetapi secara operasional mewujud dalam tindakan komunikasi verbal wacana interaktif di media massa, sehingga kata-kata kunci yang melekat pada definisi terorisme itu mengalami semacam proses modifikasi, yakni disesuaikan dengan karakteristik komunikasi verbal, sambil tetap mempertahankan substansi maknanya. Asumsinya, semua kata-kata kunci yang melekat sebagai penanda ‘terorisme” itu bisa muncul dalam bentuk wacana: baik di tataran kata, kelompok kata, maupun kalimat.
Terorisme dalam Wacana
Memberikan atau mencari makna wacana tertentu pada dasarnya adalah sebuah proses semiosis. Dalam perspektif semiotik, wacana pada dasarnya adalah sekumpulan tanda (signifier [Saussure], representamen [Peirce] ) yang menunjuk pada arti (signified [Saussure], object [Peirce] ) tertentu, dan selanjutnya menunjuk pada arti atau interpretasi (interpretant [Peirce] ) lain yang kadangkala tak terbatas. Demikianlah manusia menciptakan sebuah wacana untuk menghadirkan arti tertentu, untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, norma, nilai, atau keyakinan mereka. Dalam arti itu maka produk wacana adalah representasi budaya, yaitu aktivitas penggunaan tanda-tanda budaya yang membawa atau menghadirkan arti tertentu yang disepakati oleh suatu masyarakat. Dengan kata lain, wacana adalah sistem arti yang dimiliki bersama oleh suatu masyarakat, yang direpresentasikan melalui tanda-tanda bahasa, dimana tanda-tanda bahasa itu bisa bekerja secara semiotis melalui a signifying order.
Signifying order, menurut Danesi dan Perron, adalah sistem yang kompleks tentang tipe-tipe yang berbeda mengenai tanda yang, dengan cara yang bisa diketahui, melekat pada pola-pola representasi yang bisa digunakan oleh individu dan kelompok untuk membuat atau mengganti sejumlah pesan. Dirumuskan dengan bahasa lain, signifying order adalah sistem kognitif seseorang atau masyarakat yang mendasari hubungan antartanda sehingga tanda itu bisa mengandung arti atau pesan. Dengan sistem kognitif itulah seseorang atau masyarakat bisa memahami (pesan atau arti) sebuah tanda, dan dapat menggunakannya untuk menyampaikan atau menerima pesan tertentu.
Ketika seseorang mendengar atau membaca kata “terorisme”, di tingkat pertama mungkin ia memaknainya sebagai “tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang memperjuangkan ideologinya secara radikal”. Tanpa memaknainya secara definitif, bagi sebagian besar orang mungkin langsung menghubungkannya dengan sosok Dulmatin, Noordin M. Top, Dr. Azhary, Imam Samudera, dan Amrozi. Pemaknaan tersebut akan kian melebar manakala variabel “kepentingan” dan “kekuasaan” menghinggapinya. Pihak pemerintah misalnya, yang representatif diwakili oleh lembaga kepolisian, cenderung membangun konotasi negative terhadap kata “terorisme”, sementara kalangan “Islam fundamentalis” berusaha membelanya, atau paling tidak menetralisirnya. Demikian pula pemaknaan beragam yang muncul di media: ada yang berusaha netral, ada yang terjerumus pada pemaknaan yang negatif, ada juga sedikit media yang berusaha membelanya secara positif dengan nada tidak langsung, sebagai cerminan sikap “takut-takut” atau “malu-malu”.
Dalam kaitan itu adalah penting menggarisbawahi konsep Danesi dan Perron tentang representasi. Berbeda dengan pengertian umum tentang representasi, yang biasanya diartikan sebagai “menghadirkan sesuatu (kembali)” atau “menghadirkan arti suatu tanda”, representasi Danesi dan Perron adalah aktivitas menggunakan tanda dalam hubungannya dengan kemungkinan-kemungkinan arti yang dikandung tanda itu sendiri. Dalam arti itu maka wacana terorisme adalah representasi budaya dalam pengertian umum, dan melihat wacana terorisme sebagai tanda semiotis dalam hubungannya dengan makna-makna yang dikandungnya adalah representasi budaya dalam pengertian Danesi dan Perron. Aktivitas memaknai tanda ini —atau representasi dalam pengertian Danesi dan Perron— ditentukan atau diarahkan oleh signifying order, yang sendirinya juga merupakan produk budaya.
Representasi wacana terorisme dalam pengertian Danesi dan Perron —jadi, aktivitas memaknai wacana terorisme sebagai tanda semiotis— dapat dijelaskan dengan signifying order wacana terorisme itu sendiri. Dalam konteks ini, Danesi dan Perron meminjam konsep-konsep semiotik dari tokoh-tokoh semiotik dan linguistik terkemuka, khususnya Saussure dan Peirce. Perspektif Saussurean menjelaskan signifikasi wacana terorisme sebagai penanda yang menunjuk pada petandanya. Sementara itu, perspektif Peircean memberikan penjelasan lebih kompleks. Dalam perspektif Peircean, arti (meaning) terorisme berada pada tataran interpretan, yaitu misalnya kekerasan, kalangan Islam radikal, symbol perlawanan terhadap Amerika Serikat, dan realiasi jihad. Di sini, lahirnya interpretan-interpretan tersebut dimungkinkan karena terorisme adalah legisign. Legisign adalah tanda yang objek dan interpretannya ditentukan oleh konvensi atau kode sosial. Peirce membedakannya dengan qualisigns dan sinsign. Qualisign adalah tanda yang memberikan kualitas pada, atau memperoleh arti setelah menyatu (embodied) dengan objek (misalnya warna merah pada bendera). Sedangkan sinsign adalah tanda individual yang digunakan dan bisa dimaknai secara subjektif oleh penerima tanda.
Selanjutnya, masih dalam perspektif Peircean, karena wacana terorisme adalah legisign maka interpretan yang dihasilkannya adalah argument, yaitu penafsiran yang secara sosial-budaya bisa dibuktikan benar. Adalah benar bahwa pelaku teror adalah seorang Muslim, taat beragama (setidaknya dalam hal menjalankan perintah pokok dalam beragama), dan sangat memusuhi Amerika Serikat. Inilah hasil dari proses semiosis yang diarahkan atau ditentukan oleh signifying order wacana terorisme sebagai representasi budaya. Jika ternyata interpretan itu keliru, misalnya bahwa ternyata si teroris bukan seorang Muslim, maka bisa dipastikan proses signifying order tidak bekerja sesuai dengan konvensi sosial dan kode budaya, sebab tanda (wacana terorisme) yang dibicarakan adalah legisign. Dikatakan dengan kalimat lain, sebuah interpretan legisign bisa keliru manakala komponen-komponen penandaannya tidak mengikuti konvensi, kode, atau ketentuan yang diterima secara sosial, atau ada penyimpangan dalam signifying order legisign itu sediri.
Sampai di sini, kita tidak menghadapi kesulitan baik teknis maupun teoretis dalam proses pemaknaan wacana terorisme sebagai tanda semiotis atau representasi budaya. Signifying order menyediakan perangkat teoretis yang memadai tentang tata kerja (sintaksis) tanda dan tata pemaknaan (semantik)-nya.
Lebih jauh, dengan menggunakan konsep the signifying order Danesi dan Perron, kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan konsep konotasi dan anotasi. Konotasi adalah perluasan secara bebas cakupan arti sebuah objek melalui asosiasi atau analogi. Sedangkan anotasi adalah bentuk konotasi yang makna emotifnya tergantung pada nada dan konteks tertentu. Jika wacana adalah proses sistem penandaan, dan penelusuran semiotis ingin menunjukkan bagaimana tanda merujuk pada dunia atau makna (signifikasi), maka konsep signifying order dengan baik bisa menjelaskan aspek sintaksis sistem penandaan. Tetapi, menghadapi legisign atau tanda-tanda individual, semiotika menghadapi tantangan teoretis untuk merumuskan atas dasar apa sebuah tanda individual merujuk pada suatu dunia atau makna dan perangkat teoretis apa yang bisa digunakan untuk menguji bahwa hasil penelusuran semiotis bisa diterima. Tantangan teoretis ini diajukan dalam hubungannya dengan Danesi dan Perron, karena signifying order yang mereka kemukakan mengasumsikan tendensi esensilistis, yaitu bahwa pada tanda selalu ada esensi yang dapat ditemukan melalui investigasi semiotis yang cermat dan saksama.
Wacana terorisme hanyalah satu contoh atau kasus, bahwa investigasi semiotis atas sebuah tanda bisa mencapai penafsiran yang meyakinkan pada tataran konvensi sosial dan kode budaya —yang prosesnya diarahkan oleh signifying order— sekaligus membuktikan bahwa, pada tataran tanda individual, investigasi semiotis tidak bisa mencapai penafsiran yang sama meyakinkannya —yang antara lain disebabkan oleh keterbatasan perangkat teoretis signifying order dan semiotik secara umum. Ini juga membuktikan bahwa strukturalisme (baca: analisis struktural) masih relevan untuk kajian wacana, tentu dengan segala keterbatasannya.
Berbeda dari kecenderungan umum ilmu sosial-politik yang lebih menggunakan penghampiran positivistik dan atau behavioristik, penelitian linguistik ini mengajukan konsep signifying order dengan basis hermeneutika. Dalam konsep ini, praktik berbahasa dan berwacana niscaya dimaksudkan untuk mencapai tujuan tertentu (Fowler, 1991: 41-42). Gejala ini yang kemudian melahirkan pragmatika (pragmatics).
Makna suatu ungkapan, menurut tafsir perspektif pragmatik harus ditelusur dalam dunia gagasan penutur atau penulisnya. Bila pengkaji berupaya mengungkap makna wacana bertolak dari penutur atau penulisnya, berarti menggunakan penggolongan yang oleh Fay (1996) pengkaji tersebut telah menerapkan perspektif pragmatika, yang tidak lain adalah hermeneutika-intensional (intentional-hermeneutics).
Persoalannya, dalam tatapan pragmatik, walaupun suatu wacana atau wicara ditulis atau dituturkan oleh seseorang, sesuai dengan hakikat bahasa, bagian terbesar dari wacana tidak ditujukan untuk diri sendiri. Dengan demikian, makna sebenarnya suatu wacana atau wicara justru harus dipahami sebagaimana ditafsirkan oleh pasangan komunikasinya. Berdasarkan pemaknaan yang diberikan terhadap wacana yang dilontarkan oleh pasangan komunikasinya, maka dalam tatapan pragmatik makna wacana bukan lagi sekadar maksud (intention) penutur, tetapi juga penerimaan (perception) pendengar. Secara teoretis, gejala inilah yang penting dan menarik perhatian saya, sehingga dalam penelitian ini mengajukan perspektif pragmatik dalam menghampiri wacana terorisme.
E. DATA DAN ANALISIS
Sumber Data
Data penelitian ini bersumber dari pemberitaan-pemberitaan tentang terorisme di media berita interaktif online, baik yang bersifat memulai (prior discourse) maupun yang bersifat menanggapi wacana (counter discourse). Ada tiga media berita interaktif online yang dijadikan sumber perolehan data, yaitu Kompas.com, Republika Online, dan Arrahmah.com, dengan asumsi ketiga media tersebut merepresentasikan latar ideology yang berbeda. Satuan kajian atau unit analisis penelitian ini adalah wacana berita tulis tentang terorisme yang dipubliksikan oleh tiga media tersebut.
Proses Pengumpulan dan Analisis Data
Dengan menggunakan kategorisasi menurut Thomas(1997), bukti pragmatik (pragmatics evidence) dalam penelitian ini dikategorikan menjadi tiga, yaitu: (1) data yang tersedia dalam bahasa yang diproduksi (pilihan pronomina, pilihan bentuk arah tuturan, penggunaan kalimat taklangsung, penggunaan tamengan ), (2) data yang tidak tersedia dalam bahasa yang diproduksi (implikatur percakapan dan kesantunan berupa: motivasi, ketidakpastian makna dan kekuatan pragmatis, penafsiran dari ucapan-ucapan, keberadaan mekanisme penalaran informal), (3) data yang bersandar pada intuisi peneliti atau retrospeksi pada pihak peserta dalam interaksi (Efek perlocutionary suatu ucapan pada pendengar/pembaca, komentar eksplisit oleh si pembicara/penulis, komentar eksplisit oleh orang lain selain si pembicara/penulis, dan wacana sebelumnya dan berikutnya yang berkaitan).
Dengan mengacu pada hasil pembahasan terhadap asumsi, konsepsi, dan strategi perspektif sosiopragmatik, secara berturut-turut peneliti mengembangkan langkah operasional sebagai berikut:
Pertama, mengumpulkan wacana terpublikasi (published discourse) di media yang dijadikan sumber perolehan data, dilakukan dengan cara mengumpulkan salinan (hardcopy) seluruh wacana terorisme dalam bentuk berita interaktif online.
Kedua, memetakan pola wacana berita interaktif online. Ini penting dilakukan karena menyangkut posisi, mekanisme, dan mobilitas peserta tutur yang sangat spesifik.
Ketiga, menetapkan wacana interaktif (interactive discourse). Hanya pernyataan yang ditanggapi (responded statement) dan pernyataan yang menanggapi (responding statement) saja yang dikelompokkan ke dalam wacana interaktif, dan akan dianalisis lebih lanjut. Ini dilakukan sesuai dengan asumsi perpektif sosiopragmatik, bahwa makna hanya muncul dari hubungan antara sekurang-kurangnya dua subjek, penutur/penulis dan pendengar/pembaca.
Keempat, menelusuri dan menelaah data wacana interaktif berdasarkan bukti-bukti pragmatic yang tersedia dalam produksi bahasa, yang meliputi: pilihan pronomina, pilihan bentuk arah tuturan, penggunaan kalimat taklangsung, dan penggunaan tamengan. Ini dilakukan untuk memunculkan bukti-bukti empirik linguistik sebagai landasan dalam melakukan interpretative pragmatic.
Kelima, menelusuri dan menelaan data yang tidak tersedia dalam bahasa yang diproduksi (dalam penelitian ini mencakup implikatur percakapan dan kesantunan yang berupa: motivasi, ketidakpastian makna dan kekuatan pragmatis, penafsiran dari ucapan-ucapan, dan keberadaan mekanisme penalaran informal). Ini dilakukan untuk memunculkan bukti-bukti interpretatif pragmatic untuk menghasilkan implikatur percakapan/makna pragmatik.
Keenam, menelaah dan mengungkap keserba-maknaan wacana (meaning multivalence of discourse) melalui data yang bersandar pada intuisi peneliti atau retrospeksi pada pihak peserta dalam interaksi (dalam penelitian ini mencakup: efek perlocutionary suatu ucapan pada pembaca, komentar eksplisit oleh si penulis, komentar eksplisit oleh orang lain selain penulis, dan wacana sebelumnya dan berikutnya yang berkaitan). Langkah ini harus dilakukan sesuai dengan asumsi perspektif sosoipragmatik, bahwa proses pemaknaan (signifying process) tidak bisa dihindari akan menghasilkan ragam makna sesuai dengan latar belakang, kedudukan dan kepentingan masing-masing penafsir. Dengan langkah ini akan terungkap hubungan antara teks, konteks, implikatur, dan peta konflik ideology peserta tutur
Ketujuh, mengembangkan pemahaman teoretik substantif (substantive theory). Langkah ini dilakukan dengan menerapkan secara adaptif paradigma penyandian (coding paradigm) yang dikembangkan oleh Strauss (1990: 27-28). Paradigma penyandian ini mencakup kondisi penyebab, interaksi para pelaku, strategi dan siasat, serta akibat-akibat. Penelusuran kembali dilakukan untuk menemukan kondisi penyebab munculnya suatu wacana pendahulu, interaksi diadik pemaknaan oleh antar peserta tutur, strategi dan siasat yang menghasilkan multivalensi makna, dan akibat-akibat yang timbul dari multivalensi makna tersebut.
Kedelapan, mengembangkan pemahaman teoretik formal (formal theory). Langkah pengembangan pemahaman teoretik formal dilakukan dengan cara menghapuskan muatan substantif (substantive content) dalam model teoretik yang diajukan, sehingga perhatian dan pemikiran tertuju pada sejumlah konstruk formal (formal constructs).
Klasifikasi dan Identifikasi Data
1. POLA PERCAKAPAN DALAM WACANA BERITA INTERAKTIF ONLINE
Pola ‘percakapan tulis’ di dalam wacana berita interaktif online di internet merupakan sesuatu yang relatif baru dan unik. Disebut baru, karena di Indonesia usianya belum genap sepuluh tahun. Situs berita KOMPAS.com adalah pelopornya. Diikuti kemudian oleh situs berita Tempointeraktif.com dan detik.com. Kini, situs-situs sejenis sudah menjamur, bersamaan dengan kian meluasnya pemakai jaringan internet di negeri kita. Disebut unik, karena berbeda dari kelaziman. Yang berbeda bukan hanya soal ‘lisan’ dan ‘tulis’nya, atau soal ‘tatap-muka’ dan’ online’nya, tapi berkaitan dengan mekanisme, mobilitas, dan “suasana batin” para pelakunya. Gambar berikut agaknya dapat menjelaskan, bagaimana pola percakapan tulis di situs berita KOMPAS.com berlangsung.

2. CONTOH DATA
NO. DATA: 001
IDENTIFIKASI DATA: Wacana berikut berisi tuturan media dan komentar pembaca yang dimuat di media berita interaktif Kompas.com tentang peristiwa baku tembak antara polisi dan kelompok yang diduga teroris yang terjadi di Pamulang, dilaporkan oleh wartawan Persda Network Andy Panroy Pakpahan, Selasa, 9 Maret 2010 | 12:47 WIB

DATA TUTURAN MEDIA

Baku Tembak Teroris di Pamulang, Satu Tewas
JAKARTA, KOMPAS.com — Baku tembak antara aparat kepolisian dan kelompok yang diduga teroris kembali terjadi di sebuah ruko Siliwangi di Jalan Beringin, dekat kedai Multi Plus Puri Pamulang, Pamulang Square, Kelurahan Benda, Pamulang Barat, Jakarta.

“Mati satu,” kata sumber Persda Network di Jakarta, Selasa (9/3/2010) siang. Namun, belum jelas dari pihak mana satu korban tewas tersebut. Kelompok teroris tersebut diketahui bersenjata lengkap.
Saat berita ini diturunkan, korban tewas sudah dimasukkan ke dalam mobil ambulans. Namun, belum diperoleh keterangan lanjutan mengenai penyergapan ini. Disebutkan pula, dua orang ditangkap hidup-hidup dalam operasi ini. Sementara pengepungan di lokasi sampai saat ini masih terjadi.

DATA TUTURAN PEMBACA/PENANGGAP

valentinus sugiman
Selasa, 9 Maret 2010 | 22:30 WIB
harusnya tembak mati aja semua,ngapain ditangkap hidup2 tambah nyusahin,dibui,keluar,eh tambah pinter aja,apa mereka mikir ham kalau ledakin bom ditempat umum???????//

britania alexandra
Selasa, 9 Maret 2010 | 15:31 WIB
Rasakan lo teroris, kebaikan pasti menang


Korn Pika
Selasa, 9 Maret 2010 | 13:52 WIB
wah2.. di keramaian. semoga yang melihat nggak ikut jadi korban.

Korn Pika
Selasa, 9 Maret 2010 | 13:52 WIB
wah2.. di keramaian. semoga yang melihat nggak ikut jadi korban.

said wahyu
Selasa, 9 Maret 2010 | 13:51 WIB
mereka2 ini mmg wajib di matikan pak…bikin runyam keadaan aja

said wahyu
Selasa, 9 Maret 2010 | 13:51 WIB
mereka2 ini mmg wajib di matikan pak…bikin runyam keadaan aja


ojo lali
Selasa, 9 Maret 2010 | 13:48 WIB
basmi semua penggangu2 budaya pluralisme dan toleransi rakyat indonesia… biarkan kami hidup berdampingan tanpa prasangka…

Bian Tara
Rabu, 10 Maret 2010 | 15:11 WIB
terharu baca comentar ini, memang toleransi kita yang dulu seakan mau di kubur. Hidup warna warni

ojo lali
Selasa, 9 Maret 2010 | 13:48 WIB
basmi semua penggangu2 budaya pluralisme dan toleransi rakyat indonesia… biarkan kami hidup berdampingan tanpa prasangka…

Kembang Kenanga
Selasa, 9 Maret 2010 | 13:11 WIB
Babat semua deh….BRAVO pak POLISI

3. DATA WACANA INTERAKTIF
No. Tuturan yang ditanggapi (responded statement) Tuturan yang menanggapi (responding statement)
1 “Mati satu,” kata sumber Persda Network di Jakarta, Selasa (9/3/2010) siang. …korban tewas sudah dimasukkan ke dalam mobil ambulans. …dua orang ditangkap hidup-hidup dalam operasi ini. harusnya tembak mati aja semua,ngapain ditangkap hidup2 tambah nyusahin,dibui,keluar,eh tambah pinter aja,apa mereka mikir ham kalau ledakin bom ditempat umum???????//
2 …korban tewas sudah dimasukkan ke dalam mobil ambulans. …dua orang ditangkap hidup-hidup dalam operasi ini. Sementara pengepungan di lokasi sampai saat ini masih terjadi. Rasakan lo teroris, kebaikan pasti menang

3 Baku tembak antara aparat kepolisian dan kelompok yang diduga teroris kembali terjadi di sebuah ruko Siliwangi di Jalan Beringin, dekat kedai Multi Plus Puri Pamulang, Pamulang Square, Kelurahan Benda, Pamulang Barat, Jakarta. wah2.. di keramaian. semoga yang melihat nggak ikut jadi korban.

4 …korban tewas sudah dimasukkan ke dalam mobil ambulans. …dua orang ditangkap hidup-hidup dalam operasi ini. Sementara pengepungan di lokasi sampai saat ini masih terjadi. mereka2 ini mmg wajib di matikan pak…bikin runyam keadaan aja
5 “Mati satu,” kata sumber Persda Network di Jakarta, Selasa (9/3/2010) siang.
basmi semua penggangu2 budaya pluralisme dan toleransi rakyat indonesia… biarkan kami hidup berdampingan tanpa prasangka…
6 basmi semua penggangu2 budaya pluralisme dan toleransi rakyat indonesia… biarkan kami hidup berdampingan tanpa prasangka… terharu baca comentar ini, memang toleransi kita yang dulu seakan mau di kubur. Hidup warna warni
7 “Mati satu,” kata sumber Persda Network di Jakarta, Selasa (9/3/2010) siang. Babat semua deh….BRAVO pak POLISI

4. CONTOH INSTRUMEN UNTUK MENGANALISIS REALISASI PRINSIP KERJA SAMA
REALISASI PRINSIP KERJA SAMA
No. Tuturan (+) (-) Maksim *) Penutur**)
1 Baku Tembak Teroris di Pamulang, Satu Tewas
– 1,2,4 A
2 Baku tembak antara aparat kepolisian dan kelompok yang diduga teroris… + 1,2,3,4 A
3 Babat semua deh….BRAVO pak POLISI
– 4 B
4 Rasakan lo teroris, kebaikan pasti menang
– 1,2,3,4 B

(+) = pematuhan; (-) = pelanggaran
*) 1= kualitas; 2= kuantitas; 3= relevansi; 4= cara
**) A = Media; B = Pembaca
Analisis: ….?
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
PUSTAKA ACUAN
Aitchison, Jean. 2003. “From Armageddon to War: The Vocabulary of Terrrorism”. Dalam New Media Language. Jean Aitchison & Diana M. Lewis (ed). London: Routledge.
Bennet, W. Lance. 1993. “Constructing Publics and Their Opinion”. Political Communication. Vol.10. No.2
______________ 1996. “An Introduction to Journalism Norfms and Representation of Politics”. Political Communication. Vol.13.No.4.
Cassel, Phillip ed. 1993. “Problems of Action and Structure” dalam The Giddens Reader. Stanford, California: Stanford University Press, hlm. 88—174.
Danesi, Marcel & Paul Perron. 2002. “The Signifying Order”.
Edelman, Murray.1997. Political Language: Words That Succed and Policies That Fail. San Diego: Academic Press.
Eriyanto. 2002. Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogayakarta: LKiS.
Gamson, William A. 1992. Talking Politics. Cambridge: Cambridge University Press.
Guba, Egon S. and Yvonna S. Lincoln.1994. “Competing Paradigms in Qualitative Research” dalam Handbook of Qualitative Research ed. by Norman K. Denzin & Yvonna S. Lincoln. London, New Delhi: Sage Publications.
Gunawan, Arya. 2009. “Gairah Berbuat Dosa”. Dalam kolom Tempointeraktif, Rabu 5 Agustus 2009.
Hobsbawm, Eric. 1997. “Introduction: Inventing Traditions” dalam The Invention of Traditions ed. by Eric Hobsbawn and Terence Ranger. Cambridge: Cambridge University Press.
Jorgensen, W. Marianne & Louise J. Phillips.2007. Analisis Wacana, Teori Analisis & Metode. Terjemahan Imam Suyitno. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
_______________ 1996. “Media Discourse as a Framing Resource”. Dalam Ann N. Crigler (ed). The Psychology of Political Communication. Ann Arbor: The UnIversity of Michigan Press.
Lubis , Akhyar Yusuf. 1999. “Konstruktivisme dalam Filsafat Ilmu Pengetahuan Kontemporer”. Jurnal Filsafat. Vol.1. No.1.
Maarif, Ahmad Syafii. 2009. “Kekerasan Atas Nama Agama”. Diunduh dari http://klipingpilihanku.blogspot.com,
Muhammad, Ardison. 2010. TERORISME Ideologi Penebar Ketakutan. Surabaya: Liris.
Rahyono, F.X, dkk. 2005. “Kearifan dalam Bahasa: Sebuah Tinjauan Pragmatis terhadap Profil Kebahasaan Media Massa pada Masa Pascaorde Baru”. Laporan Riset Unggulan Universitas Indonesia.
Roefs, Wim. 1998. From Framing to Frame Theory: A Research Methods Turn Theoritical Concept”. Makalah pada Konvensi Association for Education in Journalism and Mass Communication. Baltimore. Agustus. Diambil dari http://www.msu.edu.
Said, Edward W. 1981. Covering Islam: How The Media and the Expert Determine How We See the Rest of the World. New York: Pantheon Books.
Sudibyo ,Agus. 2001. “Tinjauan Teoretis Analisis Framing”. Pantau. No.10.
Thwaites, Tony, Lloyd Davis, Warwick Mules. 2009. Introducing Cultural and Media Studies: Sebuah Pendekatan Semiotika. Terjemahan.Saleh Rahmana. Yogayakarta: Jalasutra.
Wibowo, I. “Strukturasi Giddens”. Bahan Kuliah “Teori dan Metodologi Ilmu Pengetahuan Budaya”. Depok, FIB UI, 4 November 2009.
Wibowo, Wahyu. 2009. Menuju Jurnalisme Beretika. Jakarta: Kompas.
“Agama dan Riak-riak Kekerasan”. 2009. Diunduh dari http://elpobresiado.blogsome.com

MENGHAMPIRI MARX LEWAT PINTU MANIFESTO KOMUNIS

MENGHAMPIRI MARX LEWAT PINTU MANIFESTO KOMUNIS
Oleh, Aceng Ruhendi Saifullah/ Program Linguistik

Manifesto ini merupakan pernyataan sikap kelas proletar terhadap penghisapan kaum Borjuis dalam bentuk sebuah partai. Garis-garis besar Marx yang tidak disertai penjelasan yang cukup dalam Manifesto membuat Marxisme-Komunisme terkesan dogmatis-idealis. Ke-dogmatis-an inilah yang membuat mandeg-nya banyak perlawanan atas kapitalisme. Perumusan Marx ini ternyata membuatnya mengingkari filsafat yang menjadi dasar pemikirannya. Dengan memahami Manifesto dari sudut bukan sebagai teori kritis, maka mandegnya Marxisme dapat diatasi. Dan dengan begitu kereta dialektika menuju mimpi Marx dapat melaju lagi yang di dalamnya telah terlihat usaha-usaha dari pemikir-pemikir Marxist ‘terbuka’ seperti Althusser, Gramsci, Habermas, Foucault, dll.
Marx dan Communist Manifesto ibarat dua sisi mata uang dari mata uang yang sama. Demikian melekat. Tak terpisahkan. Keduanya lahir dari hiruk pikuk bentangan sejarah abad-19. Seperti diketahui, Karl Marx hidup dalam rentang tahun 1818-1883 dan Communist Manifesto diterbitkan pertama kali pada tahun 1888. Buku ini ditulis oleh Karl Marx dengan bantuan Friedrich Engels setelah beberapa kali mereka berdua menerbitkan beberapa buku sebelumnya. Manifesto ini pada dasarnya adalah kumpulan atau kesimpulan dari buku-buku terdahulu dari Marx dan Engels yang bersifat lebih filosofis. Beberapa buku yang ide-idenya dicuplik dan digabungkan dalam Manifesto ini antara lain; Das Capital, Manuscript of 1844, The origin of the Family,Private Property and the State, dll.
Manifesto seyogyanya berarti pernyataan dan memang begitu adanya karya Marx dan Engels ini. Penjelasan mendalam dan filosofis dari menifesto ini seperti sudah dicantumkan diatas berada di buku-buku yang telah keluar terlebih dahulu. Dalam versi yang lain, buku ini diberi judul, yang lebih menjelaskan sifat buku ini, yaitu, Manifesto of the Communist Party. Dengan judul ini, para pembaca dengan mudah mengenali bahwa sebenarnya buku ini merupakan pernyataan politis atas pemikiran-pemikiran Marx dan Engels. Pernyataan yang diharapkan mampu diejawantahkan sebagai pernyataan politis oleh kelas pekerja (yang diharapkan dengan segera menjadi partai pekerja). Ya, walaupun judul buku ini menggunakan lema party, namun sebenarnya saat itu belum terbentuk partai yang secara ideologis berdasar pada komunisme ala Marx. Partai kelas pekerja saat itu masih berupa wacana yang oleh Marx coba untuk diwujudkan secara nyata dan manifesto ini adalah bagian dari kampanyenya. Itulah kenapa, sifat dari Manifesto lebih mengarah ke bentuk ajakan untuk menyatakan dan memperkenalkan ide-ide keseluruhan komunisme. Sehingga, butir-butir penting yang menjadi titik berat Komunisme pun dirangkum dalam manifesto ini. Inilah yang menjadi taji sekaligus nantinya menjadi batu sandungan atas paham Komunisme.

Sebelum melangkah lebih jauh kedalam lorong-lorong gelap nan sempit analisa atas cara penyajian Marx dalam Manifesto, marilah kita uraikan dulu ide-ide yang dicuplik ke dalam surat pernyataan kelas Proletar ini. Ide pertama adalah pembagian antara siapa yang masuk kedalam kelas proletar dan borjuis. Ide ini terangkum pada bab pertama manifesto ini. Marx merasa bahwa sejarah dunia ini dibangun diatas perjuangan kelas Proletar atas penghisapan kelas Borjuis. Kemudian, Marx merumuskan bahwa kelas Proletar adalah para pekerja dalam bidang industry dan kelas Borjuis adalah para pemilik modal dari industri-industri tersebut. Sedangkan, petani termasuk dalam sebuah kelas yang disebut Marx sebagai lumpen-proletar. Dikotomi ini ditarik dari buku Marx Manuscript of 1844 (juga dikenal dengan Manuskrip Paris). Konsep alienasi dalam Manuscript of 1844 lah dijadikan dasar pembagian ketiga kelas tersebut. Para petani dianggap Marx tidak mengalami alienasi seperti para pekerja maka mereka harus dirumuskan pada kelas yang berbeda pula. Dengan rumusan itu Marx memang menekankan bahwa ujung tombak perjuangan kelas ada di kepal tangan kiri para pekerja pabrik dan bukan di petani. Setelah sosialisme tercapai, Marx berpendapat, bahwa kelas lumpen-proletar ini dengan sendirinya akan melebur.

Ide lain yang diambil adalah cara pandang atas keluarga dari para pekerja. Dalam bab kedua, Marx menyatakan bahwa kaum Borjuis menganggap bahwa anak dan istri sebagai alat produksi permanen (mereduksi hubungan menjadi hubungan produksi semata). Sebaliknya, dalam pandangannya bahwa kelas Proletar menganggap anak istri mereka tidak sebagai alat namun anggota satu kelas dengan kesetaraan mutlak. Pandangan tersebut dicuplik dari buku Anthropologi karya Engels, The Origin of the Family, Private Propety and the State, yang merunut asal muasal sistem patriakal serta hubungannya dengan perkembangan hubungan-hubungan produksi.

Ide ketiga dicuplik dari tiga volume dari Das Capital. Ide ini dalam manifesto menggambarkan perkembangan dan pergerakan kaum Borjuis dari segi corak produksinya. Dalam bagian ini, Marx mencoba memaparkan bagaimana sebnarnya modal dan perangkat-perangkat produksi beserta dengan tenaga kerja terus diolah oleh kaum Borjuis. Marx juga memaparkan kebiasaan dan tingkah laku kaum Borjuis yang secara tersirat disebut Marx akibat dari sistem yang mereka ciptakan sendiri. Pemaparan Marx ini, dalam pandangan saya, sebuah usaha untuk memperjelas kelas dan apa yang harus diperjuangkan oleh kelas yang tertindas. Dengan bekal pemaparan diatas, Marx merumuskan sepuluh butir perjuangan kelas pekerja. Sepuluh butir ini yang tampaknya ia ingin ajukan sebagai tuntutan dan tujuan perjuangan kelas pekerja.
Sepuluh butir tersebut:
1. Hapuskan kepemilikan atas tanah dan kemudian diarahkan untuk kepentingan bersama.
2.Memasang system pajak meningkat untuk pemasukan.
3.Hapuskan segala bentuk sistem warisan.
4. Ambil alih semua kepemilikan pribadi para pedagang pendatang.
5. Pemusatan kredit di tangan Negara dengan menggunakan Bank nasional yang mengolah modal Negara dengan hak eksklusif monopoli.
6. Pemusatan segala perangkat komunikasi dan perhubungan di tangan Negara
7. Perluas pabrik dan perangkat produksi dengan kepemilikan Negara, serta perbaikan tanah secara terus menerus.
8. Tanggung jawab yang sama rata dan pendirian pekerja industri terutama di wilayah pertanian.
9. Penggabungan antara pertanian dan industri yang diikuti dengan penghapusan pembedaan anthrax kota dan desa. Pembedaan dilakukan dengan penyebaraan populasi yang merata di seluruh wilayah Negara.
10. Pendidikan gratis untuk anak-anak disekolah-sekolah negeri serta menghapus sistem penggunaan anak sebagai pekerja pabrik.

Setelah menelaah ide-ide apa saja yang terkandung di Manifesto, sekarang mari kita lihat dampak-dampak atas adanya buku dengan menempatkannya dalam kondisi Marxsisme modern. Dapat disimpulkan, bahwa manifesto ini merupakan pernyataan sikap kelas proletar terhadap penghisapan kaum Borjuis dalam bentuk sebuah partai. Marx telah menggoreskan garis-garis perlawanan lengkap dengan latar belakang yang dibarengi dengan tuntutan dan tujuan dalam karyanya yang telah diterjemahkan dalam lebih dari dua puluh bahasa. Inilah yang saya sebut kekuataan sekaligus titik lemahnya. Garis-garis yang dengan tebal telah digoreskan Marx ini telah memberi kesempatan semua kelas pekerja bersatu dalam ranah kepartaian dan serikat pekerja dengan memberi mereka alasan dan tujuan atas perjuangan kelas. Dan hingga kini hal tersebut terbukti ampuh. Kekuataan ber-ideologi Marxis non-negara seperti Indo-Marxist, In Defense of Marxism, Democracy Now, dll terus bermunculan dan berkembang dengan sejumlah pergerakannya dengan dasar-dasar yang diletakkan Marx lebih dari seratus tahun yang lalu. Dan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, semakin banyak Negara yang mulai memutar setirnya ke kiri dan mengikuti Kuba untuk segera berjalan dijejak-jejak Marx (khususnya Amerika Latin), contohnya: Venezuela dengan gerakan Bolivarian-nya, Mexico dengan Zapatistanya, nikaragua dengan Sandinista-nya dll.
Kelebihan garis-garis pemikiran Marx ini ternyata diikuti juga dengan serangkaian dampak buruk yang menghambat perjuangan yang diharapkan Marx dalam masyarakat yang lebih berkembang. Sebuah masyarakat, yang menurut banyak pemikir setelah Marx, diluar perkiraan Marx. Sebuah masyarakat yang menghadapi kapitalisme lanjut yang memiliki bentuk berbeda-beda di setiap wilayah. Garis-garis besar Marx yang tidak disertai penjelasan yang cukup dalam Manifesto (ditambah lagi tujuan-tujuan yang sudah ditanam Marx) membuat Marxisme-Komunisme terkesan dogmatis (idealis). Ke-dogmatis-an inilah yang membuat mandeg-nya banyak perlawanan atas kapitalisme. Konsep proletar dan borjuis dengan pendasaran Marx terus dibawa, sedangkan pendasaran tersebut sudah tidak mungkin lagi dilaksanakan dengan begitu ketatnya (seperti keinginan Marx). Beberapa usaha telah dilakukan oleh pemikir Marxist untuk ‘membuka’ kembali gerbang perlawanan dengan lebih lebar (terutama dengan membongkar butir-butir tujuan dalam Manifesto). Namun, butir-butir tersebut telah menciptakan ke-mandeg-an tujuan dari Marxisme yang sesungguhnya. Karena, butir-butir tersebut dibentuk untuk disetujui bersama dan dilakukan bersama, maka sebetulnya hal itu mematikan dialektika yang belum menemui sinthesis-nya. Butir-butir ini memaksa untuk menghentikan laju adaptasi-adaptasi disetiap wilayah yang berbeda proses dialektika materialis-nya. Perumusan Marx ini ternyata membuatnya mengingkari filsafat yang menjadi dasar pemikirannya. Salah satu cara menghindari penghentian dialektika terlalu dini adalah dengan menghindari pembacaan manifesto ini dengan meletakkannya sebagai buku teori kritis namun sebagai dokumen sejarah bagian dari dialektika yang sudah menemui anti-thesis-nya. Berbeda memang cara memperlakukannya dengan karya-karya Marx yang lain karena Manifesto memiliki sifat memaksa yang lebih karena hanya merupakan ujung-ujung ide yang ‘dipaksakan’ untuk disepakati dan dilakukan bersama saat itu.
Dengan memahami Manifesto dari sudut bukan sebagai teori kritis, maka mandegnya Marxisme dapat diatasi. Dan dengan begitu kereta dialektika menuju mimpi Marx dapat melaju lagi yang didalamnya telah terlihat usaha-usaha dari pemikir-pemikir Marxist ‘terbuka’ seperti Althusser, Gramsci, Habermas, Foucault dll.
Kadungora, 5 November 2009

LAPORAN PENELITIAN: Efektivitas Iklan Politik…

ABSTRAK

Peristiwa kebahasaan di dunia politik yang penting dan menarik dalam setahun terakhir ini adalah gencarnya iklan politik di berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Sebagai peristiwa komunikasi, iklan politik tentu saja tak lepas dari penggunaan bahasa. Kajian bahasa yang lazim digunakan dalam menganalisis penggunaan bahasa dalam aktifitas politik, termasuk iklan politik di dalamnya, adalah kajian bahasa di tingkat makro yang prosedur analisisnya tidak berhenti di tataran struktural akan tetapi merambah jauh dan dalam ke tataran fungsional.
Critical Discourse Analysis (CDA) adalah salah satu paradigma yang relatif mutakhir dalam perkembangan kajian bahasa yang berbasis fungsionalisme. CDA dianggap ampuh untuk membongkar ideologi yang tersembunyi di balik penggunaan bahasa. Pisau analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis wacana kritis yang dikembangkan oleh Norman Fairclough. Dalam penelitian ini, aspek yang dianalisis antara lain, aspek tekstual, praktik wacana, serta praktik sosiokultural. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat pengaruh dari wacana yang dibangun dalam teks iklan terhadap upaya persuasif iklan kampanye serta perubahan yang ditimbulkannya.
Penelitian ini menemukan fakta bahwa secara tekstual teks iklan mendeskripsikan ideologi partai yang bersangkutan, yang berkontribusi dalam membentuk dan membentuk kembali pencitraan atas dirinya dengan membangun identitas dirinya apakah sebagai agen pengubah atau pembangun. Di samping itu, pemirsa diletakkan pada posisi rakyat yang membutuhkan perubahan tersebut. Penggunaan relasi dikonstruksi untuk mengantarkan komunikasi dua arah antara partai pengiklan dengan pemirsanya, yaitu ditandai dengan pronomina yang dipilih dalam teks, seperti saya, kita, dan Anda. Secara intertekstual, iklan kampanye menggunakan unsur-unsur teks atau peristiwa lain untuk membentuk perspektif baru bagi pemirsa.
Aspek praktik kewacanaan, dalam hal ini konsumsi atau respon pemirsa televisi terhadap iklan kampanye partai politik ini, yaitu memberikan gambaran mengenai interpretasi atau penilaian mereka. Iklan kampanye televisi menjadi media untuk membangun citra partai. Dari penelitian ini, ditemukan bahwa iklan kampanye partai politik kurang memberikan pengaruh di tengah-tengah perspektif masyarakat yang menilai iklan kampanye hanya berisi janji-janji semata. Itu pulalah yang tampak dari aspek sosiokultural teks iklan.

ABSTRACT
Linguistic events in the political world are important and interesting in the last year was the incessant political ads in various media, both print and electronic. In the event of communication, political advertising, of course, do not get out of the use of language. Study the language commonly used in analyzing the use of language in political activities, including political advertising in it, is to study the language in which macro-level analysis procedures do not stop at the structural level but extended far and in the functional level.
Critical Discourse Analysis (CDA) is one of a relatively recent paradigm in the development of language-based study of functionalism. CDA is considered effective to uncover the hidden ideology behind the use of language. The knife used in the analysis of this research is critical discourse analysis developed by Norman Fairclough. In this study, which analyzed aspects, among others, aspects of textual, discourse practices and sociocultural practices. The purpose of this study to see the influence of the discourse that was built in the ad text of persuasion campaign ads and the resulting changes.
The study found that the ad text textually describe the relevant party’s ideology, which contributes to the shaping and reshaping the image of himself by building his identity either as agents or builders. In addition, the viewer is placed in the position of the people who need change. The use of relations is constructed to deliver two-way communication between advertisers and viewers’ party, which is marked with the selected pronouns in the text, like me, you, and you. In intertextstual, advertising campaigns using text elements or other events to form a new perspective for viewers.
Aspect discourse practice, in this case the consumption or television viewer response to ads of this political campaign, which provides a description of their interpretation or assessment. Television campaign ads into the media to build the party’s image. From this study, found that the ad campaigns of political parties is less influential in the midst of assessing people’s perspectives campaign ads contain only mere promises. That is precisely what seemed from the sociocultural aspects of the ad text.

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Penggunaan paradigma Analisis Wacana Kritis (AWK) dalam kajian bahasa masih tergolong langka. Sejauh ini AWK banyak digunakan dalam kajian komunikasi. Padahal, bahan baku AWK adalah bahasa, yakni berupa wacana sebagai satuan analisis terkecil. Tentu saja pemilihan paradigm AWK dalam kajian bahasa harus disesuaikan pula dengan karakteristik dan permasalahan objek kajian.
Paradigma AWK memiliki beberapa model. Salah satunya adalah model paradigm AWK yang dikembangkan oleh Norman Fairclough. Model yang dikemukakannya sering disebut model perubahan sosial (social change) karena berusaha mengintegrasikan antara aspek linguistik dan pemikiran sosial politik, menuju perubahan sosial, dengan tetap mengedepankan wacana sebagai satuan bahasa dalam pusat kajian. AWK model Fairclough ini merupakan derivasi dari payung besar penelitin keilmuan yang dinamakan paradigma kritis. Sebagai strategi penelitian, AWK model Fairclough ini menganalisis dimensi teks, praktik kewacanaan (konsumsi), serta praktik sosial.
AWK model Fairclough dalam penelitian ini diterapkan pada iklan kampanye partai politik. Pemilihan iklan kampanye partai politik sebagai objek penelitian didasarkan pada kualifikasi yang dimiliki iklan sebagai representasi realitas sosial melalui sarana yang dinamakan wacana. Selain itu, banyaknya tayangan iklan kampanye partai politik di televisi menjelang Pemilu 2009 ini menjadikannya sebagai issu yang actual, penting, dan menarik.
Wujud wacana yang dianalisis dalam penelitian ini adalah tuturan/ ucapan dan tulisan. Walaupun keduanya – tuturan/ ucapan dan tulisan – dianalisis, data primer dalam aspek naskah ini adalah tuturan/ ucapan dalam tiap-tiap iklan. Dengan asumsi bahwa sebagian besar tulisan yang tertera pada iklan hanya sebagai keterangan tambahan suatu tuturan yang sebagian besar mengandalkan pada aspek verbalnya. Akan tetapi, tidak dimungkiri bahwa tulisan yang tertera dalam iklan, memiliki peranan yang penting untuk memunculkan data yang tidak disebutkan secara verbal.
Karakteristik yang melekat pada iklan ini yaitu bersifat audio-visual. Karakteristik ini dapat dikatakan sebagai keuntungan atau kelebihan suatu sarana promosi sehingga dipilih oleh tidak sedikit partai politik peserta Pemilu. Hal ini berangkat dari asumsi bahwa iklan televisi dapat memainkan peranan yang sangat efektif dalam pengonstruksian identitas sosial, hubungan sosial, serta sistem pengetahuan dan makna.
Sifat yang dimilikinya ini, dapat menambah nilai tambah untuk memperbesar skala keberhasilan dalam upaya mengajak dan menggiring hak pilih pemirsa televisi untuk memberikan suaranya pada partai yang beriklan di televisi. Di samping kekuatan verbal, kekuatan pada aspek visual dan pencitraan juga turut menyumbangkan keefektifan iklan televisi kampanye ini.
Dalam upaya memperkenalkan dan mempromosikan partai politik yang diusung lewat iklan kampanye televisi ini, pembuat iklan tidak sedikit memutar otak untuk membuat dan menghasilkan iklan kampanye yang dapat diterima khalayak sehingga tujuan yang diinginkan tercapai. Yaitu, dikenal, dipercaya, dan akhirnya dipilih pada saat Pemilu.
Kajian terhadap iklan kampanye ini dilakukan untuk mengeksplorasi bagaimana wacana promosi dalam kampanye memberikan kontribusi kepada persebaran ragam menentukan pilihan kepada partai politik peserta Pemilu. Kampanye pada iklan televisi merupakan peristiwa komunikatif yang terdiri atas wacana kampanye dan termasuk pada aliran iklan televisi. Analisis naskah yang digunakan adalah analisis sintagmatis.
Menjelang Pemilu 2009, partai politik peserta pemilu berlomba-lomba untuk menarik simpati rakyat Indonesia. Pada perayaan akbar bagi rakyat Indonesia yang hanya satu kali dalam jangka waktu 5 tahun ini, tidak dilewatkan begitu saja oleh peserta pemilu. Sebagaimana dikutip http://www.bbc.co.uk, kampanye pemilihan umum 2009 secara resmi dimulai hari Sabtu 12 Juli 2008. Partai peserta Pemilu 2009 berjumlah 44 partai, termasuk partai lokal dari Aceh. Jumlah ini bertambah dibandingkan dengan tahun 2004 yang hanya berjumlah 24 partai. Dengan jumlah yang cukup banyak tersebut, partai-partai – lama maupun baru – kini tengah berlomba-lomba untuk melakukan kampanye. Hal ini dilakukan untuk mengumpulkan sejumlah suara dan dukungan dari masyarakat sehingga partai yang bersangkutan dapat memenangkan pemilu kali ini. Berbagai upaya dilakukan untuk menarik minat dan ketertarikan masyarakat terhadap partainya, salah satunya lewat media massa yakni televisi. Disebutkan oleh Ardianto (2004: 40) bahwa sebagai media yang mendominasi komunikasi massa, dengan sifatnya yang audio-visual, televisi dapat memenuhi kebutuhan khalayak dengan menggambarkan kenyataan dan langsung menyajikan peristiwa ke tempat-tempat di manapun mereka berada.
Sarana yang dapat digunakan untuk memperkenalkan dan mempromosikan partai-partai peserta pemilu adalah iklan. Media iklan merupakan suatu yang tidak dapat dipisahkan dari media massa, termasuk televisi.
Dalam suasana kampanye Pemilu 2009, iklan dimanfaatkan oleh peserta pemilu untuk mempromosikan partainya. Penayangan iklan berisi kampanye partai politik dengan menggunakan media televisi – yang bersifat audio visual – dapat membuat masyarakat terbius oleh kata-kata atau janji-janji, dengan mendeskripsikan bahkan menonjolkan isu-isu yang tengah berkembang seperti kemiskinan, kelaparan, dan krisis moral.
Henry Subiakto, Koordinator Program Pascasarjana Studi Media dan Komunikasi Universitas Airlangga, menyebutkan bahwa iklan politik selain untuk menyebarkan informasi tentang suatu pilihan, juga berupa usaha persuasi agar khalayak sependapat atau mempunyai kesamaan makna dan tujuan sehingga sejalan dalam proses politik. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyebutkan bahwa iklan kampanye termasuk kategori iklan layanan masyarakat yang didasari tujuan memasyarakatkan dan/atau mempromosikan gagasan atau pesan lain untuk memengaruhi khalayak.
Sebuah tayangan yang tidak lebih dari satu menit, iklan dapat disaksikan oleh ratusan bahkan ribuan pasang mata di seluruh dunia. Ini dikatakan oleh Peni, bahwa televisi merupakan media promosi yang sangat mahal dengan sifat yang dimilikinya, audio-visual (didengar dan dilihat).
Balutan antara sifatnya yang audio visual, iklan kampanye televisi semakin memberikan dampak yang signifikan dalam hal mempengaruhi bahkan mengubah pola pikir atau asumsi yang telanjur berkembang di masyarakat tentang pengalamannya terdahulu yang dengan mudah mempercayai janji-janji yang diberikan. Iklan kampanye partai politik menggunakan wacana promosi yang mengandalkan suatu sistem – tatanan wacana – sekaligus iklan tersebut ambil bagian dalam menyusun sistem tersebut dengan memperluas penggunaan bahasa yang kreatif.
Ada apakah dibalik peran iklan kampanye partai politik ini? Penelitian ini berusaha untuk menguak peran iklan politik sebagai bentuk komunikasi massa yang sangat signifikan dalam upaya memengaruhi khalayak. Penelitian mengenai iklan kampanye ini menggunakan analisis wacana kritis sebagai pisau analisis. Analisis ini digunakan untuk menguak peran iklan dalam melestarikan tatanan sosial maupun menciptakan perubahan sosial. Sebagaimana yang menjadi fokus dalam analisis adalah bagaimana praktik kewacanaan mengonstruk representasi dunia, subjek sosial, dan hubungan kekuasaan, serta peran yang dimainkannya dalam melanjutkan kepentingan kelompok sosial khusus.
Dalam penelitian ini, digunakan pendekatan Fairclough. Pendekatan ini menyatakan bahwa wacana merupakan bentuk penting praktik sosial yang mereproduksi dan mengubah pengetahuan, identitas, dan hubungan sosial yang mencakup hubungan kekuasaan dan sekaligus dibentuk oleh struktur dan praktik sosial yang lain. Dalam penelitian ini, wacana iklan kampanye dihubungkan dengan dimensi sosial lain yaitu politik dan ideologi.
Menurut Fairclough, setiap penggunaan bahasa merupakan peristiwa komunikatif yang terdiri atas tiga dimensi, yaitu teks (tuturan, pencitraan, visual, atau gabungan ketiganya); praktik kewacanaan yang melibatkan pemroduksian dan pengonsumsian teks; dan praktik sosial. (Jorgensen, 2007: 128).
Penelitian mengenai iklan televisi dengan menggunakan pendekatan AWK model Fairclough dilakukan sebelumnya oleh Wawan Agus Prasetyo (2007) dalam tesis yang berjudul Representasi Pemerintah dalam Iklan A Mild “Tanya Kenapa” Seri Banjir di Televisi -Critical Discourse Analysis tentang Representasi Pemerintah dalam Iklan. Dalam tesis tersebut terdapat fakta-fakta yang nampak pada iklan televisi. Di antaranya adalah bahwa praktik kewacanaan (dalam hal ini produksi iklan oleh pembuat iklan) dipengaruhi oleh kondisi sosial dan kultural. Dalam iklan tersebut, pemerintah yang direpresentasikan sebagai pihak yang tidak dapat berbuat banyak terhadap peristiwa banjir. Pandangan yang disadari atau tidak telah berperan dalam produksi dan reproduksi terhadap realitas sosial yang tertuang dalam iklan.
Dari penelitian dalam lingkup iklan televisi tersebut, dalam penelitian ini peneliti juga menganalisis dari aspek tekstual dan praktik sosiokultural, serta ditambah dengan respon pemirsa televisi (konsumsi). Poin yang terakhir ini dilakukan untuk menganalisis aspek konsumsi. Ini dilakukan sebagai upaya untuk mengetahui keefektifan sebuah iklan dalam rangka perubahan sosial. Patterson dan McClure pernah meneliti pengaruh iklan politik pada perubahan sikap. Dalam penelitiannya, salah satunya ditemukan adanya korelasi antara terpaan televisi dengan perubahan sikap (Kraus dan Davis, 1980 dalam Jalaluddin, 1997).
Dalam masa-masa kampanye, banyak iklan kampanye partai politik bertebaran di hampir semua stasiun televisi. Tidak tanggung-tanggung, pengaruh penayangan iklan tersebut telah menyedot perhatian banyak kalangan dari berbagai bidang. Misalnya saja, ekonomi, seperti dikutip kritik-iklan@yahoogroups.com, berikut ini.
Prabowo telah memakai dana yang tidak irit, mengkomunikasikan
message dengan memakai ilmu consumer goods marketing, dan memilih
time & slot placement yang akurat, menggunakan concept idea yang
outstanding, dan eksekusi dengan standard kualitas gambar dan
shooting yang terbaik. Tapi ada satu flaw yang fatal: produknya
sendiri sudah rusak.
… orang seperti Prabowo bisa dicompromised imagenya
lewat TV commercial. That is real marketing at work.

Selain itu, dalam rubrik Opini Media Indonesia “Pemilih Adalah Raja” pada tanggal 20 November 2008, Dr. Ali Masykur Musa (anggota DPR) menyebutkan bahwa aktivitas politik ibarat pasar perdagangan, parpol sebagai toko jualan, politisi sebagai penjual, dan pemilih adalah pembelinya.
Dari bidang psikologi, seperti dikutip dari rubrik Pendapat Koran Tempo yang berjudul “Kekuatan Mantra Iklan Politik” pada tanggal 20 November 2008, Muhammad Faisal, analis psikologi politik Charta Politika Indonesia dan mahasiswa S-3 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, menyampaikan pendapatnya mengenai iklan yang banyak bertebaran di televisi akhir-akhir ini. Dia menuturkan bahwa dibandingkan dengan iklan Soetrisno Bachir dari PAN, Rizal Malarangeng seorang calon presiden independen, dan Partai Demokrat, iklan dari Partai Gerindra berpotensi menjadi sebuah mantra psikologis bagi audiens di Indonesia.
Dia juga mengungkapkan bahwa jargon yang puitis bahkan visualisasi yang sinematik tidak menjamin dapat menggugah psikologi publik. Menurutnya, untuk memunculkan ketergugahan dibutuhkan adanya “efek mantra” yang dapat membidik emosi audiens atau pemirsa televisi.
Dari berbagai bidang tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti efektivitas peran iklan dari segi kebahasaannya. Dengan iklan politik, semula tidak bersimpati menjadi bersimpati, dari tidak peduli menjadi peduli, dan lain sebagainya. Bahasa sebagai salah satu unsur penyokong iklan yang paling penting, menjadi fokus dalam penelitian ini.

1.2 Masalah
1.2.1 Identifikasi Masalah
Masalah yang terdapat pada iklan kampanye televisi, dapat diuraikan sebagai berikut:
1. penggambaran peristiwa, orang, kelompok, situasi, keadaan, atau apapun dalam iklan baik dalam tuturan, visual, maupun pencitraan pada iklan kampanye televisi;
2. penggambaran hubungan antara partai yang beriklan, pemirsa, dan partisipan iklan baik dalam tuturan, visual, maupun pencitraan pada iklan kampanye televisi;
3. penggambaran identitas partai yang beriklan, pemirsa, dan partisipan iklan yang tertuang baik dalam tuturan, visual, maupun pencitraan pada iklan kampanye televisi;
4. penggambaran unsur-unsur atau wacana teks-teks lain yang terdapat pada iklan kampanye televisi;
5. proses produksi iklan termasuk pemilihan isu oleh pembuat iklan televisi;
6. konsumsi atau respon pemirsa televisi terhadap iklan kampanye di televisi;
7. penggambaran sosiokultural, baik secara situasional, institusional, dan sosial;
8. pengaruh iklan terhadap perubahan sosial masyarakat;
9. ideologi yang terdapat pada iklan.

1.2.2 Batasan Masalah
Dari identifikasi masalah tersebut, terdapat pembatasan masalah untuk mempersempit dan memberi ruang analisis data secara mendalam dan dengan pertimbangan bahwa penelitian ini merupakan lingkup kajian bahasa. Berikut rambu-rambu yang menjadi batasan masalah dalam penelitian Efektivitas Pengunaan Bahasa Indonesia dalam Iklan Kampanye Partai Politik Pemilu 2009 di Televisi
1. Penggambaran peristiwa, orang, kelompok, situasi, keadaan, atau apapun dalam tuturan iklan kampanye televisi;
2. Penggambaran hubungan antara partai yang beriklan, pemirsa, dan partisipan iklan dalam tuturan iklan kampanye televisi;
3. Penggambaran identitas partai yang beriklan, pemirsa, dan partisipan iklan yang tertuang dalam tuturan iklan kampanye televisi;
4. Penggambaran unsur-unsur atau wacana teks-teks lain yang terdapat pada iklan kampanye televisi;
5. Konsumsi atau respon pemirsa terhadap iklan kampanye televisi;
6. Penggambaran sosiokultural, baik secara situasional, institusional, dan sosial;
7. Pengaruh iklan terhadap perubahan sosial masyarakat;
8. Ideologi yang terdapat pada iklan.

1.2.3 Rumusan Masalah
Dengan adanya batasan masalah yang telah diuraikan, maka masalah yang hendak dijawab dalam penelitian yang berjudul Efektivitas Pengunaan Bahasa Indonesia dalam Iklan Kampanye Partai Politik Pemilu 2009 di Televisi, antara lain sebagai berikut.
1. Bagaimana struktur teks wacana serta intertekstualitas iklan kampanye partai politik di televisi Pemilu 2009?
2. Bagaimana deskripsi praktik wacana (konsumsi/ respon pemirsa) iklan kampanye partai politik di televisi Pemilu 2009?
3. Bagaimana deskripsi praktik sosiokultural (situasional, institusional, dan sosial) wacana iklan kampanye partai politik di televisi Pemilu 2009?
4. Apakah ideologi yang digunakan oleh tiap-tiap partai politik yang tertuang dalam iklan?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan sebagai berikut.
1. Untuk mendeskripsikan struktur teks wacana serta intertekstualitas iklan kampanye partai politik di televisi Pemilu 2009,
2. Untuk mendeskripsikan praktik wacana (konsumsi/ respon pemirsa) iklan kampanye partai politik di televisi Pemilu 2009,
3. Untuk mendeskripsikan praktik sosiokultural wacana iklan kampanye partai politik di televisi Pemilu 2009, dan
4. Apakah ideologi yang digunakan oleh tiap-tiap partai politik yang tertuang dalam iklan?

1.4 Manfaat
Secara praktis, penelitian ini bermanfaat bagi masyarakat dalam menghadapi serbuan iklan politik di media televisi agar dapat berpikir kritis untuk menentukan pilihan dalam menggunakan hak pilihnya. Bagi media televisi diharapkan dapat memberikan kesempatan yang sama bagi peserta pemilu yang ingin mempromosikan partainya. Bagi legislatif, diharapkan dapat membuat tata aturan berkampanye di media televisi agar iklan tersebut dapat memainkan perannya secara efektif.
Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat mengukuhkan pandangan analisis wacana kritis tentang karakteristik wacana – dalam hal ini iklan politik pada media televisi – dalam menciptakan perubahan sosial. Selain itu, bahasa iklan diharapkan agar lebih berkembang sesuai modernitas terkini.

1.5 Definisi Operasional
Untuk menyamakan persepsi dari penelitian ini, penulis mendefinisikan penelitian ini dalam definisi operasional sebagai berikut.
1. Analisis Wacana Kritis dalam penelitian ini menggunakan teori dan metode milik Fairclough. AWK Fairclough digunakan untuk menganalisis wacana iklan kampanye yang dihubungkan dengan dimensi sosial lain, dalam hal ini politik dan ideologi
2. Iklan Kampanye Partai Politik dalam penelitian ini yaitu iklan televisi yang berisi program, visi, maupun misi partai politik Pemilu 2009. Berikut, 10 partai yang berkampanye lewat iklan televisi yang dipilih sebagai bahan analisis dengan menggunakan AWK milik Fairclough.

NO. NAMA PARTAI TOPIK IKLAN NOMOR URUT
1 Partai Hati Nurani (Hanura) krisis 1
2 Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) orang yang berani 4
3 Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) stimulus 5
4 Partai Keadilan dan Persatuan
Indonesia (PKPI) jujur 7
5 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) track record 8
6 Partai Amanat Nasional (PAN) artis 9
7 Partai Golongan Karya (Golkar) swasembada beras 23
8 Partai Persatuan dan Pembangunan (PPP) assalamu’alaikum 24
9 Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDIP) kontrak politik 28
10 Partai Demokrat swasembada beras 31

3. Televisi dalam penelitian ini yaitu sarana yang bersifat audio-visual yang digunakan untuk memperkenalkan dan mempromosikan partai-partai peserta pemilu.
4. Pemilu 2009 dalam penelitian ini yaitu pemilihan anggota legislatif (DPD, DPRD kab/kota, DPRD Propinsi, dan DPR) yang dilaksanakan pada tanggal 9 April 2009 dengan jumlah peserta sebanyak 44 partai politik.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Analisis Wacana Kritis Fairclough
Analisis wacana dalam bentuk analisis wacana kritis (critical discourse analysis/CDA) berarti peneliti menganalisis wacana pada level naskah beserta sejarah dan konteks wacana tersebut. Penelaahaan atas wacana tidak hanya dilakukan pada level naskah namun dilanjutkan pada faktor-faktor yang mempengaruhi naskah.
Fokus analisis wacana kritis yaitu praktik kewacanaan yang mengonstruk representasi dunia dan subjek sosial, dan hubungan kekuasaan dan peran yang dimainkan praktik-praktik kewacanaan untuk melanjutkan kepentingan kelompok sosial khusus. Analisis wacana kritis, kritis di sini berarti bahwa tujuan analisis adalah mengungkap peran praktik kewacanaan dalam upaya melestarikan dunia sosial, termasuk hubungan-hubungan sosial yang melibatkan hubungan kekuasaan yang tak sepadan. Tujuan analisis wacana kritis yaitu menjelaskan dimensi linguistik kewacanaan antara fenomena sosiokultural dengan proses perubahan dalam modernitas terkini. Selain itu, analisis wacana kritis bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara penggunaan bahasa dengan praktik sosial.
Analisis wacana CDA memiliki beberapa model, salah satunya yaitu CDA model Norman Fairclough yang melihat teks (naskah) memiliki konteks. Menurut Fairclough, setiap penggunaan bahasa merupakan peristiwa komunikatif yang terdiri atas tiga dimensi berikut ini.
– Teks (tuturan, pencitraan, visual, atau gabungan ketiganya);
– Praktik kewacanaan yang melibatkan pemroduksian dan pengonsumsian teks; dan
– Praktik sosial (Jorgensen & Phillips, 2007:128).

Proses Produksi
TEKS Deskripsi (Analisis Teks)

Interpretasi (Analisis Proses)
Proses Interpretasi

PRAKTIK
KEWACANAAN

Eksplanasi (Analisis Sosial)

PRAKTIK SOSIOKULTURAL
(situasional; institusional,
dan kemasyarakatan)
Dimensi-Dimensi Discourse Dimensi- Dimensi Analisis Discourse

Gambar 1 CDA Norman Fairclough
(Sumber: http://multiply.com)

Seperti tampak dalam Gambar 1, CDA Norman Fairclough melihat teks sebagai hal yang memiliki konteks baik berdasarkan “process of production” atau “text production”; “process of interpretation” atau “text consumption” maupun berdasarkan praktik sosio-kultural. Dengan demikian, untuk memahami wacana (naskah/ teks) kita tidak dapat melepaskan dari konteksnya. Untuk menemukan ”realitas” di balik teks kita memerlukan penelusuran atas konteks produksi teks, konsumsi teks, dan aspek sosial dan kultural yang mempengaruhi pembuatan teks. Proses pengumpulan data yang multilevel dalam CDA Fairlough ini secara sederhana diperlihatkan dalam Tabel 1.
Tabel 1
Proses Pengumpulan Data dalam CDA Fairclough
(Sumber: http://multiply.com)
No. Level
Masalah Level
Analisis Teknik Pengumpulan Data
1 Teks Mikro – Satu/lebih metode analisis naskah (sintagmatis atau paradigmatis)
2 Praktik
Wacana Meso – Pengamatan Terlibat pada Produksi Naskah, atau
– Depth interview dengan pembuat naskah, atau
– Secondary data tentang pembuatan naskah
3 Praktik
sosiokultural Makro – Depth interview dengan pembuat naskah dan ahli paham dengan tema penelitian
– Secondary data yang relevan dengan tema penelitian
– Penelusuran literatur yang relevan dengan tema penelitian

Tabel 1 itu memperlihatkan bahwa untuk memahami wacana perlu mengumpulkan data pada level mikro, meso, hingga makro.

2.2.1 Teks
Pada dimensi teks, Fairclough membaginya ke dalam tiga elemen dasar, antara lain representasi, relasi, dan identitas.
2.2.1.1 Representasi
Yang ingin dilihat pada elemen representasi adalah bagaimana peristiwa, orang, kelompok, atau apapun, ditampilkan dan digambarkan dalam teks. Representasi oleh Fairclough dapat dilihat dari dua hal. Pertama, representasi dalam anak kalimat. Kedua, representasi dalam kombinasi anak kalimat. Ketiga, representasi dalam rangkaian antarkalimat.
1. Representasi dalam anak kalimat
Menurut Fairclough, ketika seseorang, kelompok, peristiwa, dan kegiatan ditampilkan dalam teks, pada dasarnya pemakai bahasa dihadapkan pada paling tidak beberapa pilihan, yaitu kosakata (vocabulary), metafora, dan tata bahasa (grammar).
a. Kosakata (vocabulary)
Pilihan kosakata yang dipakai terutama berhubungan dengan bagaimana peristiwa, seseorang, kelompok, atau kegiatan tertentu dikategorisasikan dalam suatu set tertentu. Kosakata ini sangat menentukan karena berhubungan dengan pertanyaan bagaimana realitas ditandakan dalam bahasa dan bagaimana bahasa itu memunculkan realitas bentukan tertentu.
b. Metafora
Pilihan pada metafora, menurut Fairclough merupakan kunci bagaimana realitas ditampilkan dan dibedakan dengan yang lain. Metafora bukan hanya persoalan keindahan literer, tetapi juga dapat menentukan apakah realitas itu dimaknai dan dikategorikan sebagai positif ataukah negatif.
c. Tata bahasa (grammar)
Pada tingkat tata bahasa, analisis Fairclough terutama dipusatkan pada apakah tata bahasa ditampilkan dalam bentuk proses ataukah dalam bentuk partisipan.
Dalam bentuk proses, apakah seseorang, kelompok, kegiatan ditampilkan sebagai tindakan, peristiwa, keadaan, ataukah proses mental. Ini terutama didasarkan pada bagaimana suatu tindakan hendak digambarkan.
• Bentuk tindakan, menggambarkan bagaimana aktor melakukan suatu tindakan tertentu kepada seseorang yang menyebabkan sesuatu. Bentuk tindakan umumnya, anak kalimatnya mempunyai struktur transitif .
(subjek + verb + objek)
• Bentuk peristiwa, memasukkan hanya satu partisipan dalam kalimat, baik subjeknya saja maupun objeknya saja.
• Bentuk keadaan, menunjuk pada sesuatu pada sesuatu yang telah terjadi tanpa menyebut dan dapat menyembunyikan subjek pelaku tindakan.
• Bentuk proses mental, menampilkan sesuatu sebagai fenomena, gejala umum, yang membentuk kesadaran khalayak, tanpa menunjuk subjek/ pelaku, dan korban secara spesifik.
Bentuk partisipan, di antaranya, melihat bagaimana aktor-aktor ditampilkan dalam teks. Apakah aktor ditampilkan sebagai pelaku atau korban dalam pemberitaan. Sebagai pelaku, umumnya ditampilkan dalam bentuk kalimat aktif, di mana seorang aktor ditampilkan melakukan suatu tindakan yang menyebabkan sesuatu pada objek/ seseorang. Sebagai korban (atau objek) menunjuk pada sesuatu yang disebabkan oleh orang lain. Strategi wacana yang paling umum digunakan adalah bentuk kalimat pasif. Dalam bentuk ini, hanya ditampilkan korban, karena pelaku dapat disembunyikan atau dihilangkan dalam pemberitaan. Bentuk yang lainnya adalah dengan membentuk nominalisasi, di mana yang ditampilkan adalah bentuk dari suatu kegiatan tanpa perlu menunjuk kepada partisipan atau pihak-pihak yang terlibat.

2. Representasi dalam kombinasi anak kalimat
Pada dasarnya, realitas terbentuk lewat bahasa dengan gabungan antara satu anak kalimat dengan anak kalimat yang lain. Gabungan antara anak kalimat ini akan membentuk koherensi lokal, yakni pengertian yang didapat dari gabungan anak kalimat satu dengan yang lain, sehingga kalimat itu mempunyai arti. Koherensi pada titik tertentu menunjukkan ideologi dari pemakai bahasa.
Berikut bentuk-bentuk koherensi antara anak kalimat.
• Elaborasi. Anak kalimat yang satu menjadi penjelas dari anak kalimat yang lain. Anak kalimat kedua mempunyai fungsi untuk memperinci atau menguraikan anak kalimat yang telah ditampilkan pertama. Umumnya bentuk ini dihubungkan dengan pemakaian kata sambung seperti “yang”, “lalu”, atau “selanjutnya”.
• Perpanjangan. Anak kalimat satu merupakan perpanjangan anak kalimat yang lain. Fungsi anak kalimat yang kedua adalah kelanjutan dari anak kalimat pertama. Perpanjangan ini dapat berupa tambahan (umumnya memakai kata hubung “dan”) atau berupa kontras antara satu anak kalimat dengan anak kalimat yang lain (umumnya memakai kata hubung “tetapi”, “meskipun”, “akan tetapi”, dan sebagainya) atau juga membuat pilihan yang setara antara satu anak kalimat dengan anak kalimat lain (umumnya memakai kata hubung “atau”).
• Mempertinggi, di mana anak kalimat yang satu posisisnya lebih besar dari anak kalimat yang lain. Misalnya, anak kalimat satu menjadi penyebab dari anak kalimat lain (umumnya memakai kata hubung “karena” atau “diakibatkan”).
Penggunaan bentuk koherensi yang berbeda dapat membentuk pemaknaan yang berbeda pula. Hal ini disebabkan oleh bagaimana satu fakta dihubungkan dengan fakta lain.
Kalimat bahasa Indonesia menurut struktur gramatikalnya, dapat berupa kalimat tunggal dapat pula berupa kalimat majemuk. Kalimat majemuk dapat bersifat setara (koordinatif), tidak setara (subordinatif), ataupun campuran (koordinatif-subordinatif).
 Kalimat tunggal, menyatakan gagasan yang tunggal. Kalimat ini terdiri atas satu subjek dan satu predikat.
 Kalimat majemuk setara, terjadi dari dua kalimat tunggal atau lebih. Berikut empat jenis kalimat majemuk setara.
a. Kalimat majemuk setara penjumlahan (perpanjangan), ditandai oleh kata hubung dan atau serta.
b. Kalimat majemuk setara pertentangan (perpanjangan), ditandai oleh kata hubung tetapi.
c. Kalimat majemuk setara perurutan (elaborasi), ditandai oleh kata hubung lalu dan kemudian.
d. Kalimat majemuk setara pemilihan (perpanjangan), ditandai oleh kata hubung atau.
 Kalimat majemuk tidak setara, terdiri atas satu suku kalimat yang bebas dan satu suku kalimat atau lebih yang tidak bebas. Jalinan kalimat ini menggambarkan taraf kepentingan yang berbeda-beda di antara unsur gagasan yang majemuk. Inti gagasan dituangkan ke dalam induk kalimat, sedangkan pertaliannya dari sudut pandangan waktu, sebab, akibat, tujuan, syarat, dan sebagainya dengan aspek gagasan yang lain diungkapkan dalam anak kalimat. Penanda anak kalimat ialah kata walaupun, meskipun, sungguhpun, karena, apabila, jika, kalau, sebab, agar, supaya, ketika, sehingga, setelah, sesudah, sebelum, kendatipun, sekalipun, bahwa, dan sebagainya.
 Kalimat majemuk campuran, terdiri atas kalimat majemuk taksetara (bertingkat) dan kalimat majemuk setara, atau terdiri atas kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk taksetara (bertingkat).

3. Representasi dalam rangkaian antarkalimat
Pada aspek ini berhubungan dengan bagaimana dua kalimat atau lebih disusun dan dirangkai. Aspek ini untuk melihat bagian mana dalam kalimat yang lebih menonjol dibandingkan dengan bagian yang lain. Salah satu aspek penting adalah apakah partisipan dianggap mandiri ataukah ditampilkan memberikan reaksi dalam teks berita. Rangkaian antarkalimat menunjukkan makna yang ingin ditampilkan kepada khalayak.
Agar padu, digunakan pengait antarparagraf, yaitu berupa 1) ungkapan penghubung transisi, 2) kata ganti, atau 3) kata kunci (pengulangan kata yang dipentingkan).
Ungkapan pengait antarkalimat dapat berupa ungkapan penghubung/ transisi (Arifin dan Tasai, 2004: 115).
a. Beberapa Kata Transisi
• Hubungan tambahan : lebih lagi, selanjutnya, tambahan
pula, di samping itu, lalu, berikutnya,
demikian pula, begitu juga, di samping itu,
lagi pula.
• Hubungan pertentangan : akan tetapi, namun, bagaimanapun,
walaupun demikian, sebaliknya,
meskipun begitu, lain halnya.
• Hubungan perbandingan : sama dengan itu, dalam hal yang
demikian, sehubungan dengan itu.
• Hubungan akibat : oleh sebab itu, jadi, akibatnya, oleh
karena itu, maka, oleh sebab itu.
• Hubungan tujuan : untuk itu, untuk maksud itu.
• Hubungan singkatan : singkatnya, pendeknya, akhirnya,
pada umumnya, dengan kata lain,
sebagai simpulan.
• Hubungan waktu : sementara itu, segera setelah itu,
beberapa saat kemudian.
• Hubungan tempat : berdekatan dengan itu.

b. Kata Ganti.
Ungkapan pengait antarkalimat dapat juga berupa kata ganti, baik kata ganti orang maupun kata ganti yang lain.
• Kata Ganti Orang
Pemakaian kata ganti berguna untuk menghindari penyebutan nama orang berkali-kali. Kata ganti yang dimaksud adalah saya, aku, ku, kita, kami (kata ganti orang pertama), engkau, kau, kamu, mu, kamu sekalian (kata ganti orang kedua), dia, ia, beliau, mereka, dan nya (kata ganti orang ketiga).
• Kata Ganti yang Lain
Kata ganti lain yang digunakan dalam menciptakan kepaduan antarkalimat ialah itu, ini, tadi, begitu, demikian, di situ, ke situ, di atas, di sana, di sini, dan sebagainya.
c. Kata Kunci

2.2.1.2 Relasi
Yang ingin dilihat pada elemen relasi adalah bagaimana hubungan antara wartawan, khalayak, dan partisipan ditampilkan dan digambarkan dalam teks. Menurut Fairclough, paling tidak ada tiga kategori partisipan utama dalam media: wartawan (memasukkan di antaranya reporter, redaktur, pembaca berita untuk televisi dan radio), khalayak media, dan partisipan publik, memasukkan di antaranya politisi, pengusaha, tokoh masyarakat, artis, ulama, ilmuwan, dan sebagainya.titik perhatian dari analisis hubungan, bukan pada bagaimana partisipan publik tadi ditampilkan dalam media (representasi), tetapi bagaimana pola hubungan di antara ketiga aktor tadi ditampilkan dalam teks: antara wartawan dengan khalayak, antara partisipan publik, baik politisi, pengusaha, atau lainnya dengan khalayak, dan antara wartawan dengan partisipan publik tadi. Semua analisis hubungan itu diamati dari teks.

2.2.1.3 Identitas
Yang ingin dilihat pada elemen identitas adalah bagaimana wartawan, khalayak, dan partisipan ditampilkan dan digambarkan dalam teks.
Pada elemen ini, melihat bagaimana identitas wartawan ditampilkan dan dikonstruksi dalam teks pemberitaan. Bagaimana wartawan menempatkan dan mengidentifikasi dirinya dengan masalah atau kelompok sosial yang terlibat.

2.2.2 Intertekstualitas
Intertekstualitas merupakan salah satu gagasan penting dari Fairclough yang dikembangkan dari pemikiran Julia Kristeva dan Michael Bakhtin. Intertekstualitas adalah sebuah istilah di mana teks dan ungkapan dibentuk oleh teks yang datang sebelumnya, saling menanggapi dan salah satu bagian dari teks tersebut mengantisipasi lainnya.
Setiap ungkapan dihubungkan dengan rantai dari komunikasi. Semua pernyataan/ ungkapan didasarkan oleh ungkapan yang lain, baik eksplisit mapun implisit. Istilah lainnya adalah dievaluasi, diasimilasi, disuarakan, dan diekspresikan kemabali dengan bentuk lain. Semua pernyataan, dalam hal ini teks, didasarkan dan mendasari teks lain.
Menurut Bakhtin, wacana bersifat dialogis, seorang penulis teks pada dasarnya tidak berbicara dengan dirinya sendiri dan menyuarakan dirinya sendiri. Ia berhadapan dengan suara lain, teks lain.
Intertekstualitas secara umum, dapat dibagi ke dalam dua bagian besar; manifest intertectuality dan interdiscursivity.
1. Manifest intertectuality adalah bentuk intertekstualitas di mana teks yang lain itu muncul scara eksplisit dalam teks. Dalam manifest intertectuality, teks lain hadir secara eksplisit dalam teks, yang muncul misalnya dalam bentuk kutipan. Jenis dari manifest intertectuality, antara lain:
• representasi wacana,
• pengandaian,
• negasi,
• ironi, dan
• metadiscourse.
2. Interdiskursif, menurut Fairclough, dijalankan pada berbagai level: pada tingkat societals, institusional, personal, dan sebagainya. Berikut beberapa elemen dari interdiskursif.
• Genre,
• Tipe aktivitas (activity type),
• Style, dan
• Wacana.

2.2.3 Praktik Kewacanaan
Analisis praktik kewacanaan dipusatkan pada bagaimana teks diproduksi dan dikonsumsi (Jorgensen & Phillips, 2007: 149; Eriyanto, 2008: 316). Kedua hal tersebut berhubungan dengan jaringan yang kompleks yang melibatkan berbagai aspek praktik diskursif. Ada 3 aspek penting dari faktor yang kompleks tersebut.
1. Individu wartawan
Faktor ini berhubungan dan berkaitan dengan para profesional, yang melingkupi:
a. latar belakang pendidikan mereka,
b. perkembangan profesional,
c. orientasi politik dan ekonomi para pengelolanya,
d. keterampilan mereka dalam memberitakan secara akurat,
e. perilaku dan pemahaman terhadap nilai dan kepercayaan mereka, dan
f. proses sosialisasi terhadap bidang pekerjaannya (sebagai pihak yang netral atau aktif dalam mengembangkan suatu berita).
2. Hubungan wartawan dengan struktur organisasi media
Bagaimana hubungan antara wartawan dengan struktur organisasi media, yang terdiri atas: bentuk organisasi, promosi dan jenjang orang-orangnya, proses pengambilan keputusan, khususnya hal-hal yang berada di luar proses rutinitas media.
3. Praktik kerja/ rutinitas kerja dari produksi berita
Produksi teks berhubungan dengan bagaimana pola dan rutinitas (media routine) pembentukan berita di meja redaksi.proses ini melibatkan banyak orang dan banyak tahapan dari wartawan di lapangan, redaktur, editor bahasa, samapai bagian pemasaran.

2.2 4 Praktik Sosiokultural
Menurut Fairclough, praktik sosiokultural dapat diuraikan ke dalam tiga level analisis, antara lain sebagai berikut.
2.2.4.1 Situasional
Teks dihasilkan dalam suatu kondisi atau suasana yang khas, unik, sehingga satu teks bisa jadi berbeda dengan teks yang lain. Kalau wacana dipahami sebagai suatu tindakan, maka tindakan itu sesungguhnya adalah upaya untuk merespon situasi atau konteks sosial tertentu.
2.2.4.2 Institusional
Level institusional melihat bagaimana pengaruh institusi organisasi dalam praktik produksi wacana. Institusi ini bisa berasal dalam diri media sendiri, bisa juga kekuatan-kekuatan eksternal di luar media yang menentukan proses produksi berita. Ekonomi media merupakan faktor institusi yang penting, antara lain:
– pengiklan yang menentukan kelangsungan hidup media,
– khalayak pembaca yang dalam industri modern ditunjukkan dengan data-data seperti oplah dan rating, dan
– persaingan antarmedia.

2.2.4.3 Sosial
Faktor sosial sangat berpengaruh terhadap wacana yang muncul dalam pemberitaan. Menurut Fairclough, wacana yang muncul dalam media ditentukan oleh perubahan masyarakat. Dalam level sosial, budaya masyarakat, misalnya, turut menentukan perkembangan dari wacana media.berbeda dari aspek situasional yang lebih mengarah pada waktu atau suasana yang mikro, aspek sosial lebih melihat pada aspek makro seperti sisitem politik, sistem ekonomi, atau sistem budaya masyarakat secara keseluruhan.
2.3 Iklan Kampanye Televisi
Pertama-tama perlu diperjelas mengenai istilah kampanye. Dari Wikipedia Indonesia, kampanye adalah sebuah tindakan politik yang bertujuan untuk mendapatkan pencapaian dukungan. Usaha kampanye bisa dilakukan oleh perorangan atau sekelompok orang yang terorganisir untuk melakukan pencapaian suatu proses pengambilan keputusan di dalam suatu kelompok. Kampanye biasa juga dilakukan guna mempengaruhi, menghambat, membelok pencapaian, Dalam sistem politik demokrasi, kampanye politis berdaya mengacu pada kampanye elektoral pencapaian dukungan, di mana wakil terpilih atau referenda diputuskan. Kampanye politis merupakan tindakan politik yang berupaya meliputi usaha terorganisir untuk mengubah kebijakan di dalam suatu institusi.
Kampanye umumnya berbentuk slogan, pembicaraan, barang cetakan, penyiaran barang rekaman berbentuk gambar atau suara, simbol-simbol. Pada sistem politik otoliter, kampanye sering dapat dilakukan ke dalam bentuk tindakan intimidasi, propaganda, atau dakwah. Kampanye dijalankan pada awalnya bertujuan untuk sebuah rekayasa pencitraan, kemudian berkembang menjadi upaya persamaan pengenalan sebuah gagasan atau isu.
Selanjutnya penjelasan mengenai iklan televisi. Dikutip dari Peni, iklan televisi dituntut untuk memiliki estetika yang menyangkut indra pendengaran dan penglihatan. Untuk itu copywriting untuk iklan televisi memiliki karakteristik tertentu.
Iklan televisi memiliki beberapa karakteristik khusus. Pertama, pesan dari produk dapat dikomunikasikan secara total, yaitu audio, visual, dan gerak. Hal ini mampu menciptakan kelenturan bagi pekerja kreatif untuk mengkombinasikan gerakan, kecantikan, suara, warna, drama, humor, dan lain-lain. Kedua, iklan di televisi memiliki sarana paling lengkap untuk eksekusi. Ketiga, iklan ditayangkan secara sekelebat.
Dengan sifatnya yang audio-visual, rancangan iklan di televisi memuat:
1. Script yang terdiri dari dua kolom.
a. Satu kolom sebelah kiri dibuat untuk melukiskan rentetan adegan.
Kolom kiri ini disebut dengan judul visual atau video.
b. Kolom sebelah kanan dibuat untuk menjelaskan suara apa saja yang
harus atau akan terdengar pada saat visual ditampilkan.
Script ini merupakan panduan untuk membuat storyboard.
2. Gambar
Gambar yang ditampilkan, yaitu seperti produk yang ditawarkan, gambar orang, kartun, maupun adegan lain sesuai dengan jalannya cerita yang tertera dalam script.
Rancangan iklan televisi yang memuat script dan gambar. Keduanya inilah yang disebut dengan storyboard. Storyboard ini merupakan panduan bagi film director atau sutradara pada saat shooting dilaksanakan. Gambar-gambar dalam storyboard menggambarkan lajur visual dalam script. Di samping itu, teks (yang dalam storyboard biasanya ditulis di bawah atau disamping gambar) melukiskan kolom atau lajur audio/ sound dalam script.
Menulis script sebaiknya jangan terlalu rinci dalam hal teknik pengambilan gambar, agar tidak membatasi kebebasan sutradara atau kameraman dalam melakukan pengambilan gambar. Gambar-gambar yang ada pada storyboard hanyalah key frames (gambar utama dari serangkaian adegan).
Dalam satu detik, film bergerak terdiri dari 24 -25 frame. Tidak mungkin strory board dibuat untuk memenuhi tuntutan tersebut. Jumlah 24-25 frame tersebut disebut kecepatan normal untuk mata manusia. Bila kurang dari jumlah tersebut, hasil filmnya akan menjadi film berkecepatan lamban (slow motion). Jika kebetulan copywriter memang menguasai bidang kamera, sebaiknya dibicarakan secara lisan dengan sutradara.
Memang idealnya, seorang copywriter iklan televisi – mengenal atau mempelajari bagaimana membuat film. Dia harus tahu teknik dasar menggunakan kamera (termasuk istilah-istilahnya) agar mampu meningkatkan kreativitas dalam menciptakan film iklan. Kecuali itu, pengetahuan ini diperlukan agar nantinya ketika storyboard itu diproduksi, ia dapat mengerti penjelasan dari sutradara dan biasa berkomunikasi dengan kameraman di lapangan. Bahkan sampai hasil shooting itu disunting, ia mampu berdiskusi dengan penyunting film.
Berikut ini peralatan untuk memproduksi iklan televisi.
1. Tokoh, dapat terdiri dari bintang film, tokoh masyarakat, anak-anak, ataupun tokoh kartun yang mampu mendukung gambaran brand.
2. Suara manusia atau voice biasanya disingkat VO.
3. Suara manusia terdiri dari suara perempuan atau female voice yang disingkat FVO dan suara laki-laki male voice yang disingkat MVO
4. Musik
5. Lagu/jingle
6. Sound effect (SFX)
7. Visual effect
8. Super (super imposed), yaitu huruf, tulisan, atau gambar grafis yang dimunculkan atau dicetak di atas gambar. Biasanya super menampilkan nama atau merk produk, nama perusahaan, slogan, dan lain-lain dengan maksud melengkapi atau memperjelas pesan.
9. Warna
Untuk membuat iklan televisi terlebih dahulu orang-orang kreatif merancangnya dalam bentuk script dan storyboard. Setelah disetujui oleh pengiklan barulah rancangan iklan itu dibuat di production house.
Publik yang menjadi sasaran iklan adalah anggota masyarakat, calon konsumen, dan konsumen (atau siapa saja yang memerlukan produk). Jika pesan dalam iklan kampanye televisi telah sampai pada publik, maka setidaknya dapat menjadi referensi untuk selanjutnya dipilih salah satu sesuai dengan keinginan hati dan sejalan dengan pemikiran mereka.
Partai politik yang berkampanye dengan beriklan di televisi memiliki tujuan-tujuan yaitu, mempertahankan simpatisan partai mereka supaya tetap memilih partai mereka dan tidak berpindah ke partai lain. Juga untuk mendapatkan kembali pemilih yang hilang, setelah berpindah ke partai lain. Selain itu, untuk merekrut pemilih baru.
Disebutkan oleh Eddy Yehuda bahwa periklanan merupakan suatu proses, yakni proses pembuatan iklan. Periklanan yang baik itu ditentukan oleh: pemilihan media oleh media bayer, kreatifnya iklan di biro iklan, pesan yang kreatif (yang dirancang oleh Visualiser dan Copywriter), serta pesan iklan sangat persuasif bagi konsumen. Di samping itu, produknya sendiri harus menarik untuk dibeli, di antaranya harganya bersaing, kemasannya menarik, distribusinya merata, promosi yang gencar, dan sebagainya.
Menurut Peni, sifat audio-visual yang dimiliki iklan televisi, menjadi kekuatan sebagai media yang dapat mempengaruhi persepsi publik. Selain itu, dengan jutaan pasang mata yang menonton secara teratur iklan televisi, dimanfaatkan oleh partai politik sebagai pengiklan dengan efisiensi biaya sehingga menjangkau massa yang lebih luas.
Kelemahan yang terdapat pada iklan televisi yaitu biaya produksi dan siar, membuat pengiklan, dalam hal ini partai politik yang umumnya baru dan partai-partai kecil, memutar otak atau membatasi untuk beriklan di televisi atau bahkan menghindarinya dan mencari cara lainnya untuk berkampanye. Peni menyebutkan, besarnya biaya ini dihitung dari pembayaran artis, production house, dan membeli waktu media televisi yang sangat besar.

2.4 Pemilu dan Partai Politik
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, Pemilihan Umum (Pemilu) adalah suatu proses di mana para pemilih memilih orang-orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu. Jabatan-jabatan yang disini beraneka-ragam, mulai dari presiden, wakil rakyat di pelbagai tingkat pemerintahan, sampai kepala desa. Pada konteks yang lebih luas, Pemilu dapat juga berarti proses mengisi jabatan-jabatan seperti ketua OSIS atau ketua kelas, walaupun untuk ini kata ‘pemilihan’ lebih sering digunakan. Sistem Pemilu digunakan adalah asas luber dan jurdil.
Dalam Pemilu, para pemilih dalam Pemilu juga disebut konstituen, dan kepada merekalah para peserta Pemilu menawarkan janji-janji dan program-programnya pada masa kampanye. Kampanye dilakukan selama waktu yang telah ditentukan, menjelang hari pemungutan suara.
Partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik – (biasanya) dengan cara konstitusional – untuk melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan mereka.
Dalam negara demokratis partai politik menyelenggarakan beberapa fungsi antara lain sebagai sarana komunikasi politik, sarana sosialisasi politik, sarana recruitment politik, dan sarana pengatur konflik.
Jelang Pemilu 2009, ditilik dari kecenderungan memilih terdapat 4 kelompok pemilih terhadap partai politik peserta pemilu, seperti dikutip dari rubrik Opini Media Indonesia (20 November 2008) “Pemilih Adalah Raja” oleh Dr. Ali Masykur Musa (anggota DPR) berikut ini. Dijelaskan olehnya bahwa tren pemilih kian mengerucut ke dalam empat kelompok.
Pertama, pemilih tetap (permanent voter) atau biasa disebut pemilih loyal (loyal voter). Mereka menjadi anggota parpol dan memilih parpol, tidak sekadar ikut-ikutan, melainkan berposisi secara ideologis sebagai konstituen permanen parpol. Karena mempunyai keterkaitan kultural, historis, dan ideologis, kelompok ini cenderung setia dan tak dapat digoyahkan.
Kedua, pemilih pemula, pemilih ini rata-rata berusia 17 hingga 22 tahun. Para pemilih pemula ini relative kurang mempunyai literasi politik memadai sehingga mereka cenderung “ikut-ikutan” tren di lingkungan mereka tinggal. Paling tidak mereka akan memilih parpol yang dianggap mempunyai citra gaul dan budaya pop.
Ketiga, pemilih pindah haluan (swing voter). Kelompok ini rata-rata adalah mereka yang tidak mempunyai keterkaitan apapun dengan parpol manapun. Namun tak menutup kemungkinan terjadi peralihan pemilih dari kelompok permanent voter karena dimotivasi akumulasi kekecewaan terhadap parpol lama dan mereka beralih ke parpol baru.
Keempat, massa mengambang (floating mass). Kelompok ini tidak terikat dengan parpol tertentu, yang karenanya mereka belum menentukan pilihan. Dalam beberapa studi kelompok ini bahkan menduduki porsi terbesar dalam suatu pemilihan. Salah satu pintu kemenangan politik bagi parpol atau calon pemimpin adalah sebaik apa mereka mampu menggarap massa mengambang ini. Masa mengambang inilah yang berpotensi besar menjadi golput.
Setelah pemungutan suara terhadap partai politik dilakukan, proses penghitungan dimulai. Pemenang Pemilu ditentukan oleh aturan main atau sistem penentuan pemenang yang sebelumnya telah ditetapkan dan disetujui oleh para peserta, dan disosialisasikan ke para pemilih.

2.5 Politik dan Kekuasaan
2.5.1 Politik
Politik adalah bermacam-macam dalam suatu sistem politik (atau negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu.
Politik selalu menyangkut tujuan-tujuan dari seluruh masyarakat (public goals), dan bukan tujuan pribadi seseorang (private goals). Hal ini dikarenakan politik menyangkut kegiatan berbagai-bagai kelompok termasuk partai politik dan kegiatan orang perorang (individu).
2.5.2 Kekuasaan
Manusia mempunyai bermacam-macam keinginan dan tujuan yang ingin sekali dicapainya. Untuk itu dia sering merasa perlu untuk memaksakan kemauannya atas orang atau kelompok lain. Hal ini menimbulkan perasaan pada dirinya bahwa mengendalikan orang lain adalah syarat mutlak untuk keselamatannya sendiri. Maka dari itu bagi orang banyak, kekuasaan itu merupakan suatu nilai yang ingin dimilikinya. Kekuasaan sosial terdapat dalam semua hubungan sosial dan dalam semua organisasi sosial.
Menurut Ossip K Flechtheim, kekuasaan sosial adalah “keseluruhan dari kemampuan, hubungan-hubungan, dan proses-proses yang menghasilkan ketaatan dari pihak lain … untuk tujuan-tujuan yang ditetapkan oleh pemegang kekuasaan” (Social power is the sum total of all those capacities, relationships, and processes by which compliance of others is secured … for ends determined by the power holder).
Definisi yang diberikan oleh Robert M. MacIver adalah “Kekuasaan sosial adalah kemampuan untuk mengendalikan tingkah laku orang lain, baik secara langsung dengan jelas memberi perintah, maupun secara tidak langsung dengan mempergunakan segala alat dan cara yang tersedia” (Social power is the capacity to control the behavior of others either directly by flat or indirectly by the manipulation of available means).
Iklan politik merupakan alat untuk mempromosikan partai – baik program, visi, maupun misinya – yang secara tidak langsung memiliki kemampuan dalam mempengaruhi, mengendalikan, bahkan menciptakan perubahan sosial. Dengan demikian, dapat dikatakan kekuasaan sosial tampak dalam iklan politik.

2.7 Perubahan Sosial
Dalam penelitian ini digunakan model CDA Fairclough yang mengintegrasikan wacana pada perubahan sosial. Untuk itu, perlu adanya penjelasan mengenai pembahasan yang satu ini. Pertama, perubahan sosial (masyarakat) diartikan sebagai perubahan, perkembangan dalam arti positif maupun negatif. Perubahan ini dapat terjadi pada struktur sosial dan pola-pola hubungan sosial yang antara lain mencakup sistem status, hubungan-hubungan dalam keluarga, sistem-sistem politik dan kekuatan, dan persebaran penduduk.
Menurut Ranjabar (2008: 12), perubahan dalam masyarakat telah ada sejak zaman dahulu. Bedanya dengan masa kini adalah perubahan-perubahan tersebut terjadi dengan sangat cepat sehingga kadang-kadang membingungkan manusia yang menghadapinya.
Proses-proses perubahan sosial pada dewasa ini dapat diketahui dari adanya ciri-ciri atau tanda-tanda tertentu. Di antaranya, differential social organization, kemajuan di bidang IPTEK mendorong perubahan pemikiran (ideologi, politik, dan ekonomi), mobilitas, culture conflict, perubahan yang direncanakan dan yang tidak direncanakan, dan kontroversi (pertentangan).
Hal-hal seperti, penemuan-penemuan baru, struktur sosial (perbedaan posisi dan fungsi dalam masyarakat), inovasi, perubahan lingkungan hidup, ukuran penduduk dan komposisi penduduk, serta inovasi dalam teknologi merupakan penyebab terjadinya perubahan sosial.
Toleransi, sistem terbuka lapisan masyarakat, penduduk yang heterogen, rasa tidak puas, karakter masyarakat, pendidikan, dan ideologi merupakan faktor pendorong terjadinya perubahan sosial.
Di samping itu, dalam perubahan sosial pun terdapat hambatan yang menghalanginya, antara lain kehidupan masyarakat yang terasing, perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat, sikap masyarakat yang sangat tradisional, adanya kepentingan yang tertanam, adanya prasangka, serta adat istiadat atau kebiasaan.
Faktor-faktor seperti adanya kepentingan individu dan kelompok, timbulnya masalah sosial, kesenjangan budaya, serta kehilangan semangat hidup adalah risiko perubahan sosial.

BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta kebahasaan khususnya dalam hal bahasa teks iklan kampanye partai politik di televisi.
3.2 Sumber dan Korpus
Data penelitian ini diambil dari tayangan iklan di televisi. Korpus penelitian ini adalah iklan berisi wacana dalam bentuk perkataan atau ucapan yang memuat pesan kampanye partai politik Pemilu 2009, serta tulisan yang tertera di dalamnya.
Iklan kampanye partai politik yang menjadi bahan analisis dalam penelitian ini adalah iklan yang tayang pada masa-masa akhir kampanye dan mendekati jadwal Pemilu legislatif, yaitu pada 1 Januari 2009–5 April 2009. Hal ini dipilih dengan pertimbangan bahwa pada rentang waktu tersebut, partai politik banyak dan beragam.
Berikut daftar beberapa partai politik yang beriklan di televisi menjelang Pemilu 2009 dan menjadi bahan analisis adalah sebagai berikut.

NO. NAMA PARTAI TOPIK IKLAN NOMOR URUT
1 Partai Hati Nurani (Hanura) krisis 1
2 Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) orang yang berani 4
3 Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) stimulus 5
4 Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) jujur 7
5 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) track record 8
6 Partai Amanat Nasional (PAN) artis 9
7 Partai Golongan Karya (Golkar) swasembada beras 23
8 Partai Persatuan dan Pembangunan (PPP) assalamu’alaikum 24
9 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) kontrak politik 28
10 Partai Demokrat swasembada beras 31

3.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik rekam dan catat. Peneliti merekam iklan berisi wacana dalam bentuk perkataan atau ucapan yang memuat pesan kampanye partai politik Pemilu 2009 dan juga mencatat tulisan yang tertera di layar televisi. Iklan kampanye yang dimaksud ialah iklan yang menampilkan lambang partai, nomor urut, visi, maupun misi partai yang bersangkutan. Selain itu juga menampilkan isu-isu yang tengah berkembang. Di samping teknik rekam dan catat, peneliti juga menggunakan angket untuk menjaring respon pemirsa televisi terhadap iklan kampanye. Hal ini akan menunjukkan interpretasi pemirsa dan keefektifan iklan kampanye di televisi.

3.4 Teknik Pengolahan Data
Dalam analisis wacana sebagai metode penelitian sosial lazimnya memakai dua jenis teori, teori substantif dan teori wacana. Teori substantif dalam penelitian ini adalah teori politik. Teori subtanstif diperlukan untuk menjelaskan bidang permasalahan penelitian analisis wacana dari perpektif teori yang bersangkutan. Adapun teori wacana diperlukan untuk membantu menganalisis naskah yang menjadi obyek kajian analisis wacana. Penelitian ini menerapkan metode Critical Discourse Analysis (CDA). Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan langkah-langkah. Berdasarkan proses pengumpulan data dalam CDA Fairclough, data akan dianalisis dengan tahapan sebagai berikut.
Untuk menganalisis teks yang bersumber dari rekaman iklan sebagai data primer dilakukan dengan analisis deskriptif mengenai aspek-aspek linguistik/ kebahasaan. Di samping itu, untuk menganalisis praktik wacana (pengonsumsian teks) dikaji dengan analisis interpretatif dengan menggunakan model jarum hipodermik, sedangkan praktik sosiokultural dikaji dengan analisis eksplanatif. Selain itu juga, dilakukan kajian tentang konsep intertekstualitas sebagai unsur penting dalam periklanan atau proses pembuatan iklan kampanye partai politik di televisi.
Berdasarkan proses pengumpulan data dalam CDA Fairclough, data yang terkumpul selanjutnya dianalisis antara lain sebagai berikut.
1. a. Untuk menganalisis data pada level masalah teks wacana, dilakukan dengan menggunakan metode analisis naskah. Analisis naskah yang digunakan adalah analisis sintagmatis.
b. Untuk menganalisis data pada level masalah intertekstualitas, dilakukan dengan menggunakan analisis sintagmatis dan wacana teks-teks lain yang berkaitan.
2. Untuk menganalisis data pada level masalah praktik sosiokultural, dilakukan langkah-langkah sebagai berikut.
– Penelusuran data yang relevan dengan tema penelitian
– Penelusuran literatur yang relevan dengan tema penelitian
3. Untuk menganalisis data pada level masalah praktik wacana, dilakukan langkah penelusuran data tentang respon pemirsa televisi terhadap iklan kampanye dengan menggunakan model jarum hipodermik, seperti berikut ini.

– Variabel Komunikator – perhatian – perubahan kognitif
(kredibilitas, daya tarik, – pengertian – perubahan afektif
kekuasaan) – penerimaan – perubahan
– Variabel Pesan behavioral
(struktur, gaya, appeals)
– Variabel Media

Gambar 2
Model Jarum Hipodermik
(Sumber: Jalaluddin, 1997)

3.5 Instrumen Penelitian
Dalam mengumpulkan data, peneliti menggunakan alat perekam untuk merekam iklan berisi wacana dalam bentuk perkataan atau ucapan yang memuat pesan kampanye partai politik Pemilu 2009 dan angket untuk menjaring respon pemirsa televisi terhadap iklan kampanye. Dalam penelitian ini, peneliti juga menggunakan referensi literatur yang relevan dengan tema penelitian.
Berikut sistematika analisis, di antaranya analisis tekstual, intertekstualitas, praktik kewacanaan, praktik sosial, dan ideologi.
1. Analisis Teks dan Intertekstualitas
Variabel Teks (Mikro)
No. Unsur Pemaparan
1 Representasi Dalam anak kalimat:
 Kosakata
 Tata bahasa (grammar)
 Metafora
Kombinasi anak kalimat:

Rangkaian antarkalimat:
2 Relasi
3 Identitas

Intertekstualitas
No. Unsur Pemaparan
1 Manifest Intertectuality:
Representasi wacana
Pengandaian
Negasi
Ironi
Metadiscourse
2
Interdiscursivity:
Genre
Tipe aktivitas
Gaya
Wacana

2. Analisis Praktik Sosiokultural
Variabel Praktik Sosiokultural (Makro)
No. Unsur Pemaparan
1 Situasional
2 Institusional
3 Sosial

3. Analisis Praktik Kewacanaan
Analisis untuk menjaring respon (interpretasi) pemirsa digunakan model jarum hipodermik, yaitu model yang mengungkapkan penelitian-penelitian persuasi yang bersifat linear dan satu arah dan memandang komponen komunikasi (komunikator, pesan, media) mempunyai pengaruh komunikasi yang kuat (Jalaluddin, 1997: 63). Penggunaan model tersebut sebagai suatu solusi penelitian ini, di mana model CDA Fairclough tidak membahas dan menjelaskan secara detail tentang model untuk menganalisis interpretasi (respon) pemirsa televisi dengan menggunakan angket. Berikut 16 pertanyaan untuk menjaring respon pemirsa.
Variabel Praktik Wacana (Meso)
Pertanyaan Angket
1. Seberapa sering Anda menonton iklan kampanye partai politik di televisi?
a. sering b. jarang c. tidak pernah

2. Apakah Anda tertarik dengan tema ‘perubahan’ yang ditawarkan oleh partai baru?
a. tertarik b. kurang tertarik c. tidak tertarik

3. Pilih di antara berikut, ajakan dengan tema ‘perubahan’ mana yang menurut Anda menarik?
a. Partai Peduli Rakyat Nasional, pilihan orang yang berani melakukan perubahan.
b. Sebuah gagasan dari partai yang membawa perubahan, Gerindra.
c. Untuk perubahan, pilih PAN nomor sembilan!
d. Ayo, kita lakukan perubahan!

4. Apakah Anda percaya dengan kemampuan partai yang beriklan di televisi tersebut dapat memenuhi janji-janjinya?
a. percaya b. kurang percaya c. tidak percaya

5. Apakah Anda percaya pada keberhasilan partai yang dimunculkan dalam iklan?
a. percaya b. kurang percaya c. tidak percaya

6. Di antara keberhasilan partai berikut, mana yang Anda percayai?
a. Menolak seluruh uang suap, gak pernah terlibat satu pun kasus korupsi, apalagi skandal DPR.
b. Tahun 2008 Partai Golkar di DPR dan di pemerintahan berhasil mewujudkan swasembada beras.
c. Pada tahun ini, kita kembali mencapai swasembada beras.

7. Apakah penggunaan ajakan dari teks-teks iklan di atas dapat mendorong Anda untuk memilih partai tersebut?
a. mendorong b. kurang mendorong c. tidak mendorong

8. Menurut Anda, di antara berikut ini mana yang dapat mendorong Anda untuk memilih
partai yang bersangkutan?
a. Ayo, bekerja dengan hati bersama partai Hanura!
b. Jika Anda ingin perubahan, pilih partai nomor 4!
c. Jadi, jangan lupa contreng PDI Perjuangan nomor dua delapan!
d. Mari kita dukung terus!

9. Apakah Anda mengerti isi/maksud dari teks iklan di atas?
a. mengerti b. kurang mengerti c. tidak mengerti

10. Di antara berikut ini, mana yang lebih Anda pahami atau mengerti maksudnya?
a. Itulah stimulus bagi rakyat.
b. Hanya dengan kejujuran kita bisa mengatasi masalah bangsa ini.
c. Masa depan ada di tangan kita, bukan di tangan orang lain.
d. Tanpa persatuan tidak ada pembangunan.

a. Apakah uraian mengenai janji partai berpengaruh terhadap pilihan partai pada Pemilu 2009?
a. berpengaruh b. kurang berpengaruh c. tidak berpengaruh

12. Manakah di antara berikut ini yang dapat mempengaruhi pilihan Anda pada Pemilu 2009?
a. Hanura untuk rakyat.
b. Itulah stimulus bagi rakyat.
c. PKPI Indonesia bersama satu tujuan membangun Indonesia.
d. Pilih caleg-caleg PKS untuk DPR lebih baik!
e. Kita mampu untuk Indonesia baru.

13. Apakah tokoh-tokoh partai yang muncul dalam iklan berpengaruh terhadap pilihan partai pada Pemilu 2009?
a. berpengaruh b. kurang berpengaruh c. tidak berpengaruh

14. Di antara tokoh-tokoh yang muncul dalam iklan di atas, mana yang mempengaruhi Anda dalam menentukan pilihan?
a. “Kenapa harus takut?” begitulah kata Wiranto
b. Saya Prabowo Subianto, dengan gagasan dari partai Gerindra
c. Prof. Ir. Meutia Hatta Swasono (Ketua PKPI) : Hanya dengan kejujuran kita bisa mengatasi masalah bangsa ini.
d. Sutrisno Bachir (Ketua PAN) : Kita mampu untuk Indonesia baru.
e. Jusuf Kalla (Ketua Umum Partai Golkar) : Terus dukung kami untuk memajukan kesejahteraan bangsa!
f. SBY : Saya menyampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia.

15. Apakah Anda menyukai partai yang peduli terhadap rakyat kecil?
a. menyukai b. kurang menyukai c. tidak menyukai
16. Setelah melihat iklan kampanye di televisi, apakah berpengaruh pada berubahnya pilihan Anda pada Pemilu 2009 kemarin?
a. berpengaruh b. kurang berpengaruh c. tidak berpengaruh

BAB 4
ANALISIS DATA

Iklan kampanye partai politik yang menjadi bahan analisis dalam penelitian ini adalah iklan yang tayang pada masa-masa akhir kampanye dan mendekati jadwal Pemilu legislatif, yaitu pada 1 Januari 2009–5 April 2009. Hal ini dipilih dengan pertimbangan bahwa pada rentang waktu tersebut, partai politik sedang gencar-gencarnya beriklan di televisi dan disebabkan juga oleh iklan kampanye yang lebih beragam.
Berikut daftar beberapa partai politik yang beriklan di televisi menjelang Pemilu 2009 dan menjadi bahan analisis adalah sebagai berikut.
NO. NAMA PARTAI TOPIK IKLAN NOMOR URUT
1 Partai Hati Nurani (Hanura) krisis 1
2 Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) orang yang berani 4
3 Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) stimulus 5
4 Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) jujur 7
5 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) track record 8
6 Partai Amanat Nasional (PAN) artis 9
7 Partai Golongan Karya (Golkar) swasembada beras 23
8 Partai Persatuan dan Pembangunan (PPP) assalamu’alaikum 24
9 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) kontrak politik 28
10 Partai Demokrat swasembada beras 31
4.1 Analisis Teks, Intertekstual, dan Praktik Sosiokultural
4.1.1 Iklan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)
Teks Iklan
(1) MVO: 2009, krisis di depan mata.
(2) “Kenapa harus takut?” begitulah kata Wiranto.
(3) Beragam krisis telah menempanya menjadi sosok yang tangguh, tak tergoda kekuasaan, menomorsatukan kedaulatan.
(4) Wiranto : ABRI mengajak semua pihak agar bersikap tenang.
(5) MVO : Kini hati nuraninya kembali terpanggil.
(6) Wiranto : Ayo, bekerja dengan hati bersama Partai Hanura!
(7) Lagu: Hanura untuk rakyat

4.1.1.1 Analisis Teks dan Intertekstualitas
Tabel 4.1.1.1.1
Variabel Teks (Mikro)
No. Unsur Pemaparan
1 Representasi Dalam anak kalimat:
Kosakata
(4) ABRI mengajak semua pihak agar bersikap tenang.
(6) Ayo, bekerja dengan hati bersama partai Hanura!

Tata bahasa (grammar)
(4) ABRI (S) mengajak (P) semua pihak (O) agar bersikap tenang (K).

Metafora
(5) Kini hati nuraninya kembali terpanggil.
(6) Ayo, bekerja dengan hati bersama partai Hanura!
Kombinasi anak kalimat:
(3) Beragam krisis telah menempanya menjadi sosok yang tangguh, tak tergoda kekuasaan, menomorsatukan kedaulatan.
Rangkaian antarkalimat:
(2) “Kenapa harus takut?” begitulah kata Wiranto.
(3) Beragam krisis telah menempanya menjadi sosok yang tangguh, tak tergoda kekuasaan, menomorsatukan kedaulatan.
2 Relasi (4) Wiranto: ABRI mengajak semua pihak agar bersikap
tenang.
(6) Wiranto: Ayo, bekerja dengan hati bersama Partai
Hanura!
3 Identitas (2) “Kenapa harus takut?” begitulah kata Wiranto.
(3) Beragam krisis telah menempanya menjadi sosok yang
tangguh, tak tergoda kekuasaan, menomorsatukan
kedaulatan.
(7) Lagu: Hanura untuk rakyat

PEMBAHASAN TABEL 4.1.1.1.1
1. Representasi
– Representasi dalam anak kalimat
Kosakata
(4) ABRI mengajak semua pihak agar bersikap tenang.
Penggunaan kata mengajak tersebut memiliki konotasi yang halus dibandingkan dengan kata ‘menyuruh’ atau lainnya. ABRI digambarkan memiliki hubungan baik dengan pihak-pihak yang dimaksudkan pada masa itu (1998), yang menunjukkan tidak adanya tingkatan, apakah yang satu lebih di atas daripada yang lainnya. Kata tersebut mengindikasikan kesetaraan.
(6) Ayo, bekerja dengan hati bersama partai Hanura!
Interjeksi ajakan ayo diiringi verba intransitif bekerja. Di sini tidak ada yang menyuruh melakukan atau disuruh melakukan, misalnya ‘ayo pilih’. Bekerja adalah sebuah konotasi untuk melakukan upaya dengan disertai kerja keras, bukan sekadar memilih dan selesai sampai di situ. Akan tetapi, ini berlanjut pada kerja selanjutnya.

Tata bahasa (grammar)
(4) ABRI mengajak semua pihak agar bersikap tenang.
Pada kalimat (5), terdapat potongan kata-kata Wiranto pada saat menjabat sebagai Panglima ABRI (1998). Dalam teks, digambarkan dalam bentuk peristiwa yang menunjukkan bagaimana pada posisinya, menampilkan Wiranto sebagai perwakilan ABRI, sebagai pelaku yang menyuruh semua pihak untuk bersikap tenang.
Metafora
(6) Ayo, bekerja dengan hati bersama partai Hanura!
Dalam kalimat imperatif tersebut terdapat metafora yang digunakan untuk mengajak pemirsa untuk bekerja bersama Partai Hanura. Metafora tampak pada penggunaan ‘bekerja dengan hati’. Penggunaan tersebut memiliki makna lain yaitu tidak sekadar bekerja yang berhubungan dengan fisik atau otak, tetapi menyertakan hati yang lebih bersifat psikis. Ini disebut personifikasi, bila bekerja tersebut dihubungkan dengan pertanyaan ‘dengan siapa dia bekerja’. Jawabannya adalah dengan A, B, atau C. Hati di sini dianggap orang/ benda hidup. Penggunaan seperti ini, dapat mengindikasikan bahwa kegiatan bekerja harus dibarengi dengan hati/ keyakinan dan tidak cukup dengan fisik/ otak saja. Ini ditujukan untuk memberi arti atau makna dalam setiap pekerjaan yang dilakukan.
(5) Kini hati nuraninya kembali terpanggil.
Pada (5), hati nurani dianggap sama atau diposisikan seperti manusia (personifikasi). Di sini tidak mungkin hati bisa dipanggil atau terpanggil. Jika dia memilikinya, dapat dikatakan dia mempunyai telinga untuk mendengar panggilan tersebut seperti manusia. Menggunakan hati nurani dapat diartikan memiliki nilai kemanusiaan, jauh dari kekerasan. Hal ini tentu kontras dengan keadaan pada masa itu yang tidak terkendali, identik dengan suasana kerusuhan bahkan kekerasan.
– Representasi kombinasi anak kalimat
(3) Beragam krisis telah menempanya menjadi sosok yang tangguh, tak tergoda kekuasaan, menomorsatukan kedaulatan.
Penggunaan elaborasi yang ditandai oleh kata sambung relatif yang digunakan untuk memperinci dan menguraikan sosok Wiranto. Sosoknya antara lain digambarkan sebagai seorang yang tangguh, tidak tergoda kekuasaan, dan mementingkan kedaulatan.
– Representasi rangkaian antarkalimat
(1) 2009, krisis di depan mata.
(2) “Kenapa harus takut?” begitulah kata Wiranto.
(3) Beragam krisis telah menempanya menjadi sosok yang tangguh, tak tergoda kekuasaan, menomorsatukan kedaulatan
Sosok Wiranto adalah pusat dalam iklan ini. Dia digambarkan lebih rinci daripada Partai Hanura sendiri. Dari awal sampai akhir yang ditampilkan dalam iklan tersebut adalah ketua Partai Hanura, Wiranto. Ini menunjukkan bahwa iklan ini menggunakan latar dengan mengangkat sosoknya sebagai bahan yang sedang dijual dengan menyinggung peristiwa pada rentang atau jarak antara masa lalu (1998) dan keberadaannya sekarang sebagai Ketua Partai Hanura (2009).

2. Relasi
Empat pihak muncul dalam iklan ini, yaitu Wiranto; ABRI; Partai Hanura; dan rakyat Indonesia. Dalam teks iklan disebutkan bahwa Wiranto memiliki kaitan yang erat dengan ABRI. Pada (4) Wiranto: ABRI mengajak semua pihak agar bersikap tenang, Wiranto ditampilkan sebagai orang yang memiliki jabatan yang tinggi di tubuh ABRI, yang terbukti pada tindakannya saat berbicara di depan khalayak atas nama ABRI.
Partai Hanura digambarkan sebagai partai yang mengajak bermitra dengan rakyat yang ditunjukkan dengan adanya penggunaan kata bekerja yang terdapat pada (6), “Ayo, bekerja dengan hati bersama partai Hanura!”

3. Identitas
Wiranto mendapat porsi lebih dalam iklan ini. Lebih dari sekadar ketua Partai Hanura, tetapi juga untuk membuka dan menunjukkan sosoknya pada masa lalu yang masih kontra sampai sekarang kepada khalayak.
(2) “Kenapa harus takut?” begitulah kata Wiranto.
(3) Beragam krisis telah menempanya menjadi sosok yang tangguh, tak tergoda kekuasaan, menomorsatukan kedaulatan.
Pernyataan “kenapa harus takut?” menunjukkan bahwa dia tidak takut. Penggunaan kalimat interogatif tersebut memiliki makna menantang dan menegaskan bahwa dia benar-benar tidak takut. Jika dibahasakan kembali, seolah-olah dia ingin mengatakan bahwa krisis itu tidak ada apa-apanya, apa yang harus ditakutkan.
Posisi pemirsa dalam iklan ini adalah sebagai calon pemilih atau rakyat dalam teks. Pada (7) Lagu: Hanura untuk rakyat, teks menunjukkan tujuan atau misi Partai Hanura, yaitu untuk rakyat. Penempatan posisi pemirsa sebagai rakyat mengindikasikan Partai Hanura juga untuk pemirsa yang menonton iklan tersebut.

Tabel 4.1.1.1.2
Variabel Intertekstualitas
No. Unsur Pemaparan
1 Manifest Intertectuality:
Representasi wacana (3) Beragam krisis telah menempanya menjadi sosok yang tangguh, tak tergoda kekuasaan, menomorsatukan kedaulatan.
(4) Wiranto: ABRI mengajak semua pihak agar bersikap tenang,
Pengandaian (3) … tak tergoda kekuasaan, menomorsatukan kedaulatan
Negasi (3) … tak tergoda kekuasaan, menomorsatukan kedaulatan,
Metadiscourse (1) 2009, krisis di depan mata.
(2) “Kenapa harus takut?” begitulah kata Wiranto.
2
Interdiscursivity:
Genre (6) Ayo, bekerja dengan hati bersama partai Hanura!
Tipe aktivitas (2) “Kenapa harus takut?” begitulah kata Wiranto.
(6) Ayo, bekerja dengan hati bersama partai Hanura!
Gaya (3) Beragam krisis telah menempanya menjadi sosok yang tangguh, tak tergoda kekuasaan, menomorsatukan kedaulatan.
(4) Wiranto : ABRI mengajak semua pihak agar bersikap tenang.
(5) Kini hati nuraninya kembali terpanggil.
(6) Wiranto : Ayo, bekerja dengan hati bersama partai
Hanura!
(7) Lagu: Hanura untuk rakyat
Wacana (3) Beragam krisis telah menempanya menjadi sosok yang tangguh, tak tergoda kekuasaan, menomorsatukan
kedaulatan.
(5) Kini hati nuraninya kembali terpanggil.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.1.1.2
1. Manifest Intertectuality:
– Representasi wacana
Wacana lisan yang digunakan dalam iklan ini mengusung tema krisis dengan menampilkan sosok Wiranto. Iklan ini lebih terpusat pada pengenalan Wiranto. Pertama-tama iklan diawali dengan pembahasan mengenai krisis 2009, kemudian muncul kutipan kata-kata Wiranto yang disampaikan oleh MVO sebagai pendapat atas topik krisis tersebut. Khalayak kemudian digiring untuk mengenal lebih dalam lagi mengenai sosoknya (3).
(3) Beragam krisis telah menempanya menjadi sosok yang tangguh, tak tergoda kekuasaan, menomorsatukan kedaulatan.
Kemudian dilanjutkan dengan penggunaan penanda waktu dahulu dan sekarang. Pada (4), Wiranto: ABRI mengajak semua pihak agar bersikap tenang, ABRI tersebut sebagai penanda waktu pernyataan Wiranto tersebut, di mana ABRI kini telah berganti nama menjadi TNI. Penggunaan akronim ABRI pada masa-masa sekarang sudah jarang digunakan dan penggunaannya sudah tidak berlaku lagi dan menunjukkan penjelasan sejarah saja. Penanda rentang waktu ynang berbeda yang kedua adalah kata kini. Kata tersebut sebagai keterangan waktu 2009 yang merupakan titimangsa iklan tersebut ditayangkan. Di akhir iklan, Wiranto mengajak atas namanya untuk memilih Partai Hanura.
– Pengandaian
Kalimat (3), … tak tergoda kekuasaan, menomorsatukan kedaulatan, menghubungkan dengan teks atau peristiwa pada tahun 1998. Proposisi tersebut membuat pandangan bahwa hal tersebut benar adanya.
– Negasi
Penggunaan negasi pada kalimat (3), … tak tergoda kekuasaan, menomorsatukan kedaulatan, sebagai penegasan bahwa dirinya lebih mementingkan kedaulatan Indonesia dibandingkan kepentingan pribadinya, yaitu kekuasaan.
– Metadiscourse
Iklan memposisikan dirinya sebagai promotor Partai Hanura ke hadapan pemirsa televisi dengan mengangkat sosok Wiranto. Teks memberikan identifikasi mengenai sosok Wiranto ke hadapan publik.
2. Interdiscursivity:
– Genre
(6) Ayo, bekerja dengan hati bersama partai Hanura!
Iklan kampanye televisi partai
– Tipe aktivitas
(2) “Kenapa harus takut?” begitulah kata Wiranto.
(6) Ayo, bekerja dengan hati bersama partai Hanura!
Konstruksi kampanye di televisi ini antara lain pertama-tama mengangkat tema krisis yang dihubungkan dengan sosok Wiranto yang digambarkan berpengalaman dalam menghadapi krisis, kemudian ditampilkan kesiapan dan keberaniannya menghadapi krisis 2009 dengan pernyataan “Kenapa harus takut?”. Digambarkan pula mengenai sosok dirinya dahulu dan sekarang yang tidak berubah dalam hal kemampuan menghadapi krisis. Di bagian akhir barulah Partai Hanura disebutkan dalam kalimat imperatif pada (6), Ayo, bekerja dengan hati bersama partai Hanura!
– Gaya
Gaya yang dipilih dalam iklan ini bernuansakan formal. Hal ini tampak pada penggunaan kosakata baku, seperti menempanya, tangguh, mengajak, dan bekerja. Pada bahasa lisan yang disampaikan oleh Wiranto terdapat kata tidak baku kenapa yang menunjukkan bahasa tidak resmi.
– Wacana
Wacana yang digunakan dalam iklan ini adalah wacana naratif, yaitu dengan menceritakan atau menampilkan Wiranto sebagai sosok yang lebih ditonjolkan. Hal tersebut dibuktikan dengan penggunaan pronomina persona ketiga –nya, yang menampilkan Wiranto sebagai orang yang dibicarakan dalam iklan.
(3) Beragam krisis telah menempanya menjadi sosok yang tangguh, tak tergoda kekuasaan, menomorsatukan kedaulatan.
(5) Kini hati nuraninya kembali terpanggil.
Penonjolan tersebut bertujuan untuk memperluas pengetahuan pemirsa televisi mengenai sosoknya yang masih kontra sampai sekarang. Iklan menyajikan potongan peristiwa dahulu (tahun 1998) dan kemudian ditampilkan sosoknya yang sekarang yaitu sebagai sosok yang menjadikan masa lalu sebagai pengalaman berharganya sebagai bekal pembentukan karakternya yang sekarang.
4.1.1.2 Praktik Sosiokultural
Tabel 4.1.1.2.1
Variabel Praktik Sosiokultural (Makro)
No. Unsur Pemaparan
1 Situasional (1) 2009, krisis di depan mata..
(4) Beragam krisis telah menempanya menjadi sosok yang tangguh, tak tergoda kekuasaan, menomorsatukan
kedaulatan
2 Institusional (1) 2009, krisis di depan mata.
(2) “Kenapa harus takut?”
(3) Beragam krisis telah menempanya menjadi sosok yang tangguh, tak tergoda kekuasaan, menomorsatukan kedaulatan.
(4) Wiranto : ABRI mengajak semua pihak agar bersikap tenang.
3 Sosial (3) Beragam krisis telah menempanya menjadi sosok yang tangguh, tak tergoda kekuasaan, menomorsatukan kedaulatan.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.1.2.1
1. Situasional
Dalam situasi krisis global yang melanda pada permulaan tahun 2009 tersebut, tema ‘krisis’ dijadikan isu yang diangkat dalam iklan ini. Dalam situasi tersebut, Wiranto ditampilkan sebagai sosok yang tidak takut menghadapi krisis apapun dengan bekal pengalaman yang didapatkan saat melewati krisis 1998 silam.
2. Institusional
Khalayak pemirsa yang menonton iklan ini, mendapat suguhan iklan berupa pencitraan Wiranto sebagai Ketua Umum Partai Hanura yang digambarkan memiliki keberanian menghadapi krisis dan berpengalaman menghadapinya. Dengan adanya keberanian dan tidak takut terhadap krisis serta adanya pengalaman adalah sesuatu yang disuguhkan untuk menarik ketertarikan pemirsa televisi sebagai warga negara yang mempunyai hak pilih.
3. Sosial
Pencitraan ke hadapan khalayak merupakan upaya yang dapat mengubah pandangan mereka sebelumnya. Sebagian masyarakat merasa kurang tertarik dan kurang bersemangat pada Pemilu legislatif ini. Pertama, tidak adanya pengetahuan yang memadai tentang betapa pentingnya fungsi lembaga legislatif ini. Juga, karena mereka tidak mengenal secara personal dengan calon legislator yang hendak mereka pilih. Selain itu, juga karena masyarakat memerlukan figur yang dapat merepresentasikan partai yang beriklan dan yang mereka kenal baik. Inilah yang tampak pada iklan Partai Hanura tersebut.

Teks Iklan
(1) MVO: Jika Anda ingin perubahan, pilih partai nomor 4.
(2) Jika Anda ingin kemandirian ekonomi, pilih partai nomor 4.
(3) Jika Anda adalah orang yang berani, pilih partai nomor 4.
(4) Pilih partai nomor 4, PPRN, karena PPRN adalah partai pilihan orang- orang yang berani mendorong perubahan untuk kemandirian ekonomi, dan kedaulatan politik.
(5) Partai Peduli Rakyat Nasional, pilihan orang yang berani melakukan perubahan.

4.1.2.1 Analisis Teks dan Intertekstualitas
Tabel 4.1.2.1.1
Variabel Teks (Mikro)
No. Unsur Pemaparan
1 Representasi Dalam anak kalimat:
Kosakata
– pilih
(1) Jika Anda ingin perubahan, pilih partai nomor 4.
(2) Jika Anda ingin kemandirian ekonomi, pilih partai nomor 4.
(3) Jika Anda adalah orang yang berani, pilih partai nomor 4.
(4) Pilih partai nomor 4, PPRN, karena ….

– orang yang berani
(3) Jika Anda adalah orang yang berani, pilih partai nomor
4.
(4) … partai pilihan orang-orang yang berani mendorong perubahan untuk kemandirian ekonomi dan kedaulatan politik.
(5) … pilihan orang yang berani melakukan perubahan.
Kombinasi anak kalimat:
(1) Jika Anda ingin perubahan, pilih partai nomor 4.
(2) Jika Anda ingin kemandirian ekonomi, pilih partai nomor 4.
(3) Jika Anda adalah orang yang berani, pilih partai nomor 4.

(4) Pilih partai nomor 4, PPRN, karena PPRN adalah partai pilihan orang-orang yang berani mendorong perubahan untuk kemandirian ekonomi dan kedaulatan politik.
(5) Partai Peduli Rakyat Nasional, pilihan orang yang berani melakukan perubahan.
Rangkaian antarkalimat:
(3) Jika Anda adalah orang yang berani, pilih partai nomor 4.
(4) Pilih partai nomor 4, PPRN, karena PPRN adalah partai pilihan orang-orang yang berani mendorong perubahan untuk kemandirian ekonomi dan kedaulatan politik.
(5) Partai Peduli Rakyat Nasional, pilihan orang yang berani melakukan perubahan.
2 Relasi (1) Jika Anda ingin perubahan, pilih partai nomor 4.
(2) Jika Anda ingin kemandirian ekonomi, pilih partai nomor 4.
(3) Jika Anda adalah orang yang berani, pilih partai nomor 4.
3 Identitas (1) Jika Anda ingin perubahan, pilih partai nomor 4.
(2) Jika Anda ingin kemandirian ekonomi, pilih partai nomor 4.
(3) Jika Anda adalah orang yang berani, pilih partai nomor 4.
(4) Pilih partai nomor 4, PPRN, karena PPRN adalah partai pilihan orang-orang yang berani mendorong perubahan untuk kemandirian ekonomi, dan kedaulatan politik.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.2.1.1
1. Representasi
– Representasi dalam anak kalimat
 pilih
Verba transitif pilih digunakan untuk menyuruh untuk menentukan satu pilihan di antara banyak pilihan secara langsung. Partai nomor 4 menempati fungsi subjek dengan peran sebagai sasaran yang disuruh untuk dipilih.
 orang yang berani
(3) Jika Anda adalah orang yang berani, pilih partai nomor 4.
Nomina orang diterangkan dalam bentuk klausa relatif-restriktif, maka klausa itu merupakan bagian integral dari nomina yang diterangkannya. Pada kalimat tersebut tampak bahwa target pemilih yang dituju/disapa terspesifikasi , yaitu hanyalah orang yang berani. Sama halnya pada kalimat (4).
(4) … partai pilihan orang-orang yang berani mendorong perubahan untuk kemandirian ekonom, dan kedaulatan politik.
Klausa relatif yang berani mendorong perubahan… membatasi makna kata orang-orang. Teks iklan tampak bahwa PPRN hanya dipilih oleh orang-orang yang mempunyai sifat tersebut.
(1) … pilihan orang yang berani melakukan perubahan.
Iklan tersebut menunjukkan bahwa PPRN hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang berani melakukan perubahan, jika selain dari itu tidak ada keharusan memilih partai yang bersangkutan.
– Representasi kombinasi anak kalimat
(1) Jika Anda ingin perubahan, pilih partai nomor 4.
(2) Jika Anda ingin kemandirian ekonomi, pilih partai nomor 4.
(3) Jika Anda adalah orang yang berani, pilih partai nomor 4.
PPRN memberikan persyaratan pada pemirsa, yaitu ditandai dengan adanya kata jika. Klausa subordinatif pada kalimat (1), (2), dan (3) ditampilkan pada muka kalimat untuk menguraikan syarat yang harus dipenuhi yaitu berupa representasi keinginan khalayak.
– (3) Jika Anda adalah orang yang berani, pilih partai nomor 4.
– (4) Pilih partai nomor 4, PPRN, karena PPRN adalah partai pilihan orang-orang yang berani mendorong perubahan untuk kemandirian ekonomi dan kedaulatan politik.
– (5) Partai Peduli Rakyat Nasional, pilihan orang yang berani melakukan perubahan.
Pada kalimat (3), (4), dan (5) terdapat bentuk elaborasi yang ditandai oleh subordinatif yang. Penggunaan subordinatif yang adalah untuk memperinci dan memperjelas nomina orang, yaitu memberi batasan makna dari nomina orang yang disapa pada iklan tersebut. Pada kalimat (4), terdapat bentuk koherensi mempertinggi, di mana klausa karena PPRN adalah partai pilihan orang-orang yang berani mendorong perubahan untuk kemandirian ekonomi dan kedaulatan politik mempunyai posisi yang lebih tinggi daripada klausa pilih partai nomor 4, PPRN. Klausa karena PPRN adalah partai pilihan orang-orang… tampil sebagai penyebab dipilihnya PPRN.

– Representasi rangkaian antarkalimat
(3) Jika Anda adalah orang yang berani, pilih partai nomor 4.
(4) Pilih partai nomor 4, PPRN, karena PPRN adalah partai pilihan orang-orang yang berani mendorong perubahan untuk kemandirian ekonomi dan kedaulatan politik.
Teks iklan mengajak orang yang berani untuk memilih nomor 4. Pada kalimat (4) pernyataan tersebut didukung oleh pernyataan yang menjelaskan alasan mengapa harus memilih nomor 4.
2. Relasi
Dua pihak, yaitu pemirsa televisi (Anda) dan PPRN. Hubungan yang dibangun dalam iklan tersebut yakni komunikasi 2 arah dengan adanya penggunaan pronomina persona Anda oleh PPRN sebagai kata sapaan untuk pemirsa televisi. PPRN membidikkan misi partainya dengan target yaitu pemirsa.
Pembicara dalam iklan (MVO) bertindak sebagai representasi PPRN dalam mempromosikan partai tersebut kepada pemirsa. MVO mengajak pemirsa (Anda) untuk melakukan transaksi. Yang satu bertindak untuk menawarkan (PPRN) dan yang satunya memilih (pemirsa). PPRN menjual topik perubahan ekonomi politik kepada pemirsa televisi yang disapa dalam teks dengan pronomina Anda. Hubungan yang dibangun mengalirkan komunikasi formal antara keduanya serta lebih meyakinkan lagi bagi partai yang beriklan tersebut membangun jarak yang tidak dekat dengan pemilihan pronomina Anda yang lazimnya digunakan untuk menyapa orang yang baru ditemui atau baru dikenal.
Dengan menggunakan kata ingin pada kalimat (1) dan (2) sebagai upaya menggerakkan hati pemirsa untuk memilih PPRN. Dalam masa sulit seperti ini tidak ada yang tidak ingin mencapai perubahan ke arah yang lebih baik juga ingin ekonomi bangsanya dapat mandiri.

3. Identitas
Pemirsa diletakkan pada posisi Anda. Pemirsa disapa dalam iklan tersebut yang diandaikan bahwa mereka memiliki pengetahuan akademis yang setara dengan pembicara. Dengan adanya penggunaan frasa akademis yang tampak pada iklan seperti kemandirian ekonomi dan kedaulatan politik mungkin hanya akan dipahami oleh segelintir orang saja.
Pembicara (VMO) merepresentasikan dirinya sebagai pihak PPRN yang mengajak dan mempromosikan PPRN kepada khalayak pemirsa. PPRN adalah produk yang sedang dijual dalam iklan tersebut. Frasa akademis kemandirian ekonomi dan kedaulatan politik digunakan untuk melancarkan janji partainya yang dapat menunjukkan dirinya (PPRN) memiliki prestise di hadapan khalayak.

Tabel 4.1.2.1.2
Variabel Intertekstualitas
No. Unsur Pemaparan
1 Manifest Intertectuality:
Representasi wacana 4. Jika Anda ingin perubahan, pilih partai nomor 4.
5. Jika Anda ingin kemandirian ekonomi, pilih partai nomor 4.
6. Jika Anda adalah orang yang berani, pilih partai nomor 4.
7. Pilih partai nomor 4, PPRN, karena PPRN adalah partai pilihan orang-orang yang berani mendorong perubahan untuk kemandirian ekonomi dan kedaulatan politik.
8. Partai Peduli Rakyat Nasional, pilihan orang yang berani melakukan perubahan.
Pengandaian (1) Jika Anda ingin kemandirian ekonomi, pilih partai nomor 4.
Metadiscourse (1) Jika Anda ingin perubahan, pilih partai nomor 4.
(2) Jika Anda ingin kemandirian ekonomi, pilih partai nomor 4.
(3) Jika Anda adalah orang yang berani, pilih partai nomor 4.
2
Interdiscursivity:
Genre Jika Anda ingin perubahan, pilih partai nomor 4.
Jika Anda ingin kemandirian ekonomi, pilih partai nomor 4.
(3) Jika Anda adalah orang yang berani, pilih partai nomor 4.perubahan.
Tipe aktivitas (1) Jika Anda ingin perubahan, pilih partai nomor 4.
(2) Jika Anda ingin kemandirian ekonomi, pilih partai nomor 4.
(3) Jika Anda adalah orang yang berani, pilih partai nomor 4.
(4) Pilih partai nomor 4, PPRN, karena PPRN adalah partai pilihan orang-orang yang berani mendorong perubahan untuk kemandirian ekonomi dan kedaulatan politik.
(5) Partai Peduli Rakyat Nasional, pilihan orang yang berani melakukan perubahan.
Gaya Jika Anda ingin perubahan, pilih partai nomor 4.
Jika Anda ingin kemandirian ekonomi, pilih partai nomor 4.
Jika Anda adalah orang yang berani, pilih partai nomor 4.
Wacana Jika Anda ingin perubahan, pilih partai nomor 4.
Jika Anda ingin kemandirian ekonomi, pilih partai nomor 4.
Jika Anda adalah orang yang berani, pilih partai nomor 4.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.2.1.2
1. Manifest Intertectuality:
– Representasi wacana
Wacana tulisan dibalut dengan wacana lisan. Wacana tulisan yang digunakan tersebut ditransfer ke dalam wacana lisan yang tampak dengan tidak adanya perubahan sedikitpun, atau dengan kata lain, wacana tulisan yang dilisankan atau dibacakan.
– Pengandaian
Ingin perubahan? ingin kemandirian ekonomi dan kedaulatan politik? Indonesiaperlu berubah atau keluar dari kondisi sekarang, mandiri dalam bidang ekonomi, dan politik yang berdaulat. Semuanya itu mengandaikan Indonesia belum mencapai itu semua dan akan tercapai jika memilih partai nomor 4 tersebut.Ironi
– Metadiscourse
Pronomina Anda digunakan untuk menyapa pemirsa televisi dengan spesifikasi ingin berubah dan mencapai ekonomi yang mandiri serta orang yang berani. PPRN hadir dalam teks iklan sebagai partai yang hanya diperuntukan bagi orang yang berani mendorong perubahan.
2. Interdiscursivity:
– Genre
(1) Jika Anda ingin perubahan, pilih partai nomor 4.
(2) Jika Anda ingin kemandirian ekonomi, pilih partai nomor 4.
(3) Jika Anda adalah orang yang berani, pilih partai nomor 4.perubahan.
Genre yang digunakan adalah iklan kampanye televisi. Hal ini ditandai oleh adanya ajakan untuk memilih partai tersebut.
– Tipe aktivitas
Iklan di bagian muka dibangun oleh persyaratan memilih partai PPRN (kalimat 1, 2, 3, dan 4). Di bagian akhir, penjelasan mengenai partai yang bersangkutan (kalimat 5).
– Gaya
Bahasa yang digunakan dalam iklan bersifat formal yang ditandai dengan penggunaan pronomina Anda sebagai sapaan orang yang diajak berbicara. Penggunaan pronomina Anda membangun hubungan yang tak pribadi dan dirahkan tidak pada satu orang khusus. Hubungan yang dibangun berjauhan atau adanya jarak antara pembicara atau PPRN dengan yang diajak berbicara atau pemirsa.
– Wacana
Tema perubahan ekonomi politik digunakan sebagai janji dengan membawa pesan kampanye dengan solusi berupa suruhan atau ajakan untuk memilih partai yang bersangkutan. Wacana yang digunakan dalam iklan ini adalah wacana hortatorik yang ditandai dengan penggunaan persona kedua Anda. Wacana iklan tersebut berisikan ajakan dalam upaya mempengaruhi pemirsa televisi agar tertarik dengan pendapat yang dikemukakan oleh pembicara mengenai PPRN.
4.1.2.2 Analisis Praktik Sosiokultural
Tabel 4.1.2.2.1
Variabel Praktik Sosiokultural (Makro)
No. Unsur Pemaparan
1 Situasional (4) Pilih partai nomor 4, PPRN, karena PPRN adalah partai pilihan orang-orang yang berani mendorong perubahan untuk kemandirian ekonomi dan kedaulatan politik.
2 Institusional (4) Pilih partai nomor 4, PPRN, karena PPRN adalah partai pilihan orang-orang yang berani mendorong perubahan untuk kemandirian ekonomi dan kedaulatan politik.
3 Sosial (4) Pilih partai nomor 4, PPRN, karena PPRN adalah partai pilihan orang-orang yang berani mendorong perubahan untuk kemandirian ekonomi, dan kedaulatan politik.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.2.2.1
1. Situasional
Kemandirian ekonomi dan kedaulatan politik diangkat sebagai isu dalam iklan ini. Masalah ekonomi bangsa yang masih tergantung oleh pihak asing membuat Indonesia semakin terpuruk. Juga mengenai kedaulatan politik yang terusik oleh berbagai singgungan negara lain yang mengobrak-abrik bumi Nusantara, contohnya kasus Sipadan dan Ligitan yang direbut oleh pihak Malaysia. Masalah ekonomi dan politik yang dialami oleh Indonesia dalam iklan tersebut menjadi bahan untuk mempromosikan PPRN.
2. Institusional
Dalam perekonomian yang sulit ini serta kondisi politik yang tidak menentu, masyarakat membutuhkan partai yang mampu membawa perubahan pada kondisi Indonesia yang lebih baik. Ini juga yang dimanfaatkan oleh PPRN untuk menarik perhatian khalayak pemirsa.
3. Sosial
Dalam teks iklan disebutkan, Partai Peduli Rakyat Nasional, pilihan orang yang berani melakukan perubahan. Ini menunjukkan masih adanya ketakutan-ketakutan dalam pikiran masyarakat untuk memilih partai pendatang atau baru yang belum mempunyai banyak pengalaman. Mereka takut kalau partai-partai tersebut hanya mengumbar janji. Mereka juga mempunyai anggapan bahwa partai baru tidak berpengalaman dalam mengatasi permasalahan bangsa. Frasa orang yang berani digunakan untuk menghilangkan anggapan masyarakat yang masih memiliki krisis kepercayaan kepada partai-partai baru.
4.1.3 Iklan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)
Teks Iklan
(1) Prabowo Subianto: Saya Prabowo Subianto, dengan gagasan dari partai Gerindra.
(2) Ketika sebagian orang Indonesia kehilangan lapangan kerja, pemerintah mengumumkan stimulus 71,3 trilyun rupiah, tapi siapa yang mendapat uangnya.
(3) 43 trilyun adalah keringanan pajak bagi orang kaya.
(4) 2 ½ trilyun untuk menurunkan bea impor masuk.
(5) 10,6 trilyun untuk perusahaan besar.
(6) Kurang dari 1 persen yang ditujukan bagi para petani.
(7) Bayangkan jika modal 71 trilyun itu untuk petani kecil, nelayan, buruh, dan pedagang pasar tradisional.
(8) Lebih baik menanam ladang 7 juta hektar.
(9) Jutaan bahan bakar untuk kapal nelayan.
(10) Menciptakan 42 juta lapangan kerja baru.
(11) Itulah stimulus bagi rakyat.
(12) Sebuah gagasan dari partai yang membawa perubahan, Gerindra.

4.1.3.1 Analisis Teks dan Intertekstualitas
Tabel 4.1.3.1.1
Variabel Teks (Mikro)
No. Unsur Pemaparan
1 Representasi Dalam anak kalimat:
Kosakata
(1) Saya Prabowo Subianto, dengan gagasan dari partai Gerindra.
(2) Ketika sebagian orang Indonesia kehilangan lapangan kerja, pemerintah mengumumkan stimulus 71,3 trilyun rupiah, tapi siapa yang mendapat uangnya.
(11) Itulah stimulus bagi rakyat.
(11) Itulah stimulus bagi rakyat.

Tata bahasa (grammar)
(1) Saya (S) Prabowo Subianto (P), dengan gagasan dari partai Gerindra (K).
(2) Ketika sebagian orang Indonesia kehilangan lapangan kerja, pemerintah mengumumkan stimulus 71,3 trilyun rupiah, tapi siapa yang mendapat uangnya.

Metafora
(2) … tapi siapa yang mendapat uangnya.
(2) Ketika sebagian orang Indonesia kehilangan lapangan kerja, pemerintah mengumumkan stimulus 71,3 trilyun rupiah, tapi siapa yang mendapat uangnya.
Kombinasi anak kalimat:
(2) Ketika sebagian orang Indonesia kehilangan lapangan kerja, pemerintah mengumumkan stimulus 71,3 trilyun rupiah, tapi siapa yang mendapat uangnya.
(6) Kurang dari 1 persen yang ditujukan bagi para petani.
(12) Sebuah gagasan dari partai yang membawa perubahan, Gerindra.
(2) Ketika sebagian orang Indonesia kehilangan lapangan kerja, pemerintah mengumumkan stimulus 71,3 trilyun rupiah, tapi siapa yang mendapat uangnya.
(7) Bayangkan jika modal 71 trilyun itu untuk petani kecil, nelayan, buruh, dan pedagang pasar tradisional.
Rangkaian antarkalimat:
(1) Saya Prabowo Subianto, dengan gagasan dari partai Gerindra.
2 Relasi (7) Bayangkan jika modal 71 trilyun itu untuk petani kecil, nelayan, buruh, dan pedagang pasar tradisional.
(3) 43 trilyun adalah keringanan pajak bagi orang kaya.
(4) 2 ½ trilyun untuk menurunkan bea impor masuk.
(5) 10,6 trilyun untuk perusahaan besar.
(6) Kurang dari 1 persen yang ditujukan bagi para petani.
3 Identitas (3) 43 trilyun adalah keringanan pajak bagi orang kaya.
(4) 2 ½ trilyun untuk menurunkan bea impor masuk.
(5) 10,6 trilyun untuk perusahaan besar.

(7) Bayangkan jika modal 71 trilyun itu untuk petani kecil, nelayan, buruh, dan pedagang pasar tradisional.
(9) Jutaan bahan bakar untuk kapal nelayan.
(11) Itulah stimulus bagi rakyat.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.3.1.1
1. Representasi
– Representasi dalam anak kalimat
Kosakata
(1) Saya Prabowo Subianto, dengan gagasan dari partai Gerindra.
Pemakaian kata gagasan sebagai konotasi misi atau janji Partai Gerindra. Di awal dan akhir teks, kita menemukan kata tersebut yang menunjukkan bentuk formal dan akademis untuk menggantikan posisi misi atau janji. Kata janji dalam perkembangannya dikaitkan dengan ingkar atau sesuatu yang diumbardan tidak ada kerja nyata. Gagasan memiliki konotasi positif, sesuatu yang ditawarkan untuk kepentingan orang banyak dan bukan kelompok tertentu. Penggunaannya memberi kesan positif kepada khalayak.
Pada kalimat (2) dan (11), terdapat kata stimulus. Stimulus yang memiliki arti pendorong, hanya akrab di telinga segelintir orang saja, yaitu seperti kalangan akademisi. Sebaliknya, istilah stimulus cukup asing di telinga rakyat kecil.
(2) Ketika sebagian orang Indonesia kehilangan lapangan kerja, pemerintah mengumumkan stimulus 71,3 trilyun rupiah, tapi siapa yang mendapat uangnya.
(11) Itulah stimulus bagi rakyat.
Pada kalimat (11), terdapat partikel penegas –lah yang digunakan untuk memberi penegasan khusus pada subjek itu sebagai representasi gagasan yang diuraikan oleh Prabowo.
(11) Itulah stimulus bagi rakyat.
Tata bahasa (grammar)
(1) Saya (S) Prabowo Subianto (P), dengan gagasan dari partai Gerindra (K).
Penggunaan bentuk peristiwa pada (1), di mana pelaku yang ditampilkan yaitu Prabowo sebagai pelaku yang menyampaikan gagasan.
(2) Ketika sebagian orang Indonesia kehilangan lapangan kerja, pemerintah mengumumkan stimulus 71,3 trilyun rupiah, tapi siapa yang mendapat uangnya.
Penggunaan bentuk peristiwa (2) sebagai penegasan pelaku kebijakan stimulus yang digambarkan tidak tepat sasaran, yakni pemerintah.
Metafora
(2) … tapi siapa yang mendapat uangnya.
Pada (2), terdapat penggunaan gaya bahasa retoris/oratoris yang ditandai oleh bentuk interogatif. Gaya bahasa yang biasa digunakan dalam retorika (pidato) oleh seorang orator (ahli pidato), dipakai untuk menyangsikan kebijakan pemerintah.
(2) Ketika sebagian orang Indonesia kehilangan lapangan kerja, pemerintah mengumumkan stimulus 71,3 trilyun rupiah, tapi siapa yang mendapat uangnya.
Gaya bahasa eufimisme dengan penggunaan frasa kehilangan lapangan kerja menampilkan gaya bahasa untuk pelembut, lebih sopan dan postif. Frasa tersebut digunakan untuk menggantikan kata menganggur yang berkonotasi negatif.
– Representasi kombinasi anak kalimat
(2) Ketika sebagian orang Indonesia kehilangan lapangan kerja, pemerintah mengumumkan stimulus 71,3 trilyun rupiah, tapi siapa yang mendapat uangnya.
(6) Kurang dari 1 persen yang ditujukan bagi para petani.
(12) Sebuah gagasan dari partai yang membawa perubahan, Gerindra.
Penggunaan kata sambung relatif yang pada kalimat (2) digunakan untuk mengiringi kata tanya siapa, subjek orang yang dimaksud dalam teks. Pada kalimat (6), yang digunakan untuk memperinci subjek, yang menunjukkan bahwa tidak hanya para petani yang mendapat porsi kurang dari 1 persen. Pada kalimat (12), yang digunakan untuk memperjelas fungsi keterangan, dari partai yang membawa perubahan, yaitu tempat/asal yang mengeluarkan gagasan tersebut.
(2) Ketika sebagian orang Indonesia kehilangan lapangan kerja, pemerintah mengumumkan stimulus 71,3 trilyun rupiah, tapi siapa yang mendapat uangnya.
Penggunaan koordinator tapi untuk menunjukkan koherensi berupa perpanjangan yang bersifat kontras antara kebijakan stimulus yang berjumlah besar dan siapa yang mendapatkannya.
(7) Bayangkan jika modal 71 trilyun itu untuk petani kecil, nelayan, buruh, dan pedagang pasar tradisional.
Koordinator dan digunakan untuk perpanjangan sebagai tambahan. Bukan hanya petani kecil, nelayan, dan buruh, tetapi juga pedagang pasar tradisional.
– Representasi rangkaian antarkalimat
Gagasan berupa stimulus bagi rakyat dari Partai Gerindra diperkenalkan dari awal hingga akhir. Siapa yang mengeluarkan gagasan, alasan munculnya gagasan, sampai pada penjelasan isi gagasan. Alasan munculnya gagasan ditampilkan sebagai latar teks iklan yang menunjukkan bahwa iklan tersebut merupakan kritikan terhadap pemerintahan yang sedang berkuasa.

2. Relasi
Sebelas pihak, antara lain Prabowo Subianto, Partai Gerindra, pemerintah, rakyat, orang kaya, perusahaan besar, petani (kecil), nelayan, buruh, dan pedagang pasar tradisional.
Sebagai partai pendatang, Partai Gerindra menampilkan dirinya kontra dengan pemerintah, yaitu dengan membandingkan kebijakan yang dibuat pemerintah dan program yang ditawarkan oleh Partai Gerindra.
Prabowo mendefinisikan dirinya sebagai sosok yang pro terhadap rakyat (kecil).
(7) Bayangkan jika modal 71 trilyun itu untuk petani kecil, nelayan, buruh, dan pedagang pasar tradisional.
Pemerintah dalam iklan tersebut digambarkan kurang memperhatikan rakyat kecil dan tidak tepat sasaran.
(3) 43 trilyun adalah keringanan pajak bagi orang kaya.
(4) 2 ½ trilyun untuk menurunkan bea impor masuk.
(5) 10,6 trilyun untuk perusahaan besar.
(6) Kurang dari 1 persen yang ditujukan bagi para petani.

3. Identitas
Pemirsa diletakkan pada posisi rakyat kecil. Porsi yang diperuntukkan bagi rakyat kecil yang sedikit itu dapat menggugah kesadaran khalayak bahwa hal tersebut sangat tidak adil.
Pemerintah sebagai pihak yang didefinisikan oleh Prabowo dideskripsikan memiliki kebijakan yang tidak tepat sasaran.
(3) 43 trilyun adalah keringanan pajak bagi orang kaya.
(4) 2 ½ trilyun untuk menurunkan bea impor masuk.
(5) 10,6 trilyun untuk perusahaan besar.
Keberpihakan terhadap rakyat kecil adalah misi berusaha untuk diangkat ke hadapan khalayak. Penggunaan preposisi bagi dan untuk pada (7, 9, dan 11).
(7) Bayangkan jika modal 71 trilyun itu untuk petani kecil, nelayan, buruh, dan pedagang pasar tradisional.
(9) Jutaan bahan bakar untuk kapal nelayan.
(11) Itulah stimulus bagi rakyat.

Tabel 4.1.3.1.2
Variabel Intertekstualitas
No. Unsur Pemaparan
1 Manifest Intertectuality:
Representasi wacana (2) Ketika sebagian orang Indonesia kehilangan lapangan kerja, pemerintah mengumumkan stimulus 71,3 trilyun rupiah, tapi siapa yang mendapat uangnya.
Pengandaian (8) Lebih baik menanam ladang 7 juta hektar.
(9) Jutaan bahan bakar untuk kapal nelayan.
(10) Menciptakan 42 juta lapangan kerja baru.
Ironi (8) Lebih baik menanam ladang 7 juta hektar.
(9) Jutaan bahan bakar untuk kapal nelayan.
(10) Menciptakan 42 juta lapangan kerja baru.
Metadiscourse (2) Ketika sebagian orang Indonesia kehilangan lapangan kerja, pemerintah mengumumkan stimulus 71,3 trilyun rupiah, tapi siapa yang mendapat uangnya.
2
Interdiscursivity:
Genre (12) Sebuah gagasan dari partai yang membawa perubahan, Gerindra.
Tipe aktivitas (1) Saya Prabowo Subianto, dengan gagasan dari partai Gerindra.
(2) Ketika sebagian orang Indonesia kehilangan lapangan kerja, pemerintah mengumumkan stimulus 71,3 trilyun rupiah, tapi siapa yang mendapat uangnya.
(3) 43 trilyun adalah keringanan pajak bagi orang kaya.
(4) 2 ½ trilyun untuk menurunkan bea impor masuk.
(5) 10,6 trilyun untuk perusahaan besar.
(6) Kurang dari 1 persen yang ditujukan bagi para petani.
(7) Bayangkan jika modal 71 trilyun itu untuk petani kecil, nelayan, buruh, dan pedagang pasar tradisional.
(8) Lebih baik menanam ladang 7 juta hektar.
(9) Jutaan bahan bakar untuk kapal nelayan.
(10) Menciptakan 42 juta lapangan kerja baru.
(11) Itulah stimulus bagi rakyat.
Gaya (2) Ketika sebagian orang Indonesia kehilangan lapangan kerja, pemerintah mengumumkan stimulus 71,3 trilyun rupiah, tapi siapa yang mendapat uangnya.
(11) Itulah stimulus bagi rakyat.
(11) Itulah stimulus bagi rakyat.
Wacana (2) Ketika sebagian orang Indonesia kehilangan lapangan kerja, pemerintah mengumumkan stimulus 71,3 trilyun rupiah, tapi siapa yang mendapat uangnya.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.3.1.2
1. Manifest Intertectuality:
– Representasi wacana
Tema dalam iklan tersebut adalah stimulus ekonomi. Gagasan yang ditawarkan kepada khalayak disampaikan dalam bentuk retorika. Hal ini tampak dengan adanya identifikasi iklan yang menampilkan satu suara atau satu pembicara, walaupun tidak dalam sikap berdiri dan berada di hadapan banyak orang secara langsung.
– Pengandaian
Penggunaan bentuk pengandaian pada (8, 9, dan 10), menunjukkan bahwa iklan tersebut memberi anggapan di depan bahwa rakyat kekurangan ladang, nelayan kekurangan bahan bakar, dan jumlah lapangan kerja yang sedikit.
– Ironi
Pada kalimat (8), (9), dan (10), terdapat kritikan terhadap pemerintah dan menunjukkan bahwa petani, nelayan, dan pencari kerja masih kekurangan untuk dapat melangsungkan kehidupan mereka. Petani semakin tersingkir dari pekerjaannya karena lahan pertanian semakin tergusur oleh banyak didirikannya pemukiman. Nelayan masih kesulitan berlayar karena harga BBM tidak terjangkau oleh mereka. Juga, masih besarnya angka pengangguran, dikarenakan jumlah pencari kerja yang tidak sebanding dengan lapangan kerja yang ada.
– Metadiscourse
Pembuat teks memberikan tingkatan yang berbeda ke dalam teks yang dia miliki dan membuat jarak dirinya dengan tingkat teks yang lain. Pemerintah mendapat kritikan dari Partai Gerindra dengan memposisikan pemerintah sebagai yang didefinisikan, yakni mengeluarkan kebijakan yang tidak tepat sasaran.

2. Interdiscursivity:
– Genre
(12) Sebuah gagasan dari partai yang membawa perubahan, Gerindra.
Genre yang digunakan adalah iklan kampanye televisi. Ini ditunjukkan dengan pemunculan nama Partai Gerindra pada penyampaian program stimulus tersebut.
– Tipe aktivitas
Sebuah gagasan dari partai yang membawa perubahan, Gerindra. Iklan disampaikan oleh mulut Prabowo Subianto sendiri dari awal hingga akhir. Iklan pertama-tama diawali oleh pengenalan pembicara sebagai pembawa gagasan dari Partai Gerindra. Siapa yang mengeluarkan gagasan, alasan munculnya gagasan, sampai pada penjelasan isi gagasan. Stimulus untuk rakyat dari Partai Gerindra ditawarkan dan diperkenalkan dengan penggunaan angka-angka untuk memunculkan fakta berupa data.
– Gaya
Gaya yang disuguhkan dalam iklan yaitu formal dan bersifat akademis, seperti penggunaan istilah stimulus.
– Wacana
Wacana mengenai gagasan ini ditampilkan dengan membangun suatu pola pikir masyarakat atau pemirsa televisi, bahwa kebijakan pemerintah tidak memihak rakyat kecil. Sebaliknya, Partai Gerindra ditampilkan sebagai partai pendatang yang kontra dengan pemerintah. Wacana yang digunakan untuk memaparkan pokok pikiran berupa gagasan yaitu wacana ekspositorik dengan membandingkan kebijakan pemerintah dengan gagasan dari Partai Gerindra.

4.1.2.3 Analisis Praktik Sosiokultural
Tabel 4.1.2.3.1
Variabel Praktik Sosiokultural (Makro)
No. Unsur Pemaparan
1 Situasional (2) Ketika sebagian orang Indonesia kehilangan lapangan kerja, pemerintah mengumumkan stimulus 71,3 trilyun rupiah, tapi siapa yang mendapat uangnya.
2 Institusional (7) Bayangkan jika modal 71 trilyun itu untuk petani kecil, nelayan, buruh, dan pedagang pasar tradisional.
3 Sosial (7) Bayangkan jika modal 71 trilyun itu untuk petani kecil, nelayan, buruh, dan pedagang pasar tradisional.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.2.3.1
1. Situasional
Iklan ini didorong oleh keadaan ekonomi Indonesia. Sasaran dari gagasan stimulus yang ditawarkan Partai Gerindra disesuaikan dengan situasi dan kondisi susah dan sulit yang dialami rakyat kecil yang hampir terlupakan hak hidupnya. Mulai dari berkurangnya lahan petani untuk petani karena banyak didirikannya pemukiman. Nelayan yang kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk kapalnya. Juga, pedagang pasar tradisional semakin terpinggir oleh merebaknya pasar modern. Selain itu, pengangguran yang semakin meningkat.
2. Institusional
Masyarakat di tengah kondisi yang serba sulit ini, mengharapkan perubahan ekonomi ke arah yang lebih baik. Ini juga yang dipertimbangkan oleh pembuat iklan untuk mengangkat isu ekonomi dengan menawarkan gagasan stimulus untuk rakyat.
3. Sosial
Masyarakat mendukung kebijakan yang memiliki keberpihakan kepada rakyat kecil. Partai Gerindra hadir dengan memanfaatkan kecenderungan tersebut untuk menarik simpati khalayak.

4.1.3 Analisis Ideologi
Ideologi dalam iklan tersebut ialah ideologi pragmatisme yang mengangkat tema ‘stimulus ekonomi’ untuk rakyat kecil. Bagi masyarakat atau rakyat kecil masalah ini merupakan sesuatu yang sangat urgen untuk melangsungkan kehidupan mereka.
(10) Bayangkan jika modal 71 trilyun itu untuk petani kecil, nelayan, buruh, dan pedagang pasar tradisional.
4.1.4 Iklan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI)
Teks Iklan
(1) Pengamen : Jujur itu bukan cuma bicara apa adanya.
(2) Anak punk : Jujur itu nggak ngeliat penampilan.
(3) Supir taksi : Jujur itu mengembalikan apa yang bukan miliknya.
(4) Penjual kain : Jujur itu apa adanya, tidak dilebihkan-lebihkan dan tidak
dikurang-kurangkan.
(5) Anak SMA : Jujur itu kalau suka ya diomongin. Iya kan, yang?
(6) : Jujur itu kata dan perbuatan harus sesuai.
(7) Pegawai salon : Jujur itu tidak malu mengakui kesalahan.
(8) Prof. Ir. Meutia Hatta Swasono (Ketua PKPI) : Hanya dengan
kejujuran kita bisa mengatasi masalah bangsa ini.
(9) MVO: PKPI Indonesia bersama satu tujuan membangun Indonesia.
(10) Contreng nomor tujuh!

4.1.4.1 Analisis Teks dan Intertekstualitas
Tabel 4.1.4.1.1
Variabel Teks (Mikro)
No. Unsur Pemaparan
1 Representasi Dalam anak kalimat:
Kosakata
(10) Contreng nomor tujuh!

Tata bahasa (grammar)
(8) Prof. Ir. Meutia Hatta Swasono (Ketua PKPI) : Hanya dengan kejujuran (K) kita (S) bisa mengatasi (P) masalah bangsa ini (O).
Kombinasi anak kalimat:
(3) Supir taksi : Jujur itu mengembalikan apa yang bukan
miliknya.
(4) Penjual kain: Jujur itu apa adanya, tidak dilebihkan-
lebihkan dan tidak dikurang-kurangkan.
(6) : Jujur itu kata dan perbuatan harus sesuai.
Rangkaian antarkalimat:
(1) Pengamen : Jujur itu bukan cuma bicara apa adanya.
(2) Anak punk : Jujur itu nggak ngeliat penampilan.
(3) Supir taksi : Jujur itu mengembalikan apa yang bukan miliknya.
(4) Penjual kain : Jujur itu apa adanya, tidak dilebihkan-lebihkan dan tidak dikurang-kurangkan.
(5) Anak SMA : Jujur itu kalau suka ya diomongin. Iya kan, yang?
(6) : Jujur itu kata dan perbuatan harus sesuai.
(7) Pegawai salon : Jujur itu tidak malu mengakui kesalahan.
2 Relasi (8) Prof. Ir. Meutia Hatta Swasono (Ketua PKPI) : Hanya dengan kejujuran kita bisa mengatasi masalah bangsa ini.
(9) PKPI Indonesia bersama satu tujuan membangun Indonesia.
3 Identitas (1) Pengamen : Jujur itu bukan cuma bicara apa adanya.
(2) Anak punk : Jujur itu nggak ngeliat penampilan.
(3) Supir taksi : Jujur itu mengembalikan apa yang bukan miliknya.
(4) Penjual kain : Jujur itu apa adanya, tidak dilebihkan-lebihkan dan tidak
dikurang-kurangkan.
(5) Anak SMA : Jujur itu kalau suka ya diomongin. Iya kan, yang?
(6) : Jujur itu kata dan perbuatan harus sesuai.
(7) Pegawai salon : Jujur itu tidak malu mengakui kesalahan.
(8) Prof. Ir. Meutia Hatta Swasono (Ketua PKPI) : Hanya dengan kejujuran kita bisa mengatasi masalah bangsa ini.
(9) PKPI Indonesia bersama satu tujuan membangun Indonesia.
(10) Contreng nomor tujuh!

PEMBAHASAN TABEL 4.1.4.1.1
1. Representasi
– Representasi dalam anak kalimat:
Kosakata
(10) Contreng nomor tujuh!
Penggunaan kata contreng digunakan untuk menyuruh pemirsa secara langsung yaitu mencontreng nomor tujuh.

Tata bahasa (grammar)
(8) Prof. Ir. Meutia Hatta Swasono (Ketua PKPI) : Hanya dengan
Kejujuran (K) kita (S) bisa mengatasi (P) masalah bangsa ini (O).
Pada kalimat (8), terdapat bentuk peristiwa yang disampaikan oleh Meutia Hatta. Pelaku yang ditampilkan adalah pronomina pertama inklusif kita yang melakukan apa yang disebutkan predikat bisa mengatasi.
– Representasi kombinasi anak kalimat:
Penggunaan bentuk elaborasi yang ditandai oleh kata sambung relatif yang pada kalimat (3). Penggunaan yang yaitu untuk mengiringi kata tanya apa, sebagai penjelas objek yang dimaksud dalam teks. Pada kalimat (4) dan (6), terdapat penggunaan koordinator dan yang menunjukkan perpanjangan yang menunjukkan tambahan dan gabungan. Tidak hanya tidak dilebih-lebihkan, tetapi juga tidak dikurang-kurangkan. Juga, harus adanya penyetaraan antara kata dan perbuatan, jika timpang maka dapat dikatakan tidak jujur.
– Representasi rangkaian antarkalimat:
Dengan pengangkatan tema kejujuran, iklan ini menguraikan definisi sifat jujur secara terinci yang direpresentasikan oleh pengamen, anak punk, supir taksi, penjual kain, anak SMA, dan pegawai salon. Pendefinisian sifat jujur disesuaikan oleh peran aktor tersebut. Apakah sebagai pengamen, anak punk, supir taksi, dan seterusnya. Hampir 100% definisi jujur hadir dalam teks iklan.
2. Relasi
Tiga pihak yang hadir dalam iklan ini, yaitu rakyat (pengamen, anak punk, supir taksi, penjual kain, anak SMA, pegawai salon), PKPI, dan Indonesia.
PKPI mengikutsertakan peran rakyat yang ditandai oleh penggunaan penggunaan pronomina inklusif kita. Teks tersebut menunjukkan tidak saja PKPI, tetapi juga rakyat berperan untuk membangun bangsa.
(8) Prof. Ir. Meutia Hatta Swasono (Ketua PKPI) : Hanya dengan
kejujuran kita bisa mengatasi masalah bangsa ini.
PKPI menunjukkan dirinya sebagai partai yang memiliki tujuan untuk membangun Indonesia.
(9) PKPI Indonesia bersama satu tujuan membangun Indonesia.
Bangsa (rakyat Indonesia) dapat membangun negaranya, yaitu dengan modal kejujuran.
(8) Prof. Ir. Meutia Hatta Swasono (Ketua PKPI) : Hanya dengan
kejujuran kita bisa mengatasi masalah bangsa ini.
(9) PKPI Indonesia bersama satu tujuan membangun Indonesia.
3. Identitas
Pemirsa televisi diposisikan pada pihak rakyat. Rakyat Indonesia direpresentasikan oleh pengamen, anak punk, supir taksi, penjual kain, anak SMA, dan pegawai salon. Rakyat kecil merepresentasikan bahwa kejujuran dapat dimulai dari yang kecil atau sepele dan dapat dimulai dari kalangan bawah atau rakyat kecil.
PKPI tidak secara langsung mengutarakan atau menunjukkan dirinya adalah partai yang jujur. Namun PKPI menggunakan kejujuran sebagai modal serta tujuannya membangun Indonesia.
Indonesia digambarkan sebagai negara yang sedang mengalami krisis kejujuran yang mengakibatkan merebaknya kasus-kasus yang berhubungan dengan ketidakjujuran.
Tabel 4.1.4.1.2
Variabel Intertekstualitas
No. Unsur Pemaparan
1 Manifest Intertectuality:
Representasi wacana (1) Pengamen : Jujur itu bukan cuma bicara apa adanya.
(2) Anak punk : Jujur itu nggak ngeliat penampilan.
(3) Supir taksi : Jujur itu mengembalikan apa yang bukan miliknya.
(4) Penjual kain : Jujur itu apa adanya, tidak dilebihkan-lebihkan dan tidak dikurang-kurangkan.
(5) Anak SMA : Jujur itu kalau suka ya diomongin. Iya kan, yang?
(6) : Jujur itu kata dan perbuatan harus sesuai.
(7) Pegawai salon : Jujur itu tidak malu mengakui kesalahan.
(8) Prof. Ir. Meutia Hatta Swasono (Ketua PKPI) : Hanya dengan kejujuran kita bisa mengatasi masalah bangsa ini.
Pengandaian 8) Prof. Ir. Meutia Hatta Swasono (Ketua PKPI) : Hanya dengan kejujuran kita bisa mengatasi masalah bangsa ini.
Negasi (1) Pengamen : Jujur itu bukan cuma bicara apa adanya.
(2) Anak punk : Jujur itu nggak ngeliat penampilan.
(3) Supir taksi : Jujur itu mengembalikan apa yang
bukan miliknya.
(4) Penjual kain : Jujur itu apa adanya, tidak dilebihkan-lebihkan dan tidak dikurang-kurangkan.
(7) Pegawai salon : Jujur itu tidak malu mengakui
kesalahan.
Metadiscourse (8) Prof. Ir. Meutia Hatta Swasono (Ketua PKPI): Hanya dengan kejujuran kita bisa mengatasi masalah bangsa ini.
2
Interdiscursivity:
Genre (9) PKPI Indonesia bersama satu tujuan membangun Indonesia.
(10) Contreng nomor tujuh!
Tipe aktivitas (1) Pengamen : …
(2) Anak punk : …
(3) Supir taksi : …
(4) Penjual kain : …
(5) Anak SMA : …
(6) : …
(7) Pegawai salon : …
(8) Prof. Ir. Meutia Hatta Swasono (Ketua PKPI) : Hanya dengan kejujuran kita bisa mengatasi masalah bangsa ini.
(9) PKPI Indonesia bersama satu tujuan membangun Indonesia.
(10) Contreng nomor tujuh!
Gaya (1) Pengamen : Jujur itu bukan cuma bicara apa adanya.
(2) Anak punk : Jujur itu nggak ngeliat penampilan.
(5) Anak SMA : Jujur itu kalau suka ya diomongin. Iya
kan, yang?
(9) Prof. Ir. Meutia Hatta Swasono (Ketua PKPI):
Hanya dengan kejujuran kita bisa mengatasi
masalah bangsa ini.
Wacana (8) Prof. Ir. Meutia Hatta Swasono (Ketua PKPI): Hanya dengan kejujuran kita bisa mengatasi masalah bangsa ini.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.4.1.2
1. Manifest Intertectuality:
– Representasi wacana
Iklan kampanye tersebut disuguhi oleh uraian contoh mengenai sifat jujur. Tema ini disampaikan oleh pengamen dan lainnya sebagai representasi rakyat Indonesia. Penyampaian tema ‘jujur’ ini pun disampaikan mengenai hal-hal yang sepele/kecil, disesuaikan dengan aktor yang berbicara, apakah itu pengamen dan seterusnya.
– Pengandaian
Meutia Hatta mengatakan, “Hanya dengan kejujuran kita bisa mengatasi masalah bangsa ini”. Pernyataan tersebut menjawab permasalahan bangsa akhir-akhir ini, seperti korupsi dan lain-lain. Kejujuran sebagai modal membangun bangsa. Pada kalimat (8), disebutkan masalah bangsa. Ini mengandaikan bahwa bangsa kita tengah ditimpa berbagai permasalahan akibat bersikap tidak jujur. Dalam kasus ini, pembuat iklan menghubungkan dengan teks atau peristiwa lain, apakah itu korupsi dan lain sebagainya.
– Negasi
Pada kalimat-kalimat tersebut terdapat bentuk negasi. Hal ini ditandai oleh penggunaan konjungtor bukan (1,3), konjungtor nggak (2), dan konjungtor tidak (4,7). Penggunaan negasi atau pengingkaran, digunakan untuk memberikan penegasan dengan adanya penyangkalan terhadap kata-kata yang diiringi oleh konjungtor tersebut. kata-kata yang diiringi oleh konjungtor negasi menunjukkan yang banyak dan sering terjadi di kalangan masyarakat yang tidak mengedepankan kejujuran, yaitu cukup bicara apa adanya, melihat orang dari penampilannya, tidak mengembalikan apa yang bukan miliknya, dilebihkan-lebihkan dan dikurang-kurangkan, serta malu mengakui kesalahan.
Metadiscourse
Bangsa Indonesia didefinisikan mengalami krisis kejujuran yang selama ini menjadi penyebab munculnya permasalahan bangsa.
2. Interdiscursivity:
– Genre
(9) PKPI Indonesia bersama satu tujuan membangun Indonesia.
(10) Contreng nomor tujuh!
Genre yang digunakan adalah iklan kampanye televisi. Dalam teks iklan, PKPI muncul sebagai partai yang beriklan dengan mengajak pemirsa televisi untuk mencontreng partai tersebut.
– Tipe aktivitas
Tipe aktivitas yang dibangun dalam genre iklan kampanye televisi ini adalah pertama-tama dimunculkan berbagai representasi rakyat Indonesia yang menguraikan sifat jujur dalam pandangan mereka. Iklan diakhiri dengan pernyataan serta ajakan dari Meutia Hatta (Ketua PKPI) dengan mengusung tema kejujuran. Dalam mengajak pemirsa, teks iklan menggunakan suruhan langsung, yaitu pemakaian verba transitif contreng.
– Gaya
Gaya yang digunakan yaitu informal. Hal ini tampak pada bahasa yang digunakan, seperti pada kalimat (1, 2, 5, dan 8).
Pengamen : Jujur itu bukan cuma bicara apa adanya.
Anak punk : Jujur itu nggak ngeliat penampilan.
(5) Anak SMA : Jujur itu kalau suka ya diomongin. Iya kan, yang?
(8) Prof. Ir. Meutia Hatta Swasono (Ketua PKPI): Hanya dengan kejujuran kita bisa mengatasi masalah bangsa ini.
Bahasa informal identik dengan bahasa yang digunakan masyarakat dalam kesehariannya.
– Wacana
Tema ‘jujur’ ini dipilih sebagai jawaban permasalahan bangsa yang sedang krisis kejujuran. Sikap jujur diutarakan sebagai sifat yang dapat menyokong pembangunan bangsa. Pemilihan tema ‘jujur’ ini juga serasi dengan nomor urut partai yang bersangkutan, yaitu 7 (tujuh). ‘Jujur’ dan ‘tujuh’ memiliki bunyi rima yang serasi yaitu berima uu. Hal ini dapat digunakan sebagai cara agar masyarakat memiliki ingatan yang lebih tajam dan tidak lupa dengan partai tersebut sehingga masyarakat akan mudah mengingatnya. Wacana naratif dalam iklan ini digunakan untuk memperluas pengetahuan pemirsa mengenai sifat jujur.
4.1.4.2 Analisis Praktik Sosiokultural
Tabel 4.1.4.2.1
Variabel Praktik Sosiokultural (Makro)
No. Unsur Pemaparan
1 Situasional (8) Prof. Ir. Meutia Hatta Swasono (Ketua PKPI): Hanya dengan kejujuran kita bisa mengatasi masalah bangsa ini.
2 Institusional (8) Prof. Ir. Meutia Hatta Swasono (Ketua PKPI): Hanya dengan kejujuran kita bisa mengatasi masalah bangsa ini.
3 Sosial (1) Pengamen : Jujur itu bukan cuma bicara apa adanya.
(2) Anak punk: Jujur itu nggak ngeliat penampilan.
(3) Supir taksi: Jujur itu mengembalikan apa yang bukan miliknya.
(4) Penjual kain: Jujur itu apa adanya, tidak dilebihkan-lebihkan dan tidak dikurang-kurangkan.
(5) Anak SMA : Jujur itu kalau suka ya diomongin. Iya kan, yang?
(6) … : Jujur itu kata dan perbuatan harus sesuai.
(7) Pegawai salon : Jujur itu tidak malu mengakui kesalahan.
(8) Prof. Ir. Meutia Hatta Swasono (Ketua PKPI) : Hanya dengan kejujuran kita bisa mengatasi masalah bangsa ini.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.4.2.1
1. Situasional
Banyaknya berbagai kasus dan skandal pejabat pemerintahan yang semakin tampak ke permukaan, diangkat sebagai isu dengan mengusung tema ‘jujur’. Di mana sifat tersebut merupakan pangkal yang dapat mengurangi berbagai permasalahan bangsa.
2. Institusional
Pengangkatan tema ‘jujur’ dalam iklan merupakan terobosan baru di tengah berbagai iklan yang mengusung visi-misi/janji mereka, apakah itu secara langsung atau pun tidak. Khalayak dapat tergugah dengan pemakaian tema tersebut untuk memupuk kesadaran khalayak yang semakin hari semakin dipusingkan oleh berbagai kasus-kasus akibat krisis kejujuran.
3. Sosial
Masyarakat memiliki pandangan tersendiri mengenai iklan kampanye. Menurut pandangan mereka, iklan tersebut hanyalah berisikan janji-janji dan masyarakat sudah bosan dan tidak percaya lagi dengan janji-janji. Sifat jujur merupakan sifat yang positif dalam pandangan masyarakat.
4.1.5 Iklan Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
Teks Iklan
(1) FVO: Pemilu itu penting, ibarat obat bagi bangsa kita yang sakit-sakitan, makanya kita harus pilih orang dan partai yang benar-benar bagus.
(2) Caranya paling gampang lihat track recordnya.
(3) Contohnya PKS.
(4) Menolak seluruh uang suap, gak pernah terlibat satu pun kasus korupsi, apalagi skandal DPR.
(5) Bersih, kan? (suara: tepuk tangan)
(6) Ketawa
(7) Siapa pun kita, mau Jawa, Sunda, Aceh, Bugis, Dayak, Tionghoa, Papua, Padang, Banjar, merah, kuning, hijau, biru.
(8) Pilih caleg-caleg PKS untuk DPR lebih baik!

4.1.5.1 Analisis Teks dan Intertekstualitas
Tabel 4.1.5.1.1
Variabel Teks (Mikro)
No. Unsur Pemaparan
1 Representasi Dalam anak kalimat:
Kosakata
(4) Menolak seluruh uang suap, gak pernah terlibat satu pun kasus korupsi, apalagi skandal DPR.
(7) Siapa pun kita, mau Jawa, Sunda, Aceh, Bugis, Dayak,
Tionghoa, Papua, Padang, Banjar, merah, kuning, hijau, biru.
Tata bahasa (grammar)
(1) Pemilu itu penting, ibarat obat bagi bangsa kita yang sakit-sakitan …

Metafora
(1) Pemilu itu penting, ibarat obat bagi bangsa kita yang sakit-sakitan ….
(7) Siapapun kita, mau Jawa, Sunda, Aceh, Bugis, Dayak, Tionghoa, Papua, Padang, Banjar, merah, kuning, hijau, biru.
Kombinasi anak kalimat:
(1) Pemilu itu penting, ibarat obat bagi bangsa kita yang sakit-sakitan, makanya kita harus pilih orang dan partai yang benar-benar bagus.
(4) Menolak seluruh uang suap, gak pernah terlibat satu pun kasus korupsi, apalagi skandal DPR.
(1) Pemilu itu penting, ibarat obat bagi bangsa kita yang sakit-sakitan, makanya kita harus pilih orang dan partai yang benar-benar bagus.
Rangkaian antarkalimat:
(4) Menolak seluruh uang suap, gak pernah terlibat satu pun kasus korupsi, apalagi skandal DPR.
2 Relasi (1) Pemilu itu penting, ibarat obat bagi bangsa kita yang sakit-sakitan, makanya kita harus pilih orang dan partai yang benar-benar bagus.
(4) Menolak seluruh uang suap, gak pernah terlibat satu pun kasus korupsi, apalagi skandal DPR.
(8) Pilih caleg-caleg PKS untuk DPR lebih baik!
3 Identitas (1) Pemilu itu penting, ibarat obat bagi bangsa kita yang sakit-sakitan, makanya kita harus pilih orang dan partai yang benar-benar bagus.
(4) Menolak seluruh uang suap, gak pernah terlibat satu pun kasus korupsi, apalagi skandal DPR.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.5.1.1
1. Representasi
– Representasi dalam anak kalimat:
Kosakata
Penggunaan partikel pun menunjukkan pengerasan arti kata satu dan siapa. Partikel pun yang mengiringi kata satu digunakan untuk menegaskan bahwa PKS benar-benar bersih dari berbagai kasus, baik korupsi atau pun skandal DPR. Kata tanya siapa yang menyatakan hubungan konsesif dengan penggunaan partikel pun ini menegaskan dari mana saja tidak dibeda-bedakan atau dipersoalkan oleh PKS.
Tata bahasa (grammar)
Pada (1), terdapat bentuk tindakan. Kita ditampilkan sebagai pelaku yang melakukan tindakan yaitu memilih orangdan partai yang benar-benar bagus. Dalam iklan tersebut, walaupun belum terjadi, janji atau harapan dengan dilakukannya tindakan tersebut akan mengakibatkan atau berdampak pada kondisi bangsa Indonesia. Penggunaan bentuk tindakan tersebut menunjukan kondisi bangsa Indonesia ada di tangan kita (bangsa Indonesia).
Metafora
(1) Pemilu itu penting, ibarat obat bagi bangsa kita yang sakit-sakitan ….
Penggunaan gaya bahasa asosiasi pada kalimat (1) membandingkan Pemilu dengan obat, yaitu yang ditandai oleh kata ibarat. Perbandingan antara keduanya memberikan gambaran tentang betapa pentingnya Pemilu sebagaimana pentingnya obat untuk menyembuhkan penyakit.
Dalam kalimat tersebut terdapat pula metafora yang ditandai oleh penggunaan reduplikasi verba taktransitif sakit-sakitan. Kata tersebut digunakan untuk membandingkan secara langsung yang mengungkapkan perasaan pembuat iklan. Makna sakit-sakitan dalam teks iklan adalah ‘permasalahan secara berulang atau terus menerus dialami bangsa yang datang silih berganti.
(7) Siapapun kita, mau Jawa, Sunda, Aceh, Bugis, Dayak, Tionghoa, Papua, Padang, Banjar, merah, kuning, hijau, biru.
Penggunaan warna merah, kuning, hijau, dan biru merepresentasikan rakyat Indonesia yang beragam, apakah itu agama, suku, atau lainnya.
– Representasi kombinasi anak kalimat
Pada kalimat (1), terdapat bentuk elaborasi yang ditandai oleh kata sambung relatif. Penggunaannya yaitu untuk menjelaskan mengapa bangsa kita memerlukan obat, dalam hal ini Pemilu.
Pada kalimat (1) dan (4), adanya penggunaan koordinator dan dan apalagi. Keduanya digunakan untuk menunjukkan perpanjangan berupa tambahan. Dalam (1), kita digambarkan harus memilih yang bagus bukan saja orang, tetapi juga partai. Juga, penggunaan apalagi memberikan perpanjangan yang memberikan penegasan bahwa tidak hanya tidak terlibat korupsi begitu pula skandal DPR.
(2) Pemilu itu penting, ibarat obat bagi bangsa kita yang sakit-sakitan, makanya kita harus pilih orang dan partai yang benar-benar bagus.
Penggunaan subordinator makanya menyatakan akibat dari begitu pentingnya Pemilu untuk mengobati bangsa Indonesia, yaitu mengakibatkan/ mengistruksikan/ menyarankan kepada pemirsa untuk memilih orang dan partai yang benar-benar bagus.
– Representasi rangkaian antarkalimat:
Iklan menunjukkan prestasi PKS sebagai yang ditonjolkan dalam teks. Dengan latar Pemilu, PKS dihadirkan sebagai pendukung Pemilu. Dengan uraian prestasinya, PKS digambarkan sebagai partai yang dapat menjadikan DPR lebih baik, yaitu bersih dari berbagai kasus atau pun skandal DPR.
2. Relasi
Tiga pihak, yaitu bangsa Indonesia, calon legislatif (caleg) PKS, dan DPR.
Bangsa Indonesia digambarkan membutuhkan orang-orang dan partai yang bersih untuk dipilih pada Pemilu 2009 untuk ‘menyembuhkan’ bangsanya yang sedang sakit. DPR berperan dalam perbaikan bangsa. Lembaga yang bertugas untuk menyusun undang-undang ini memiliki tanggung jawab pada kepentingan orang banyak. Calon legislatif (caleg) PKS mengisi kursi DPR di Senayan selama masa jabatannya digambarkan tidak pernah terlibat kasus-kasus yang mencoreng nama baik DPR.
3. Identitas
Pemirsa diletakkan pada posisi bangsa Indonesia yang sedang sakit-sakitan.dengan keadaan bangsa yang seperti itu, pemirsa didorong untuk ikut berpartisipasi agar dapat keluar dari kondisi tersebut, yaitu dengan memilih PKS. Caleg PKS sebagai bagian dari tercapainya track record yang disebutkan dalam iklan tersebut, memposisikan mereka sebagai produk yang sedang dijual.
DPR didefinisikan membutuhkan wakil rakyat yang bersih dari berbagai kasus yang menghambat kinerja DPR sendiri sehingga berakibat pada kondisi Indonesia yang semakin terpuruk.
Tabel 4.1.5.1.2
Variabel Intertekstualitas
No. Unsur Pemaparan
1 Manifest Intertectuality:
Representasi wacana FVO: Pemilu itu penting, ibarat obat bagi bangsa kita yang sakit-sakitan, makanya kita harus pilih orang dan partai yang benar-benar bagus.
….
Pengandaian (4) Menolak seluruh uang suap, gak pernah terlibat satupun kasus korupsi, apalagi skandal DPR.
Negasi (4) Menolak seluruh uang suap, gak pernah terlibat satupun kasus korupsi, apalagi skandal DPR.
Metadiscourse (4) Menolak seluruh uang suap, gak pernah terlibat satu pun kasus korupsi, apalagi skandal DPR.
2
Interdiscursivity:
Genre (8) Pilih caleg-caleg PKS untuk DPR lebih baik!
Tipe aktivitas (1) Pemilu itu penting, ibarat obat bagi bangsa kita yang sakit-sakitan, makanya kita harus pilih orang dan partai yang benar-benar bagus.
Gaya (4) Menolak seluruh uang suap, gak pernah terlibat satu pun kasus korupsi, apalagi skandal DPR.
Wacana (4) Menolak seluruh uang suap, gak pernah terlibat satu pun kasus korupsi, apalagi skandal DPR.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.5.1.2
1. Manifest Intertectuality:
– Representasi wacana
Wacana ditampilkan selain dalam bentuk visualisasi, juga dibahasakan melalui lisan dan tulisan. Porsi tulisan yang tampil di layar kaca (visualisasi) hanya sedikit dan merupakan penegasan dari teks yang disampaikan secara lisan. Secara verbal atau lisan, teks mengenai prestasi partai PKS disampaikan melalui mulut seorang aktor yaitu seorang remaja wanita.
– Pengandaian
Kalimat tersebut menunjukkan bahwa terdapat teks atau peristiwa lain yaitu anggota kasus korupsi dan skandal lainnya yang mencoreng nama DPR, PKS digambarkan tidak termasuk di dalamnya. Kalimat tersebut memberikan pandangan di pemirsa bahwa hal yang dipaparkan adalah suatu kebenaran.
– Negasi
Pada kalimat (4), mengandaikan bahwa bahwa PKS tidak terlibat dan tidak termasuk dalam bagian orang-orang (anggota legislatif) yang bermasalah.
– Metadiscourse
Metadiscourse menampilkan aktor sebagai pembicara dengan memposisikan DPR sebagai objek yang didefinisikan. DPR diidentifikasikan sebagai lembaga pemerintahan yang memiliki daftar hitam dengan banyaknya kasus korupsi maupun skandal.
2. Interdiscursivity:
– Genre
(8) Pilih caleg-caleg PKS untuk DPR lebih baik!
Genre yang digunakan adalah iklan kampanye televisi. Genre ini ditunjukkan dengan adanya penggunaan ajakan untuk memilih PKS.
– Tipe aktivitas
Iklan diawali dengan menguraikan latar berupa kondisi yang dialami Indonesia yang membutuhkan perbaikan. Dalam rangka kampanye, Pemilu digambarkan sbagai momen untuk perbaikan tersebut. selanjutnya dipaparkan bagaimana dan apa yang harus dilakukan oleh kita (bangsa Indonesia). PKS digambarkan memiliki prestasi yaitu sebagai partai yang bersih dari segala macam kasus maupun skandal DPR. PKS di akhir iklan mengajak pemirsa dengan sasaran yang luas dan tidak terbatas oleh suku, agama, dan lainnya.
– Gaya
Wacana monolog yang disampaikan oleh remaja wanita digunakan sebagai representasi kaum muda dan kaum wanita. Pemilihan remaja wanita sebagai aktor yaitu untuk merepresentasikan pemilih (pemirsa televisi) agar sependapat dengan argumen aktor. Bahasa disesuaikan dengan pembicara, yaitu remaja yang umumnya menggunakan bahasa nonformal dalam kesehariannya. Pemakaian kata tidak baku gak seperti berikut menunjukkan adanya penggunaan bahasa sehari-hari dalam menyampaikan pesan kampanye.
– Wacana
PKS dalam iklannya menunjukkan dirinya sebagai partai bersih tanpa skandal apa pun. Wacana ‘partai yang bersih’ dipilih dan diangkat dalam iklan dikonsruksi dengan menghubungkannya dengan berbagai kasus anggota legislatif yang bermasalah dan muncul ke permukaan belakangan. Wacana yang digunakan yaitu wacana argumentatif atau disebut juga wacana persuasif. Teks iklan berisikan ajakan disertai paparan mengenai kelebihan PKS digunakan unruk membujuk atau meyakinkan pemirsa agar memilih PKS.
4.1.5.2 Analisis Praktik Sosiokultural
Tabel 4.1.5.2.1
Praktik sosiokultural (Makro)
No. Unsur Pemaparan
1 Situasional (4) Menolak seluruh uang suap, gak pernah terlibat satupun kasus korupsi, apalagi skandal DPR.
2 Institusional (8) Pilih caleg-caleg PKS untuk DPR lebih baik!
3 Sosial (4) Menolak seluruh uang suap, gak pernah terlibat satu pun kasus korupsi, apalagi skandal DPR.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.5.2.1
1. Situasional
Skandal seks dan korupi/suap anggota DPR yang pada waktu belakangan mulai terkuak dan muncul ke permukaan , menjadi isu yang diangkat dalam iklan. PKS hadir dalam iklannya sebagai partai yang memiliki catatan perjalanan (track record) yang bersih dari semua skandal maupun kasus korupsi/suap.
2. Institusional
Masyarakat mengharapkan dan membutuhkan wakil mereka di DPR mampu menjalankan amanah dari rakyat dengan sebaik-baiknya. Ini pun yang dimanfaatkan oleh PKS untuk memunculkan ketertarikan khalayak (masyarakat) dengan menunjukkan dirinya sebagai partai yang bersih.
3. Sosial
Kasus seperti korupsi maupun skandal DPR lainnya merupakan perbuatan yang memperburuk kondisi rakyat Indonesia. Contohnya kasus suap/korupsi merugikan negara dengan jumlah yang tidak sedikit hanya untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok. Skandal seks dapat memperburuk moral bangsa dengan pelaku dari tubuh DPR yang seharusnya dapat menjadi teladan dan contoh yang baik bagi masyarakat luas.

4.1.6 Iklan Partai Amanat Nasional (PAN)
Teks Iklan
(1) Wanda Hamidah : Masa depan ada di tangan kita
Eko Patrio : bukan di tangan orang lain
Mandra : bukan di tangan para pembuat janji.
(2) Ikang Fauzi : Saatnya kita bangkitkan kekuatan sendiri,
Adrian Maulana : saatnya ciptakan perubahan,
Mandra : karena kita mampu,
(semua) : karena kita mampu.
(3) Raslina Rasyidin : Untuk perubahan,
Wanda Hamidah : pilih PAN
Mayla Fayza : nomor sembilan!
(4) Derry Drajat : Untuk Indonesia baru,
Adrian Maulana : pilih PAN nomor sembilan!
(5) : Pilih PAN!
Derry Drajat : Pilih PAN!
Wanda, Derry, Ikang : Pilih PAN
Mandra : nomor sembilan 3x!
(6) Sutrisno Bachir (Ketua PAN) : Kita mampu untuk Indonesia baru.
(7) (semua) : Apa?
(8) Sutrisno Bachir (Ketua PAN) : Pilih PAN nomor sembilan!

4.1.6.1 Analisis Teks dan Intertekstualitas
Tabel 4.1.6.1.1
Variabel Teks (Mikro)
No. Unsur Pemaparan
1 Representasi Dalam anak kalimat:
Kosakata
(2) Saatnya kita bangkitkan kekuatan sendiri,
saatnya ciptakan perubahan,
karena kita mampu.

Tata bahasa (grammar)
(6) Sutrisno Bachir (Ketua PAN) : Kita (S) mampu (P) untuk Indonesia baru (K).

Metafora
(1) bukan di tangan para pembuat janji
(2) Saatnya kita bangkitkan kekuatan sendiri,…
Kombinasi anak kalimat:
– (2) Ikang Fauzi : Saatnya kita bangkitkan kekuatan sendiri,
Adrian Maulana : saatnya ciptakan perubahan,
Mandra : karena kita mampu,
(semua) : karena kita mampu.
– (3) Untuk perubahan, pilih PAN nomor sembilan!
(4) Untuk Indonesia baru, pilih PAN nomor sembilan!
Rangkaian antarkalimat:
(3) Wanda Hamidah : pilih PAN
Mayla Fayza : nomor sembilan!
(4) Derry Drajat : Untuk Indonesia baru,
Adrian Maulana : pilih PAN nomor sembilan!
: Pilih PAN!
Derry Drajat : Pilih PAN!
Wanda, Derry, Ikang : Pilih PAN
Mandra : nomor sembilan 3x!
(8) Sutrisno Bachir (Ketua PAN) : Pilih PAN nomor sembilan!
2 Relasi (3) Untuk perubahan, pilih PAN nomor sembilan!
(4) Untuk Indonesia baru, pilih PAN nomor sembilan!

(1) Masa depan ada di tangan kita
(2) Saatnya kita bangkitkan kekuatan sendiri,
karena kita mampu,
karena kita mampu.
3 Identitas (1) Masa depan ada di tangan kita, ….
(3) Untuk perubahan, pilih PAN nomor sembilan!
(4) Untuk Indonesia baru, pilih PAN nomor sembilan!

PEMBAHASAN TABEL 4.1.6.1.1
1. Representasi
– Representasi dalam anak kalimat:
Kosakata
(2) Saatnya kita bangkitkan kekuatan sendiri,
saatnya ciptakan perubahan,
karena kita mampu.
kekuatan;menunjukkan kesamaan arti dengan kemampuan.
ciptakan; mencipta memerlukan suatu proses untuk mencapai tujuannya, yaitu perubahan. Pemakaian –kan di samping kata cipta, menyatakan suruhan atau ajakan untuk menciptakan perubahan.
mampu; digunakan untuk menjelaskan kapasitas yang dimiliki subjek pelaku yaitu kita.
Tata bahasa (grammar)
(6) Sutrisno Bachir (Ketua PAN) : Kita (S) mampu (P) untuk Indonesia baru (K).
Pada (6) terdapat penggunaan bentuk peristiwa. Kita dinyatakan sebagai pelaku yang mampu mewujudkan Indonesia baru.
Metafora
(1) bukan di tangan para pembuat janji
Para pembuat janji dalam teks bermakna ‘orang yang lupa atau ingkar terhadap janji-janjinya’.
(2) Saatnya kita bangkitkan kekuatan sendiri,
Pemakaian kata bangkitkan mempunyai makna ‘bangun dari keterpurukan’. Ini untuk menggambarkan ajakan kepada rakyat untuk membangun kekuatan atau kemampuan sendiri agar tidak tergantung lagi dengan orang/ pihak lain.
– Representasi kombinasi anak kalimat:
– (2) Ikang Fauzi : Saatnya kita bangkitkan kekuatan sendiri,
Adrian Maulana : saatnya ciptakan perubahan,
Mandra : karena kita mampu,
(semua) : karena kita mampu.
Klausa subordinatif karena kita mampu menyatakan penyebab kita sudah waktunya membangkitkan kekuatan sendiri dan menciptakan perubahan.
(3) Untuk perubahan, pilih PAN nomor sembilan!
(4) Untuk Indonesia baru, pilih PAN nomor sembilan!
Visi-misi PAN, tampak dengan penggunaan subordinator untuk, yaitu mencapai perubahan dan Indonesia baru.
– Representasi rangkaian antarkalimat:
Yang menonjol dalam iklan tersebut adalah ajakan atau suruhan untuk memilih partai yang bersangkutan. Yaitu, pada (3, 4, dan 8) sebanyak enam kali (6x) pengulangan disebutkan oleh artis serta Sutrisno Bachir yang bertujuan untuk semakin menajamkan daya ingat pemirsa terhadap partai tersebut.
(3) Wanda Hamidah : pilih PAN
Mayla Fayza : nomor sembilan!
(4) Derry Drajat : Untuk Indonesia baru,
Adrian Maulana : pilih PAN nomor sembilan!
: Pilih PAN!
Derry Drajat : Pilih PAN!
Wanda, Derry, Ikang : Pilih PAN
Mandra : nomor sembilan 3x!
(8) Sutrisno Bachir (Ketua PAN) : Pilih PAN nomor sembilan!

2. Relasi
Lima pihak, antara lain PAN, rakyat Indonesia (kita), Indonesia, orang lain, dan pembuat janji
PAN digambarkan sebagai jawaban untuk menuju Indonesia baru.Indonesia memerlukan perubahan untuk masa depan yang lebih baik. Rakyat Indonesia bersama-sama dengan PAN menuju Indonesia baru.
(3) Untuk perubahan, pilih PAN nomor sembilan!
(4) Untuk Indonesia baru, pilih PAN nomor sembilan!
Hubungan antara PAN dengan rakyat Indonesia direpresentasikan dengan penggunaan pronomina pertama inklusif kita. Penggunaan pronomina kita bersifat inklusif, yakni mencakupi tidak saja pembicara tapi juga pendengar (pemirsa). Hal tersebut menyatakan bahwa rakyaat Indonesia diikutsertakan dalam iklan.
(1) Masa depan ada di tangan kita
(2) Saatnya kita bangkitkan kekuatan sendiri,
karena kita mampu,
karena kita mampu.
Pembicara dari PAN mengajak pemirsa (rakyat INdonesia) untuk bangkit dengan kekuatan sendiri dan menciptakan perubahan
3. Identitas
Pemirsa diletakkan pada posisi rakyat Indonesia (kita). Penggunaan bentuk pronomina inklusif kita memposisikan pemirsa sebagai bagian dalam penentu masa depan yang lebih baik. PAN digambarkan sebagai partai yang mempunyai misi melakukan perubahan.
Tabel 4.1.6.1.2
Variabel Intertekstualitas
No. Unsur Pemaparan
1 Manifest Intertectuality:
Representasi wacana Adrian Maulana : saatnya ciptakan perubahan,
Mandra : karena kita mampu,
(semua) : karena kita mampu.
Pengandaian (1) Mandra : bukan di tangan para pembuat janji.
(2) Mandra : karena kita mampu,
(semua) : karena kita mampu.
Negasi (1) Wanda Hamidah : Masa depan ada di tangan kita
Eko Patrio : bukan di tangan orang lain
Mandra : bukan di tangan para pembuat janji.
Metadiscourse (1) Wanda Hamidah : Masa depan ada di tangan kita
Eko Patrio : bukan di tangan orang lain
Mandra : bukan di tangan para pembuat janji.
2
Interdiscursivity:
Genre Untuk Indonesia baru, pilih PAN nomor sembilan!
Tipe aktivitas (3) Untuk perubahan, pilih PAN nomor sembilan!
(4) Untuk Indonesia baru, pilih PAN nomor sembilan!
Gaya Masa depan ada di tangan kita
Wacana (9) Wanda Hamidah : Masa depan ada di tangan kita
Eko Patrio : ….
Mandra : …
(10) Ikang Fauzi : …
Adrian Maulana : …

PEMBAHASAN TABEL 4.1.6.1.2
1. Manifest Intertectuality:
– Representasi wacana
Tema mengenai perubahan dikonstruksi secara berbeda oleh PAN dalam iklan kampanyenya. Pertama-tama yang tampak adalah adanya penggunaan artis dalam iklan. Hal yang membedakan adalah, karena artis yang menjadi pembicara tampil sebagai seorang yang mencalonkan diri sebagai legislator bukan sebagai aktor (pelaku atau pemain peran sebagai orang lain).
– Pengandaian
Pada (1), mengandaikan kepada masyarakat bahwa terdapat teks atau peristiwa lain mengenai kebanyakan partai hanya mengumbar janji tanpa ada pelaksanaan/ buktinya.
Pada (2), mengandaikan kepada masyarakat bahwa rakyat Indonesia mampu menciptakan perubahan tanpa harus tergantung oleh kekuatan lain.
– Negasi
Penggunaan bentuk negasi (pengingkaran) tersebut digunakan untuk menegaskan serta menjelaskan bahwa masa depan ada tergantung oleh kita, bukan oleh orang lain atau pun oleh para pembuat janji.
– Metadiscourse
PAN mendefinisikan para pembuat janji bukan penentu perubahan atau pun perbaikan Indonesia (kalimat 1).
2. Interdiscursivity:
– Genre
Untuk Indonesia baru, pilih PAN nomor sembilan!
Genre iklan ini adalah iklan kampanye televisi. Genre ini tampak dengan pemunculan PAN yang mengajak pemirsa televisi untuk memilihnya.
– Tipe aktivitas
Komposisi yang dibangun, antara lain diawali dengan pandangan PAN mengenai perubahan. Kemudian pemirsa diajak untuk memilih PAN. Pada bagian akhir, ditampilkan sosok ketua PAN, Sutrisno Bachir yang menyampaikan misi serta ajakan untuk memilih PAN.
– Gaya
Gaya yang digunakan yaitu formal.
– Wacana
Tema perubahan dikonstruksi dengan menggunakan aktor (para artis calon legislator) sebagai penyampai pesan kampanye. Wacana yang digunakan dalam iklan tersebut yaitu wacana naratif untuk menyajikan isu perubahan dengan penonjolan tokoh pelaku orang pertama jamak inklusif kita.
4.1.6.2 Analisis Praktik Sosiokultural
Tabel 4.1.6.2.1
Variabel Praktik Sosiokultural (Makro)
No. Unsur Pemaparan
1 Situasional (1) Wanda Hamidah : Masa depan ada di tangan kita
Eko Patrio : bukan di tangan orang lain
Mandra : bukan di tangan para pembuat janji.
(2) Ikang Fauzi : Saatnya kita bangkitkan kekuatan sendiri,
Adrian Maulana : saatnya ciptakan perubahan,
Mandra : karena kita mampu,
(semua) : karena kita mampu.
2 Institusional Adrian Maulana : saatnya ciptakan perubahan,
Mandra : karena kita mampu,
(semua) : karena kita mampu.
3 Sosial .(2) Mandra : karena kita mampu,
(semua) : karena kita mampu.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.6.2.1
1. Situasional
Masyarakat membutuhkan perubahan di untuk mencapai masa depan Indonesia yang lebih baik. Ini pula yang dimanfaatkan oleh PAN dengan mengangkat isu perubahan.
(2) Ikang Fauzi : Saatnya kita bangkitkan kekuatan sendiri,
Adrian Maulana : saatnya ciptakan perubahan,
Mandra : karena kita mampu,
(semua) : karena kita mampu.
Indonesia masih tergantung oleh bantuan pihak asing. Hal tersebut yang membuat Indonesia terhambat dalam mencapai perubahan dikarenakan tidak mampu memaksimalkan kemampuan diri sendiri.
2. Institusional
Masyarakat membutuhkan perubahan kondisi mereka ke arah yang lebih baik. PAN juga memanfaatkan popularitas caleg artisnya untuk menarik minat dan ketertarikan pemirsa pada PAN, yaitu melalui penggunaan caleg artis yang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif.
3. Sosial
Masyarakat kita lebih menaruh harapan pada orang yang menjanjikan sesuatu perbaikan kepada mereka. Mereka lebih tergantung kepada orang lain, dan tidak berusaha untuk melakukan perubahan dengan tangan atau kemampuan yang mereka punyai.
Selain pengangkatan isu perubahan, iklan tersebut menampilkan para artis calon anggota legislatif, yaitu berjumlah 9 artis. Jumlah ini merepresentasikan teman-teman seprofesi mereka yang juga mencalonkan diri. PAN terkenal sebagai partai artis, dikarenakan calon anggota legislatif ini cukup banyak yang berasal dari kalangan artis dibandingkan partai lain, yaitu jumlahnya kurang lebih mencapai 18 orang. Dengan keberadaannya tersebut, PAN dinilai hanya memanfaatkan popularitas para artis untuk menarik minat masyarakat. Pandangan sebagian masyarakat terhadap artis-artis tersebut yakni mereka hanya menggunakan popularitas untuk mendapatkan kursi di DPR dengan tanpa dibarengi dengan kemampuan yang cukup. Artis dipandang hanya bermodalkan penampilan saja dan kurang kompeten dalam bidang politik. Dengan kata lain, masyarakat meragukan kemampuan mereka sebagai politisi. Untuk menjawab hal tersebut, PAN menggunakan kata mampu dalam iklannya, sebagai representasi bahwa artis juga mempunyai kemampuan yang sama dengan politisi lain untuk dapat membangun bangsa.
(2) Mandra : Karena kita mampu.
(semua) : Karena kita mampu.
Perkataan karena kita mampu oleh Mandra diamini oleh semua artis yang terlibat dalam iklan tersebut.

4.1.7 Iklan Partai Golongan Karya (Golkar)
Teks Iklan
(1) MVO: Sampai 2007 kita masih harus impor beras.
(2) Tahun 2008 Partai Golkar di DPR dan di pemerintahan berhasil mewujudkan
swasembada beras.
(3) Tahun ini kita akan ekspor beras.
(4) Lagu: Maju bersama Golkar
(5) 2 Petani : Untuk hari esok yang lebih baik.
(6) Yusuf Kalla (Ketua Umum Partai Golkar) : Terus dukung kami untuk memajukan kesejahteraan bangsa!
(7) MVO: Maju Bersama Golkar!

4.1.7.1 Analisis Teks dan Intertekstualitas
Tabel 4.1.7.1.1
Variabel Teks (Mikro)
No. Unsur Pemaparan
1 Representasi Dalam anak kalimat:
Kosakata
(1) Sampai 2007 kita masih harus impor beras.
(6) Terus dukung kami untuk memajukan kesejahteraan
bangsa!

Tata bahasa (grammar)
(1) Sampai 2007 (K) kita (S) masih harus impor (P) beras (O).
(2) Tahun 2008 (K) Partai Golkar di DPR dan di
pemerintahan (S) berhasil mewujudkan (P)
swasembada beras (O).
(3) Tahun ini (K) kita (S) akan ekspor (P) beras(O).
Kombinasi anak kalimat:
(2) Tahun 2008 Partai Golkar di DPR dan di pemerintahan
berhasil mewujudkan swasembada beras.
(5) 2 Petani : Untuk hari esok yang lebih baik.
Rangkaian antarkalimat:
(1) Sampai 2007 kita masih harus impor beras.
(2) Tahun 2008 Partai Golkar di DPR dan di pemerintahan
berhasil mewujudkan swasembada beras.
(3) Tahun ini kita akan ekspor beras.
2 Relasi (1) Sampai 2007 kita masih harus impor beras.
(2) Tahun 2008 Partai Golkar di DPR dan di pemerintahan berhasil mewujudkan swasembada beras.
(6) Yusuf Kalla (Ketua Umum Partai Golkar) : Terus
dukung kami untuk memajukan kesejahteraan bangsa!
3 Identitas (1) Sampai 2007 kita masih harus impor beras.
(2) Tahun 2008 Partai Golkar di DPR dan di pemerintahan berhasil mewujudkan swasembada beras.
(6) Yusuf Kalla (Ketua Umum Partai Golkar) : Terus
dukung kami untuk memajukan kesejahteraan bangsa!

PEMBAHASAN TABEL 4.1.7.1.1
1. Representasi
– Representasi dalam anak kalimat:
Kosakata
(1) Sampai 2007 kita masih harus impor beras.
Klaim keberhasilan ini, digambarkan dengan pendeskripsian yang runtut dalam teks. Dikatakan, “Sampai 2007 kita masih harus impor beras. Tahun 2008 Partai Golkar di DPR dan di pemerintahan berhasil mewujudkan swasembada beras. Tahun ini kita akan ekspor beras.”
Jika diperhatikan, pada frasa “Sampai 2007…”, kita menemukan pendeskripsian yang kurang atau dapat dikatakan setengah-setengah sehingga dapat menimbulkan beragam spekulasi. Ada dua hal, yang pertama, “sampai 2007” menunjuk pada masa pemerintahan sebelumnya, bisa saja kalau dirunut ke belakang. Mulai dari pemerintahan Megawati, bergerak mundur yaitu pemerintahan Abdurrahman Wahid, kemudian pemerintahan Habibie, dan bahkan sebelumnya lagi, ditambah lagi dengan kata “masih” yang bermakna statis dan tidak adanya perbaikan. Kedua, pencapaian di tahun selanjutnya yaitu 2008 dan 2009, dideskripsikan sebagai suatu prestasi partai incumbent ini. Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya atau bahkan pemerintahan sebelumnya tidak mampu mencapai prestasi yang setara dengannya.
(6) Terus dukung kami untuk memajukan kesejahteraan bangsa!
Pada kalimat imperatif, “Terus dukung kami untuk memajukan kesejahteraan bangsa!”, pemilihan kata “dukung” dapat dimaknai sebagai perintah yang secara tidak langsung dan secara halus menyuruh pemirsa untuk mencontreng dengan kiasan kata tersebut. Penggunaan verba transitif “dukung” di sini dipilih oleh pembuat iklan ketimbang kata perintah langsung, seperti “contreng!” atau “pilih!”.
Tata bahasa (grammar)
(1) Sampai 2007 (K) kita (S) masih harus impor (P) beras (O).
(2) Tahun 2008 (K) Partai Golkar di DPR dan di pemerintahan (S)
berhasil mewujudkan (P) swasembada beras (O).
(3) Tahun ini (K) kita (S) akan ekspor (P) beras(O).
Dalam kalimat tersebut, bermakna bahwa Partai yang bersangkutan ingin menampakkan hasil kerjanya dalam sebuah bentuk peristiwa. Ditampakkan secara jelas, siapa yang diletakkan sebagai pelaku yang berjasa dan berperan aktif. Pada (1) dan (3), disebutkan siapa yang bertindak sebagai yang mengalami kemajuan atau menuju pada perbaikan. Pada (2), disebutkan secara langsung yang bertindak serta berperan aktif dalam mewujudkan swasembada beras.
Partai Golkar dideskripsikan sebagai motor atau penggerak serta sebagai partai yang berjasa dalam pencapaian ini. Pendeskripsian tersebut dapat digunakan sebagai nilai jual Partai Golkar untuk mendapatkan simpati khalayak. Keadaan Indonesia yang digambarkan mengalami perbaikan sejak sebelum tahun 2007, 2008, sampai 2009.
– Representasi kombinasi anak kalimat:
(2) Tahun 2008 Partai Golkar di DPR dan di pemerintahan berhasil mewujudkan swasembada beras.
Bentuk perpanjangan berupa tambahan yang ditandai oleh koordinator dan digunakan untuk memberikan penjelasan bahwa tidak hanya di DPR, tetapi juga di pemerintahan, Partai Golkar mampu mewujudkan swasembada beras.
(5) 2 Petani : Untuk hari esok yang lebih baik.
Pada kalimat (5), terdapat bentuk elaborasi yang ditandai dengan adanya penggunaan yang. Kata sambung relatif yang tersebut digunakan untuk memperinci tujuan dari dipilihnya Partai Golkar.
– Representasi rangkaian antarkalimat
Iklan menguraikan perbaikan dari tahun ke tahun. Iklan digunakan sebagai bahan laporan kepada pemirsa yakni rakyat Indonesia atas kinerja partai incumbent.

2. Relasi
Pihak-pihak yang diangkat dalam iklan ini ada 4 pihak, antara lain Indonesia, Partai Golkar, petani, dan Jusuf Kalla..
Iklan tersebut menggunakan kosakata formal dalam upaya promosi partainya tersebut. Banyak yang menganggap, kosakata ini lebih memiliki prestise dibandingkan dengan jenis kosakata yang lain. Hal tersebut juga dapat menunjukkan konstruksi hubungan yang formal di mana penonjolan kelas akan lebih terasa.

3. Identitas
Teks iklan tersebut menggambarkan bagaimana pemirsa diletakkan pada posisi kita (Indonesia). Teks ingin menonjolkan keberhasilan tersebut sebagai prestasi bersama. Teks tersebut mensugestikan kepada khalayak untuk ikut menjadi bagian dari perbaikan keadaan Indonesia. Keberhasilan swasembada beras ini diklaim oleh partai pengiklan dan dijadikan isu dalam mempromosikan partai yang bersangkutan. Petani, sebagai pelengkap pelaku dan merupakan bagian dari keberhasilan yang telah dicapai. Jusuf Kalla diletakkan sebagai perwakilan dari Partai Golkar di mana partai ini direpresentasikan dalam kata ganti kami.
Tabel 4.1.7.1.2
Variabel Intertekstualitas
No. Unsur Pemaparan
1 Manifest Intertectuality:
Representasi wacana (1) Sampai 2007 kita masih harus impor beras.
(2) Tahun 2008 Partai Golkar di DPR dan di pemerintahan berhasil mewujudkan swasembada beras.
(3) Tahun ini kita akan ekspor beras.
Pengandaian (1) Sampai 2007 kita masih harus impor beras.
(2) Tahun 2008 Partai Golkar di DPR dan di pemerintahan berhasil mewujudkan swasembada beras.
(3) Tahun ini kita akan ekspor beras.
Metadiscourse (1) Sampai 2007 kita masih harus impor beras.
(2) Tahun 2008 Partai Golkar di DPR dan di
pemerintahan berhasil mewujudkan swasembada
beras.
(3) Tahun ini kita akan ekspor beras.
2
Interdiscursivity:
Genre (6) Terus dukung kami untuk memajukan kesejahteraan bangsa!
Tipe aktivitas (1) Sampai 2007 kita masih harus impor beras.
(2) Tahun 2008 Partai Golkar di DPR dan di pemerintahan berhasil mewujudkan swasembada beras.
(3) Tahun ini kita akan ekspor beras.
(5) 2 Petani : Untuk hari esok yang lebih baik.
Gaya (1) Sampai 2007 kita masih harus impor beras.
(3) Tahun ini kita akan ekspor beras.
Wacana (1) Sampai 2007 kita masih harus impor beras.
(2) Tahun 2008 Partai Golkar di DPR dan di pemerintahan berhasil mewujudkan swasembada beras.
(3) Tahun ini kita akan ekspor beras.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.7.1.2
1. Manifest Intertectuality:
– Representasi wacana
Teks iklan Partai Golkar yang bertajuk swasembada beras tersebut berusaha untuk memperkenalkan serta mempromosikan partai yang bersangkutan. Fokus perhatian dalam teksnya yakni hasil kerja nyata partai pengiklan dengan mengusung wacana mengenai keberhasilan partai incumbent tersebut dalam mewujudkan Indonesia berswasembada beras.
– Pengandaian
Sampai 2007 mengandaikan masa-masa sebelum partai ini menduduki posisi pemerintahan dan masa-masa awal memerintah sejak 2005, Indonesia masih mengimpor beras. Baru pada tahun 2008, kinerja pemerintah menunjukkan prestasi swasembada beras dan dilajutkan dengan rencana ekspor pada tahun 2009.
– Metadiscourse
Tahun 2007, digambarkan masih mengimpor beras. Pendefinisian ini untuk membatasi tahun-tahun berikutnya yang membuahkan prestasi, yaitu Indonesia berswasembada beras dan adanya rencana ekspor, di mana Jusuf Kalla dari Partai Golkar sedang memerintah.
2. Interdiscursivity:
– Genre
(6) Terus dukung kami untuk memajukan kesejahteraan bangsa!
Iklan kampanye televisi adalah genre iklan ini. Ini ditunjukkan dengan ajakan untuk terus mendukung kami (Partai Golkar) dengan misi untuk memajukan kesejahteraan bangsa.
– Tipe aktivitas
Iklan dibuka dengan pendeskripsian rentetan peristiwa atau keadaan yang dialami Indonesia (rakyat Indonesia). Dalam iklan tersebut, pembuat iklan (partai) menggunakan teks lain, yaitu data mengenai prestasi swasembada beras di Indonesia. Hal ini dapat dilihat, pada teks iklan disebutkan “Sampai 2007 kita masih harus impor beras”. Selain itu, teks lain yang juga digunakan yaitu mengenai jumlah ketersedian beras apakah surplus atau sebaliknya selama kurun waktu tertentu.
Selanjutnya, terdapat tuturan dari pelaku iklan yakni 2 orang petani yang ditampilkan dalam bagian iklan. Dua petani: “Untuk hari esok yang lebih baik”. Jika dilihat mereka (2 petani) mengisi kekosongan pendukung nilai yang sedang dijual ini, yaitu swasembada beras. Petani digambarkan sebagai posisi yang diuntungkan dari bagian keberhasilan ini. Petani tersebut dideskripsikan menaruh harap bagi Indonesia yang lebih baik. Tuturan dari petani yang berisi harapan tersebut mengindikasikan dukungan terhadap Partai Golkar.
Tidak lengkap rasanya jika tidak menampilkan sosok empunya partai tersebut dalam iklan yang bernuansa kampanye ini. Hal ini dapat menambah keyakinan bagi khalayak sebagai pemilik hak suara pada pergelutan pemilu 2009. Dapat juga sebagai upaya pencitraan partai atau pun dirinya. Ini tentunya akan dinilai oleh pemirsa, baik tidaknya, meragukan tidaknya, meyakinkan tidaknya. Pencitraan di sini, dapat diupayakan yaitu salah satunya dalam teks. Dalam iklan tersebut, disertakan tulisan berupa data nama lengkap serta jabatannya, yaitu Jusuf Kalla dan Ketua Umum Partai Golkar saat dirinya bertutur. Tujuan kampanye adalah untuk mengumpulkan sejumlah dukungan, dalam tuturan Jusuf Kalla juga berisi ajakan disertai janji partainya, yaitu ditunjukkan dengan, “Terus dukung kami untuk memajukan kesejahteraan bangsa!”. Penggunaan subordinator “untuk” semakin memperjelas tujuan dipilihnya Partai Golkar dan sekaligus berisikan janji yang diusungnya.
– Gaya
Kosakata yang digunakan bersifat persuasif. Pembuat iklan mengonstruksi pengetahuan dan informasi mengenai partai pengiklan yang ditujukan kepada konsumen dalam hal ini pemilih pada pelaksanaan pemilu. Bahasa yang digunakan yaitu bersifat tidak formal.
– Wacana
Wacana “swasembada beras” diangkat sebagai isu untuk menarik ketertarikan khalayak, di mana beras adalah bahan makanan pokok hampir seluruh rakyat Indonesia. Genre iklan televisi ini bernuansakan kampanye. Tipe aktivitasnya memposisikan pembuat iklan (partai) sebagai subjek dan khalayak sebagai pemirsa atau pemilih. Dalam iklan dideskripsikan keberhasilan Partai Golkar, serta ajakan untuk mendukung partai berlambang beringin ini. Kemudian diakhiri dengan semboyan partai Golkar ‘Maju Bersama Golkar’. Wacana yang digunakan dalam iklan ini yaitu wacana naratif dengan penonjolan pronomina persona pertama yaitu kita dan kami.

4.1.7.2 Analisis Praktik Sosiokultural
Tabel 4.1.7.2.1
Variabel Praktik Sosiokultural (Makro)
No. Unsur Pemaparan
1 Situasional (1) Sampai 2007 kita masih harus impor beras.
(2) Tahun 2008 Partai Golkar di DPR dan di pemerintahan
berhasil mewujudkan swasembada beras.
(3) Tahun ini kita akan ekspor beras.
2 Institusional (1) Sampai 2007 kita masih harus impor beras.
(2) Tahun 2008 Partai Golkar di DPR dan di pemerintahan
berhasil mewujudkan swasembada beras.
(3) Tahun ini kita akan ekspor beras.
(5) 2 Petani : Untuk hari esok yang lebih baik.
3 Sosial (1) Sampai 2007 kita masih harus impor beras.
(2) Tahun 2008 Partai Golkar di DPR dan di pemerintahan
berhasil mewujudkan swasembada beras.
(3) Tahun ini kita akan ekspor beras.
1. Situasional
Pembuatan iklan ini dipengaruhi oleh aspek situasional, yaitu pada masa kampanye saat ini. Dalam kampanye diperlukan sesuatu yang dapat dijual kepada khalayak luas. Berkaitan dengan itu pula, sebagai partai incumbent, Partai Golkar memiliki kuasa serta keuntungan dalam menggunakan hasil kerja atau pun prestasi yang dicapai selama menjabat. Iklan tersebut mengusung tajuk swasembada beras. Sebagai negara agraris, Indonesia sangat kaya. Namun, masih saja banyak yang kelaparan dan menderita kemiskinan. Partai Golkar melalui iklannya, ingin mengubah pandangan tersebut, bahwa Indonesia berhasil swasembada beras dan akan ekspor beras. Khalayak akan berubah pandangan tentang Indonesia, yaitu berhasil keluar dari keterpurukan dalam pemenuhan bahan pangan.
2. Institusional
Biro iklan harus mempromosikan partai politik yang bersangkutan dengan menonjolkan kelebihan yang dipunyai partai agar disukai dan mendapat simpati dari khalayak. Dengan begitu, nantinya dipilih pada pelaksanaan pemilu. Tema yang diangkat dan dipilih dalam iklan Partai Golkar ini adalah swasembada beras. Ini bisa jadi sebagai upaya menarik simpati khalayak yang menginginkan Indonesia sejahtera. Salah satunya dari aspek perbaikan pangan. Masalah ini merupakan hal yang urgen. Di mana kebutuhan setiap manusia adalah pangan, selain sandang dan papan. Beras merupakan bahan makanan yang dikonsumsi oleh sebagian besar rakyat Indonesia.
Dalam masa kampanye, iklan dimanfaatkan oleh partai politik untuk dapat mengangkat namanya menjadi bagus dan baik di mata pemirsa. Hal ini secara tidak langsung mengontrol pandangan atau pikiran khalayak.
3. Sosial
Kemampuan suatu negara dalam pengelolaan dan pemenuhan bahan makanan pokok rakyatnya, merupakan sesuatu yang dapat dikatakan sebagai prestasi yang membanggakan.
Indonesia kaya sekali bahan makanan pokok yang dapat dikonsumsi rakyatnya. Namun, kebijakan pangan monokultur pada masa orde baru membuat rakyat Indonesia menjadi ketergantungan hanya pada satu jenis bahan makanan (monokultur). Ini semakin membuat kebutuhan akan beras semakin meningkat. Nasi, adalah salah satu sajian yang dikonsumsi sebagian besar rakyat Indonesia yang terbuat dari beras. Orang Indonesia dapat dikatakan ketergantungan terhadap makanan yang satu ini, sehingga ada ungkapan “belum makan rasanya, kalau belum makan nasi”. Sebanyak apa pun makanan yang masuk ke mulut orang Indonesia, belum bisa dikatakan sudah makan sebelum perut mereka terisi nasi.
4.1.8 Iklan Partai Persatuan dan Pembangunan (PPP)
Teks Iklan
(1) Lagu : Di bawah kibaran bendera warna hijau berlambang Ka’bah.
(2) 1: Assalamu’alaikum.
(3) 2: Wa’alaikumsalam.
(4) 1: Tanpa persatuan tidak ada pembangunan.
(5) 2: Pembangunan bukan karena kami oleh kami,
3: bukan karena mereka oleh mereka,
4: tapi karena kita oleh kita.
(6) (semua) : Untuk Indonesia.
Keterangan: 1, 2, 3, dan 4 adalah tokoh-tokoh PPP

4.1.8.1 Analisis Teks dan Intertekstualitas
Tabel 4.1.8.1.1
Variabel Teks (Mikro)
No. Unsur Pemaparan
1 Representasi Dalam anak kalimat:
Kosakata
(4) 1: Tanpa persatuan tidak ada pembangunan.
(5) 2: Pembangunan bukan karena kami oleh kami.
3: Bukan karena mereka oleh mereka.
4: Tapi karena kita oleh kita.
Preposisi oleh digunakan untuk menunjukkan siapa yang berperan sebagai pelaku pembangunan.
Tata bahasa (grammar)
(4)1: Tanpa persatuan (S) tidak ada (P) pembangunan (Pel).
Metafora
(1) Di bawah kibaran bendera warna hijau berlambang Ka’bah.
Kombinasi anak kalimat:
(5) 2: Pembangunan bukan karena kami oleh kami,
3: bukan karena mereka oleh mereka,
4: tapi karena kita oleh kita.
Rangkaian antarkalimat:
(1) Lagu : Di bawah kibaran bendera warna hijau berlambang Ka’bah.
2 Relasi (1) Lagu : Di bawah kibaran bendera warna hijau
berlambang Ka’bah.
3 Identitas (5) 2: Pembangunan bukan karena kami oleh kami,
3: bukan karena mereka oleh mereka,
4: tapi karena kita oleh kita.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.8.1.1
1. Representasi
– Representasi dalam anak kalimat:
Kosakata
(4) 1: Tanpa persatuan tidak ada pembangunan.
Subordinator tanpa menyatakan persatuan sebagai alat untuk mencapai pembangunan.
(5) 2: Pembangunan bukan karena kami oleh kami.
3: Bukan karena mereka oleh mereka.
4: Tapi karena kita oleh kita.
Preposisi oleh digunakan untuk menunjukkan siapa yang berperan sebagai pelaku pembangunan.
Tata bahasa (grammar)
(4) 1: Tanpa persatuan (S) tidak ada (P) pembangunan (Pel).
Persatuan ditampilkan sebagai alat yang mampu mendorong pembangunan.
Metafora
(1) Di bawah kibaran bendera warna hijau berlambang Ka’bah.
Metafora yang digunakan dalam syair lagu tersebut adalah deskripsi PPP untuk mengidentifikasikan bahwa partai yang beriklan adalah PPP yang dijelaskan dengan deskripsi bendera PPP, berwarna hijau dengan lambang Ka’bah.
– Representasi kombinasi anak kalimat:
(5) 2: Pembangunan bukan karena kami oleh kami,
3: bukan karena mereka oleh mereka,
4: tapi karena kita oleh kita.
Koordinator (te)tapi menjadi penghubung yang menyatakan perpanjangan berupa kontra antara anak kalimat sebelumnya, yaitu pembangunan bukan karena kami oleh kami, bukan karena mereka oleh mereka.
– Representasi rangkaian antarkalimat:
Iklan meletakkan latar persatuan yaitu dengan penggunaan lagu mars sebagai pembuka. Hal ini untuk menegaskan dan memperkenalkan kepada pemirsa bahwa persatuan menjadi tema sebagai representasi PPP.

2. Relasi
Dua pihak, yaitu PPP dan rakyat Indonesia. PPP ditampilkan secara implisit hadir lewat syair lagu yang mengawali iklan, di bawah kibaran bendera warna hijau berlambang Ka’bah (1). PPP dideskripsikan sebagi partai yang mengusung persatuan untuk pembangunan Indonesia.
PPP ditampilkan sebagai partai yang mempunyai peran dan yang melakukan pembangunan dengan mengikutsertakan rakyat Indonesia yang ditandai oleh pronomina inklusif kita. Tidak hanya PPP sebagai pembicara, tetapi juga melibatkan kerja sama pendengar (pemirsa).

3. Identitas
Pemirsa diposisikan pada pihak rakyat Indonesia. PPP sebagai partai yang memiliki misi membangun bangsa dengan modal persatuan bangsa untuk mencapai persatuan dan pembangunan Indonesia.
Tabel 4.1.8.1.2
Variabel Intertekstualitas
No. Unsur Pemaparan
1 Manifest Intertectuality:
Representasi wacana (4) 1: Tanpa persatuan tidak ada pembangunan.
(5) 2: Pembangunan bukan karena kami oleh kami.
3: Bukan karena mereka oleh mereka.
Pengandaian (1) Di bawah kibaran bendera warna hijau berlambang Ka’bah.
Negasi (4) 1: Tanpa persatuan tidak ada pembangunan.
(5) 2: Pembangunan bukan karena kami oleh kami.
3: Bukan karena mereka oleh mereka.
Ironi (4) 1: Tanpa persatuan tidak ada pembangunan.
Metadiscourse (5) 2: Pembangunan bukan karena kami oleh kami.
3: Bukan karena mereka oleh mereka.
4: Tapi karena kita oleh kita.
2
Interdiscursivity:
Genre Lagu : Di bawah kibaran bendera warna hijau berlambang Ka’bah.
Tipe aktivitas (1) Lagu : Di bawah kibaran bendera warna hijau berlambang Ka’bah.
(2) 1: Assalamu’alaikum.
(3) 2: Wa’alaikumsalam.
(1) 1: Tanpa persatuan tidak ada pembangunan.
(5) 2: Pembangunan bukan karena kami oleh kami,
3: bukan karena mereka oleh mereka,
4: tapi karena kita oleh kita.
(6) (semua) : Untuk Indonesia.
Gaya 4: Tapi karena kita oleh kita.
Wacana (5) 2: Pembangunan bukan karena kami oleh kami.
3: Bukan karena mereka oleh mereka.
4: Tapi karena kita oleh kita.

1. Manifest Intertectuality:
– Representasi wacana
Tema yang diangkat dalam iklan ini yaitu persatuan dan pembangunan. Selain merepresentasikan kondisi atau keadaan Indonesia, topik ini juga merepresentasikan serta mendeskripsikan partai yang bersangkutan, yaitu Partai Persatuan Pembangunan. Persatuan direpresentasikan oleh ucapan salam umat Muslim, yakni assalamu’alaikum. Penggunaannya bukan saja sebagai kata sapaan semata tetapi di dalamnya mengandung doa yang dapat merekatkan rasa persaudaraan. Jika persaudaraan telah terjalin maka tercapailah kata ‘persatuan’. Dalam iklan ini persatuan digambarkan memiliki hubungan yang kait-mengait.
– Pengandaian
Penggunaan lagu mars PPP sebagai pembuka iklan mendeskripsikan bahwa PPP mengidentifikasikan dirinya sebagai partai yang mendorong persatuan untuk pembangunan bangsa yang merupakan tema iklan tersebut.
– Negasi
Pada (4) terdapat bentuk negasi yang menegaskan bahwa pembangunan hanya dapat terwujud jika ada persatuan. Pada (5), penggunaan bukan sebagai penegasan bahwa pembangunan bukan dilakukan dan tergantung oleh kami atau pun mereka.
– Ironi
Kalimat tersebut menggambarkan bahwa pembangunan Indonesia terhambat oleh tidak adanya persatuan.
– Metadiscourse
Iklan mendefinisikan pihak kami dan mereka sebagai pihak yang tidak memiliki kuasa dalam mencapai pembangunan, yang ditonjolkan dalam iklan ini adalah peran kita sebagai pelaku pembangunan.
2. Interdiscursivity:
– Genre
Iklan kampanye televisi.
– Tipe aktivitas
Iklan ini diawali dengan identifikasi iklan dengan adanya lagu mars PPP sebagai pembuka teks iklan. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan tokoh PPP yang saling bertegur sapa dengan ucapan salam (assalamu’alaikum). Berikutnya iklan menghadirkan pernyataan berangkai mengenai persatuan dan pembangunanyang disampaikan oleh tokoh-tokoh PPP. Barulah pada akhir disampaikan misi PPP, ‘untuk Indonesia’.
– Gaya
Gaya yang digunakan dalam iklan ini adalah tidak formal.
– Wacana
Rangkaian tuturan dalam iklan tersut menggunakan wacana naratif yang ditunjukkan dengan adanya penonjolan pelaku pembangunan dengan penggunaan pronomina pertama kami dan kita, juga pronomina ketiga mereka.
(5) 2: Pembangunan bukan karena kami oleh kami.
3: Bukan karena mereka oleh mereka.
4: Tapi karena kita oleh kita.
Misi PPP, ‘untuk Indonesia’ yang disampaikan serempak atau secara bersama-sama menunjukkan persatuan tokoh PPP atau representasi bangsa Indonesia.
4.1.8.2 Analisis Praktik Sosiokultural
Tabel 4.1.8.2.1
Variabel Praktik Sosiokultural (Makro)
No. Unsur Pemaparan
1 Situasional (4) 1: Tanpa persatuan tidak ada pembangunan.
(5) 2: Pembangunan bukan karena kami oleh kami.
3: Bukan karena mereka oleh mereka.
2 Institusional (4) 1: Tanpa persatuan tidak ada pembangunan.
(5) 2: Pembangunan bukan karena kami oleh kami.
3: Bukan karena mereka oleh mereka.
3 Sosial (2) 1: Assalamu’alaikum.
(3) 2: Wa’alaikumsalam.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.8.2.1
1. Situasional
Banyak diberitakan dan dilaporkan kerusuhan bahkan bentrokan di berbagai wilayah Indonesia, apakah karena pertentangan beda suku, beda pendapat, atau hal lainnya, menjadi topik iklan ini. Hal tersebut sangat kontra dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang menggambarkan persatuan Indonesia. Bangsa Indonesia sampai saat ini belum mencapai pembangunan yang maksimal, karena terhambat oleh tidak adanya persatuan bangsa.
2. Institusional
Tema ‘persatuan dan pembangunan’ diangkat dalam iklan tersebut. Terjadinya kerusuhan atau bentrokan di berbagai daerah di Indonesia hanya menghasilkan kerugian, bukan saja harta, tetapi nyawa juga bisa menjadi taruhannya. Ini pula yang patut dipertanyakan, ke manakah moral Indonesia? Masyarakat Indonesia sudah lelah dengan berbagai tragedi yang merenggut banyak nyawa tak bersalah. Untuk itu PPP mengangkat isu ini untuk menggugah ketertarikan pemirsa.
3. Sosial
Dari Wikipedia, assalamu’alaikum merupakan salam dalam Bahasa Arab, dan digunakan oleh kultur Muslim. Salam ini adalah sunnah Nabi Muhammad SAW, yang dapat merekatkan Ukhuwah Islamiyah umat Muslim di seluruh dunia. Untuk yang mengucapkan salam, hukumnya adalah Sunnah. Sedangkan bagi yang mendengarnya, wajib untuk menjawabnya. Penggunaan assalamu’alaikum dalam iklan ini sebagai pembuka pembicaraan. Di mana ucapan salam sebagai pernyataan atau pemberitahuan bahwa ‘Anda aman dari bahaya tangan dan lidahku’. Hal tersebut merepresentasikan bahwa terdapat kaitan yang erat antara ucapan salam dengan tema persatuan yang diuraikan dalam iklan tersebut. Penggunaan ucapan salam tersebut merepresentasikan bahwa PPP merupakan partai Islam. Bangsa Indonesia dengan berbagai perbedaan yang dimilikinya, telah mendeklarasikan persatuan mereka dengan kesamaan tujuan yaitu dalam kesatuan Nusantara, Indonesia.

4.1.9 Iklan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)
Teks Iklan
(1) SUPER : Kemiskinan masih 35 juta
(2) Pemulung sampah : Masih seperti ini, tambah susah.
(3) SUPER : Pengangguran masih jutaan
(4) Pencari kerja : Cari kerja tambah susah.
(5) SUPER : Sembako masih tak terjangkau
(6) Ibu rumah tangga : Sembako tambah mahal.
(7) FVO: Ayo, kita lakukan perubahan!
(8) PDI Perjuangan satu-satunya partai yang berani kontrak politik mengubah nasib rakyat dengan memperjuangkan sembako murah, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
(9) Rakyat : Jadi, jangan lupa contreng PDI Perjuangan nomor dua delapan!

4.1.9.1 Analisis Teks dan Intertekstualitas
Tabel 4.1.9.1.1
Variabel Teks (Mikro)
No. Unsur Pemaparan
1 Representasi Dalam anak kalimat:
Kosakata
masih
(1) Kemiskinan masih 35 juta
(2) Pemulung sampah : Masih seperti ini, tambah susah.
(3) Pengangguran masih jutaan
(5) Sembako masih tak terjangkau
(5) Sembako masih tak terjangkau
(7) Ayo, kita lakukan perubahan!
– (9) Jadi, jangan lupa contreng PDI Perjuangan nomor dua delapan!
Tata bahasa (grammar)
PDI Perjuangan satu-satunya partai yang berani kontrak
politik (S) mengubah (P) nasib rakyat (O) dengan memperjuangkan sembako murah, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat (K).
(7) Ayo, kita (S) lakukan (P) perubahan (O)!
Metafora
(8) PDI Perjuangan satu-satunya partai yang berani kontrak
politik mengubah nasib rakyat dengan memperjuangkan
sembako murah, menciptakan lapangan kerja, dan
meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Kombinasi anak kalimat:
(8) PDI Perjuangan satu-satunya partai yang berani kontrak
politik mengubah nasib rakyat dengan memperjuangkan
sembako murah, menciptakan lapangan kerja, dan
meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Rangkaian antarkalimat:
(1) SUPER: Kemiskinan masih 35 juta
(2) Pemulung sampah : Masih seperti ini, tambah susah.
(3) SUPER: Pengangguran masih jutaan
(4) Pencari kerja : Cari kerja tambah susah.
(5) SUPER: Sembako masih tak terjangkau
(6) Ibu rumah tangga : Sembako tambah mahal.
(7) Ayo, kita lakukan perubahan!
(8) PDI Perjuangan satu-satunya partai yang berani kontrak politik mengubah nasib rakyat dengan memperjuangkan sembako murah, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
1 (9) Rakyat: Jadi, jangan lupa contreng PDI Perjuangan nomor dua delapan!
2 Relasi (8) PDI Perjuangan satu-satunya partai yang berani kontrak politik mengubah nasib rakyat dengan memperjuangkan sembako murah, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
3 Identitas (1) SUPER : Kemiskinan masih 35 juta
(2) Pemulung sampah : Masih seperti ini, tambah susah.
(3) SUPER: Pengangguran masih jutaan
(4) Pencari kerja : Cari kerja tambah susah.
(5) SUPER: Sembako masih tak terjangkau
(6) Ibu rumah tangga : Sembako tambah mahal.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.9.1.1
1. Representasi
– Representasi dalam anak kalimat:
Kosakata
 masih
(1) SUPER: Kemiskinan masih 35 juta
(2) Pemulung sampah : Masih seperti ini, tambah susah.
(3) SUPER: Pengangguran masih jutaan
(5) Sembako masih tak terjangkau
Penggunaan kata masih pada (1) (2) (3) dan (5) tersebut menunjukkan keadaan yang statis dan tidak tampak perubahan ke arah yang lebih baik. Pada (1) dan (3), menunjukkan bahwa jumlah yang disebutkan tersebut begitu besar dan harus dikurangi.
(5) Sembako masih tak terjangkau
Pemakaian frasa tak terjangkau untuk menggantikan kata mahal. Frasa tak terjangkau memiliki konotasi yang halus untuk menyebutkan harga yang begitu tinggi yang menyebabkan tidak terbeli oleh masyarakat..
(7) Ayo, kita lakukan perubahan!
Penggunaan interjeksi ajakan ayo yaitu untuk mengajak rakyat Indonesia melakukan perubahan bersama PDIP.
(9) Jadi, jangan lupa contreng PDI Perjuangan nomor dua
delapan!
Pemakaian kata jadi merupakan saran dan kesimpulan iklan tersebut. Kalimat imperatif yang ditandai oleh penggunaan jangan lupa adalah untuk melarang untuk lupa atau tidak boleh lupa dan harus ingat. Contreng merupakan suruhan langsung kepada pemirsa apa yang harus dilakukannya.
Tata bahasa (grammar)
PDI Perjuangan satu-satunya partai yang berani kontrak politik (S) mengubah (P) nasib rakyat (O) dengan memperjuangkan sembako murah, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat (K).
PDIP dihadirkan dalam bentuk peristiwa yaitu PDIP sebagai pelaku yang akan melakukan pengubahan nasib rakyat.
(7) Ayo, kita (S) lakukan (P) perubahan (O)!
PDIP tampil sebagai pelaku yang mengajak rakyat untuk melakukan perubahan.
Metafora
(8) PDI Perjuangan satu-satunya partai yang berani kontrak politik mengubah
nasib rakyat dengan memperjuangkan sembako murah, menciptakan
lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Metafora yang dibangun dalam kalimat tersebut, yaitu memperjuangkan sembako murah memiliki makna ‘berusaha sekuat tenaga untuk menurunkan harga sembako’.

– Representasi kombinasi anak kalimat:
(9) PDI Perjuangan satu-satunya partai yang berani kontrak politik mengubah
nasib rakyat dengan memperjuangkan sembako murah, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Kata sambung relatif yang menandai penggunaan bentuk elaborasi. Bentuk tersebut untuk memperinci dan menjelaskan nomina satu-satunya partai yaitu hanya PDIP, partai yang membuat kontrak politik, sedangkan yang lainnya tidak.
Bentuk lainnya adalah perpanjangan yang menunjukkan tambahan penjelasan mengenai isi kontrak politik, selain memperjuangkan sembako murah dan menciptakan lapangan kerja, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan rakyat.
– Representasi rangkaian antarkalimat
Iklan menghadirkan kondisi masyarakat dalam situasi perekonomian yang masih sulit. Representasi rakyat kecil (wong cilik) dengan menggunakan pemulung sampah, pencari kerja, dan ibu rumah tangga, kondisi bangsa yang ditampilkan berupa data, yaitu jumlah kemiskinan, pengangguran, dan harga sembako diamini oleh pernyataan langsung oleh aktor iklan tersebut. Isu ekonomi yang statis (yang ditandai oleh kata masih) mendapat dukungan melalui pernyataan atau pun keluhan rakyat kecil tersebut.

2. Relasi
Dua pihak, yaitu rakyat dan PDIP.
PDIP digambarkan sebagai partai yang membawa misi perubahan untuk wong cilik dengan kontrak politiknya. Pemulung sampah, pencari kerja, dan ibu rumah tangga merupakan representasi wong cilik yang dijanjikan oleh PDIP mengubah nasib rakyat.

3. Identitas
Pemirsa diletakkan pada posisi rakyat kecil (wong cilik) yang hidup dalam kesusahan. Rakyat dalam iklan ini digambarkan menggantungkan harapan mencapai perubahan di pundak PDIP.
PDIP dengan misinya mengubah nasib rakyat hadir dalam teks sebagai solusi atau jawaban bagi keadaan Indonesia yang sekarang.
Tabel 4.1.9.1.2
Variabel Intertekstualitas
No. Unsur Pemaparan
1 Manifest Intertectuality:
Representasi wacana FVO: PDI Perjuangan satu-satunya partai yang berani kontrak politik mengubah nasib rakyat dengan memperjuangkan sembako murah, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Pengandaian (1) SUPER : Kemiskinan masih 35 juta
(3) SUPER : Pengangguran masih jutaan
(5) SUPER : Sembako masih tak terjangkau
Negasi (5) SUPER : Sembako masih tak terjangkau
2
Interdiscursivity:
Genre Rakyat: Jadi, jangan lupa contreng PDI Perjuangan nomor dua delapan!
Tipe aktivitas (1) SUPER : Kemiskinan masih 35 juta
(2) Pemulung sampah : Masih seperti ini, tambah susah.
(3) SUPER : Pengangguran masih jutaan
(4) Pencari kerja : Cari kerja tambah susah.
(5) SUPER : Sembako masih tak terjangkau
(6) Ibu rumah tangga : Sembako tambah mahal.
(7) Ayo, kita lakukan perubahan!
(8) PDI Perjuangan satu-satunya partai yang berani kontrak politik mengubah nasib rakyat dengan memperjuangkan sembako murah, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
(9) Rakyat : Jadi, jangan lupa contreng PDI Perjuangan nomor dua delapan!
Gaya (4) Pencari kerja : Cari (mencari) kerja tambah susah.
Wacana (8) PDI Perjuangan satu-satunya partai yang berani kontrak politik mengubah nasib rakyat dengan memperjuangkan sembako murah, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.9.1.2
1. Manifest Intertectuality:
– Representasi wacana
Tema mengenai kontrak politik tersebut menggunakan FVO (female voice) sebagai representasi pembawa kebijakan atau program yaitu Megawati yang juga seorang wanita. Kehadiran Megawati dalam iklan tersebut hanya dalam bentuk visualisasi, sedangkan verbalnya disuarakan oleh FVO.
– Pengandaian
(1) SUPER : Kemiskinan masih 35 juta
(3) SUPER : Pengangguran masih jutaan
(5) SUPER : Sembako masih tak terjangkau
Pernyataan dengan adanya penggunaan kata masih memberi anggapan di depan bahwa perekonomian Indonesia statis dan tidak mengalami perbaikan.
2. Interdiscursivity:
– Genre
(9) Rakyat : Jadi, jangan lupa contreng PDI Perjuangan nomor dua delapan!
Iklan kampanye televisi merupakan genre iklan ini, yaitu ditunjukkan dengan adanya ajakan untuk mencontreng PDIP.
– Tipe aktivitas
Iklan ini diawali dengan uraian dan penggambaran keadaan Indonesia yang memprihatinkan, yaitu dengan representasi kemiskinan, pengangguran, dan sembako mahal. Kemudian PDIP dihadirkan membawa janji perubahan dengan kontrak politiknya. Di akhir baru pemirsa diajak/ disuruh untuk memilih partai tersebut.
– Gaya
Gaya yang dipilih dalam iklan tersebut, bersifat nonformal yaitu ditandai oleh penggunaan kata tidak baku cari.
(4) Pencari kerja : Cari (mencari) kerja tambah susah.
– Wacana
Wacana yang dibangun yaitu kontrak politik PDIP. Wacana ini dibuka dengan deskripsi kehidupan rakyat kecil yang kekurangan antara lain pemulung sampah sebagai representasi kemiskinan, pencari kerja sebagai representasi jumlah pengangguran, serta ibu rumah tangga sebagai representasi rakyat Indonesia yang tidak mampu membeli sembako. PDIP sendiri hadir sebagai representasi solusi mencapai kesejahteraan.
4.1.9.2 Analisis Praktik Sosiokultural
Tabel 4.1.9.2.1
Variabel Praktik Sosiokultural (Makro)
No. Unsur Pemaparan
1 Situasional (1) SUPER : Kemiskinan masih 35 juta.
(2) Pemulung sampah : Masih seperti ini, tambah susah.
(3) SUPER : Pengangguran masih jutaan.
(4) Pencari kerja : Cari kerja tambah susah.
(5) SUPER : Sembako masih tak terjangkau.
(6) Ibu rumah tangga : Sembako tambah mahal.
2 Institusional (8) PDI Perjuangan satu-satunya partai yang berani kontrak politik mengubah nasib rakyat dengan memperjuangkan sembako murah, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
3 Sosial (8) PDI Perjuangan satu-satunya partai yang berani kontrak politik mengubah nasib rakyat dengan memperjuangkan sembako murah, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Masyarakat membutuhkan langkah nyata bukan sekadar janji. Kini, masyarakat sudah tidak percaya lagi dengan janji-janji.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.9.2.1
1. Situasional
Kemiskinan kini telah mencapai 35 juta, pengangguran 9,43 juta orang, sembako semakin tidak terjangkau. Hal tersebut diangkat oleh PDIP sebagai partainya wong cilik dalam iklannya dengan membuat kontrak politik. Situasi Indonesia yang belum sejahtera, kurangnya lapangan kerja, dan harga sembako (sembilan bahan pokok) yang melambung membuat rakyat Indonesia hidup dalam kondisi serba kekurangan.

2. Institusional
Masyarakat akan sangat tertarik pada partai yang memperhatikan rakyat kecil. Kebutuhan akan pemenuhan ekonomi saat ini sangat urgen. Karena dari sinilah kehidupan selanjutnya bermula. Banyaknya rakyat Indonesia yang belum sejahtera, rakyat membutuhkan suatu perubahan ekonomi ke arah yang lebih baik. PDIP dalam iklannya menggunakan kontrak politik untuk menarik simpati rakyat (pemirsa). Kontrak politik untuk Perubahan dideklarasikan pada 19 Februari 2009, yang dilaporkan dalam iklan dalam rangka memenangkan pilihan pemirsa.
3. Sosial
Masyarakat membutuhkan langkah nyata bukan sekadar janji. Kini, masyarakat sudah tidak percaya lagi dengan janji-janji.
4.1.10 Iklan Partai Demokrat
Teks Iklan
(1) SUPER: Pidato Kenegaraan Presiden RI (15 Agustus 2008)
(2) SBY : Saya menyampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia.
(3) Pada tahun ini, kita kembali mencapai swasembada beras.
(4) Ini adalah untuk pertama kalinya, sejak masa orde baru.
(5) Produksi beras nasional lebih tinggi daripada konsumsi beras kita.
(6) Petani A : Penghasilan kami membaik.
(7) Petani B : Siapa dulu presidennya?
(8) Petani A dan B : SBY
(9) MVO: Partai Demokrat terus mendukung kebijakan pemerintahan presiden SBY yang
berhasil mewujudkan swasembada beras.
(10) Pilih Partai Demokrat nomor 31!
(11) Mari kita dukung terus!
(12) Lanjutkan!

4.1.10.1 Analisis Teks dan Intertekstualitas
Tabel 4.1.10.1.1
Variabel Teks (Mikro)
No. Unsur Pemaparan
1 Representasi Dalam anak kalimat:
Kosakata
Kata suruh
(10) Pilih Partai Demokrat nomor 31!
(11) Mari kita dukung terus!
(12) Lanjutkan!

(2) Saya menyampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia.
(9) Partai Demokrat terus mendukung kebijakan pemerintahan presiden SBY yang berhasil mewujudkan swasembada beras.
Tata bahasa (grammar)
(2) SBY : Saya (S) menyampaikan (P) kepada
seluruh rakyat Indonesia (K).
(3) Pada tahun ini (K), kita (S) kembali mencapai (P) swasembada beras (O).
(9) Partai Demokrat (S) terus mendukung (P) kebijakan
pemerintahan presiden SBY yang berhasil mewujudkan swasembada beras (K /art P Pel ).
Kombinasi anak kalimat:
(9) Partai Demokrat terus mendukung kebijakan pemerintahan presiden SBY yang berhasil mewujudkan swasembada beras.
Rangkaian antarkalimat:
(9) Partai Demokrat terus mendukung kebijakan pemerintahan presiden SBY yang berhasil mewujudkan swasembada beras
2 Relasi (7) Petani B : Siapa dulu presidennya?
(8) Petani A dan B : SBY.
3 Identitas (7) Petani B : Siapa dulu (P) presidennya (O)?

PEMBAHASAN TABEL 4.1.10.1.1
1. Representasi
– Representasi dalam anak kalimat:
Kosakata
Kata suruh
(10) Pilih Partai Demokrat nomor 31!
(11) Mari kita dukung terus!
(12) Lanjutkan!
Pemakaian kalimat imperatif yang berpredikat verba transitif pilih, menunjukkan posisi Partai Demokrat sebagai subjek sasaran kalimat tersebut.
Pemakaian interjeksi ajakan mari memiliki fungsi untuk menghaluskan isi kalimat imperatif tersebut.
Kata lanjutkan adalah bentuk suruhan untuk menindaklanjuti atau meneruskan yang ditandai dengan sufiks –kan sebagai penekanan terhadap kata yang dilekatkannya, lanjut.
menyampaikan dan mendukung
(2) Saya menyampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia.
(9) Partai Demokrat terus mendukung kebijakan pemerintahan
presiden SBY yang berhasil mewujudkan swasembada beras.
Kata menyampaikan dan mendukung digunakan untuk menyatakan hubungan yang bersifat formal dan resmi.
Tata bahasa (grammar)
(2) SBY : Saya (S) menyampaikan (P) kepada seluruh
rakyat Indonesia (K).
(3) Pada tahun ini (K), kita (S) kembali mencapai (P) swasembada beras (O).
(9) Partai Demokrat (S) terus mendukung (P) kebijakan
pemerintahan presiden SBY yang berhasil mewujudkan swasembada beras (K /art P Pel ).
Pada kalimat (2), terdapat bentuk paeristiwa di mana SBY atas nama dirinya menampilkan dirinya sebagai pelaku yang melakukan tindakan menyampaikan tersebut.
Pada kalimat (3), bentuk peristiwa menampilkan pelaku kita sebagai pelaku, yaitu antara Presiden sebagai pembicara dengan pemirsa atau pendengar pidato di acara kenegaraan, bekerja bersama-sama dalam mencapai kata swasembada beras.
Bentuk peristiwa pada kalimat (9), menampilkan Partai Demokrat bertindak sebagai pelaku yang mendukung atau sejalan dan setuju dengan kebijakan dari pemerintahan Presiden SBY.
– Representasi kombinasi anak kalimat
(9) Partai Demokrat terus mendukung kebijakan pemerintahan
presiden SBY yang berhasil mewujudkan swasembada beras.
Kalimat tersebut menggunakan bentuk elaborasi yang ditandai dengan kata sambung relatif yang untuk memperinci nomina ‘pemerintahan Presiden SBY’. Bentuk tersebut untuk menjelaskan dukungan Partai Demokrat, baik dukungan moral atau pun kerja, atas keberhasilan swasembada beras.
– Representasi rangkaian antarkalimat
Keberhasilan swasembada beras merupakan tema yang diangkat dalam iklan ini. Pernyataan dari petani dihadirkan dalam teks untuk mendukung tema tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan tersebut mendapat respon yang baik dari rakyatnya.

2. Relasi
Lima pihak yang muncul dalam iklan ini, yaitu Presiden SBY, rakyat, pemerintah, Partai Demokrat, dan petani.
Presiden Indonesia (SBY) membangun hubungan dirinya dengan rakyat dengan menggunakan pronomina kita untuk menginformasikan keberhasilan swasembada beras merupakan usaha bersama dan keberhasilan bersama.
SBY ditampilkan mempunyai hubungan yang dekat dengan petani. Sebagai rakyatnya, petani tidak segan-segan memanggil presidennya, dengan panggilan sehari-hari, yaitu SBY. Panggilan SBY tersebut, menggambarkan bahwa SBY sebagai presiden tidak membangun jarak dengan rakyatnya.
(7) Petani B : Siapa dulu presidennya?
(8) Petani A dan B : SBY
Partai Demokrat merupakan partai pendukung Presiden SBY. Partai Demokrat menggunakan keberhasilan program swasembada beras pemerintahan Presiden SBY untuk menarik simpati khalayak pemirsa.
3. Identitas
Pemirsa diletakkan pada posisi rakyat Indonesia yang digambarkan telah berhasil mencapai swasembada beras.
Di mata pendukungnya, Presiden SBY digambarkan merupakan presiden kebanggaan rakyatnya. Hal ini tampak dari ungkapan petani yang menunjukkan perasaan hatinya seperti berikut.
(7) Petani B : Siapa dulu (P) presidennya (O)?
Tabel 4.1.10.1.2
Variabel Intertekstualitas
No. Unsur Pemaparan
1 Manifest Intertectuality:
Representasi wacana SBY : Saya menyampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia. Pada tahun ini, kita kembali mencapai swasembada beras. Ini adalah untuk pertama kalinya, sejak masa orde baru. Produksi beras nasional lebih tinggi daripada konsumsi beras kita.
Pengandaian (4) Ini adalah untuk pertama kalinya, sejak masa orde baru.
(5) Produksi beras nasional lebih tinggi daripada konsumsi beras kita.
Metadiscourse (9) Partai Demokrat terus mendukung kebijakan pemerintahan presiden SBY yang berhasil mewujudkan swasembada beras.
2
Interdiscursivity:
Genre (10) Pilih Partai Demokrat nomor 31!
Tipe aktivitas SBY : Saya menyampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia. Pada tahun ini, kita kembali mencapai swasembada beras. Ini adalah untuk pertama kalinya, sejak masa orde baru. Produksi beras nasional lebih tinggi daripada konsumsi beras kita.
Petani A : Penghasilan kami membaik.
Petani B : Siapa dulu presidennya?
Petani A dan B : SBY
Gaya (8) Petani A dan B : SBY
(9) Partai Demokrat terus mendukung kebijakan pemerintahan Presiden SBY yang berhasil mewujudkan swasembada beras.
Wacana SBY : Saya menyampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia. Pada tahun ini, kita kembali mencapai swasembada beras. Ini adalah untuk pertama kalinya, sejak masa orde baru. Produksi beras nasional lebih tinggi daripada konsumsi beras kita.

PEMBAHASAN TABEL 4.1.10.1.2
1. Manifest Intertectuality:
– Representasi wacana
Iklan tersebut menampilkan paparan prestasi kerja pemerintahan Presiden SBY yang merupakan representasi Partai Demokrat. Pada bagian pembuka, iklan menampilkan cuplikan pidato Presiden. Dalam hal ini, wacana tulisan disampaikan kembali secara lisan. Kemudian ditampilkan pernyataan langsung dari pihak petani sebagai respon dari keberhasilan tersebut.
– Pengandaian
(4) Ini adalah untuk pertama kalinya, sejak masa orde baru.
Pernyataan dari cuplikan pidato tersebut mengandaikan bahwa terdapat teks atau peristiwa lain yang menjelaskan bahwa masa-masa setelah orde baru dan sebelum SBY memerintah, tidak mampu menyamai keberhasilannya.
(5) Produksi beras nasional lebih tinggi daripada konsumsi beras kita.
Pernyataan tersebut mengandaikan dan memberi anggapan di depan bahwa hal tersebut benar untuk mendukung pernyataan keberhasilan swasembada beras.
– Metadiscourse
Partai Demokrat mendefinisikan Presiden SBY sebagai presiden yang berhasil mewujudkan swasembada beras. Peran partai Demokrat hanya sebagai peran pendukung yaang muncul dalam teks.
2. Interdiscursivity:
– Genre
(10) Pilih Partai Demokrat nomor 31!
Iklan kampanye televisi merupakan genre iklan ini. Hal ini ditunjukkan dengan adanya ajakan untuk memilih Partai Demokrat.
– Tipe aktivitas
Iklan ini diawali dengan uraian dan penggambaran prestasi swasembada beras Indonesia oleh pemerintahan Presiden SBY dalam bentuk cuplikan pidato kenegaraan pada 15 Agustus 2008. Kemudian didukung oleh respon dari aktor pendukung yaitu petani. Selain petani, dukungan juga datang dari partai pengiklan yaitu Partai Demokrat. Di bagian akhir Partai Demokrat mengajak pemirsa televisi untuk memilih mereka.
– Gaya
Gaya yang dipilih dalam iklan tersebut, bersifat resmi yang disesuaikan dengan wacana yang dipakai yaitu pidato. Akan teapi pada pernyataan petani dan Partai Demokrat, gaya yang digunakan adalah nonformal yang menunjukkan ragam intim, yaitu dengan penggunaan panggilan sehari-hari untuk menyebut presidennya, yaitu SBY daripada Susilo Bambang Yudoyono.
(8) Petani A dan B : SBY
(9) Partai Demokrat terus mendukung kebijakan pemerintahan Presiden SBY yang berhasil mewujudkan swasembada beras.
– Wacana
Wacana yang dibangun yaitu menggunakan wacana pidato. Walaupun hanya dalam bentuk cuplikan, wacana tersebut memiliki peran untuk menyampaikan pesan kampanye. Jenis wacana yang digunakan yaitu wacana naratif yaang ditandai oleh penggunaan pronomina pertama saya, kita, dan kami.
4.1.10.2 Analisis Praktik Sosiokultural
Tabel 4.1.10.2.1
Variabel Praktik sosiokultural (Makro)
No. Unsur Pemaparan
1 Situasional SBY : Saya menyampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia. Pada tahun ini, kita kembali mencapai swasembada beras. Ini adalah untuk pertama kalinya, sejak masa orde baru. Produksi beras nasional lebih tinggi daripada konsumsi beras kita.
2 Institusional SBY : Saya menyampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia. Pada tahun ini, kita kembali mencapai swasembada beras. Ini adalah untuk pertama kalinya, sejak masa orde baru. Produksi beras nasional lebih tinggi daripada konsumsi beras kita.
Petani A : Penghasilan kami membaik.
Petani B : Siapa dulu presidennya?
Petani A dan B : SBY
3 Sosial SBY : Saya menyampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia. Pada tahun ini, kita kembali mencapai swasembada beras. Ini adalah untuk pertama kalinya, sejak masa orde baru. Produksi beras nasional lebih tinggi daripada konsumsi beras kita.
Petani A : Penghasilan kami membaik.
Petani B : Siapa dulu presidennya?
Petani A dan B : SBY

PEMBAHASAN TABEL 4.1.10.2.1
1. Situasional
Pada kesempatan pidato kenegaraan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Proklamasi ke-63 Kemerdekaan Republik Indonesia yang dilaksanakan setahun sekali merupakan kesempatan penting bagi rakyat Indonesia untuk mengetahui kinerja pemerintahan yang dapat digunakan sebagai bahan evaluasi. Prestasi swasembada beras yang disampaikan pada pidato tersebut dimanfaatkan sebagai bagian pendukung iklan Partai Demokrat.
2. Institusional
Beras adalah bahan pangan pokok rakyat Indonesia. Kampanye partai dengan mengangkat tema swasembada beras digunakan untuk menarik simpati rakyat, yaitu dengan menonjolkan pencapaian atau prestasi swasembada beras. Dikatakan bahwa ini adalah prestasi kedua setelah masa orde baru, digunakan sebagai barometer yang mensejajarkan masa kini dengan kejayaan pada masa orde baru.
Penonjolan kinerja Presiden SBY menjadi hal yang sentral, sementara Partai Demokrat tampil hanya sebagai pendukung. Pemakaian sosok Presiden dengan keberhasilannya, untuk memanfaatkan kecenderungan rakyat yang lebih tertarik pada figur daripada melihat partai.
3. Sosial
Masyarakat dari hari ke hari semakin cerdas memilih apa yang baik menurut mereka masing-masing. Dengan bekal pengalaman di masa lalu yang dengan mudah termakan janji yang hanya sekadar kata-kata tanpa adanya bukti nyata, masyarakat sudah tidak membutuhkan janji-janji semata atau bahkan sudah tidak percaya lagi akan janji yang disodorkan kepada mereka. Mereka membutuhkan adanya bukti nyata atau adanya pengalaman yang mereka miliki sebagai modal menuju perbaikan bangsa. Hal tersebut sebagai pilihan mereka yang berakar dari pengalaman-pengalaman mereka yang memunculkan ketakutan-ketakutan dalam memilih partai pendatang baru yang belum memiliki modal cukup berupa pengalaman.
Kebutuhan pangan adalah hal yang urgen, maka pemenuhannya haruslah tercapai, termasuk beras yang menjadi bahan makanan pokok rakyat Indonesia. Masyarakat Indonesia semakin ketergantungan dengan bahan makanan pokok yang satu ini. Adanya ungkapan ‘belum dikatakan sudah makan, kalau belum makan nasi’ merepresentasikan monokultur bangsa Indonesia.
4.2 Praktik Kewacanaan (Konsumsi)
4.2.1 Persentase Respon Iklan Kampanye Televisi
Dalam menjaring respon pemirsa televisi terhadap iklan kampanye di televisi, penulis mengambil responden dengan perincian berikut.
Usia pemula (17-22) sebanyak 9 responden dan usia bukan pemula (23-lebih) sebanyak 16 responden. Jenis kelamin, laki-laki sebanyak 7 responden dan perempuan sebanyak 18 responden. Pekerjaan, ibu rumah tangga sebanyak 5 responden, CPNS/PNS/guru honorer sebanyak 4 responden, wiraswasta sebanyak 7 responden, mahasiswa sebanyak 3 responden, dan pelajar sebanyak 1 responden.
Pendidikan, tamatan SD sebanyak 2 orang, SMP sebanyak 4 orang, SMA sebanyak 7 orang, dan perguruan tinggi sebanyak 12 orang.
Tabel 4.2.1 Respon Pemirsa Televisi terhadap Pemilihan Tema ‘Perubahan’ oleh Partai Baru Berdasar Pendidikan Terakhir

Dari tabel tersebut, sebanyak 32% tertarik dengan tema perubahan dari partai baru dengan perincian tingkat pendidikan SMA sebanyak 4% dan Perguruan Tinggi sebanyak 28%. Ketertarikan terhadap tema perubahan didominasi oleh Perguruan Tinggi, sedangkan SMA jumlahnya lebih sedikit.
Responden yang menyatakan kurang tertarik sebanyak 64%, dengan persentase SD sebanyak 8%, SMP sebanyak 16%, SMA sebanyak 24%, dan Perguruan Tinggi sebanyak 16%. Persentase kurang tertarik didominasi oleh SMA, disusul oleh SMP, Perguruan Tinggi, dan SD.
Responden yang menyatakan tidak tertarik sebanyak 4% yang berasal dari tingkat pendidikan Perguruan Tinggi. Persentase tidak tertarik yang sedikit menunjukkan tema perubahan tersebut cukup efektif dalam menarik perhatian pemirsa televisi.
Hasil persentase keseluruhan menunjukkan tema tersebut kurang menarik perhatian pemirsa televisi dengan jumlah persentase kurang menarik sebanyak 64% yang didominasi oleh tingkat pendidikan SMA. Pemilihan tema perubahan dari partai baru mampu menarik perhatian pemirsa dari tingkat pendidikan Perguruan Tinggi. Dari perolehan tersebut menunjukkan bahwa tingkat pendidikan Perguruan Tinggi lebih dinamis sebagai representasi ketertarikan pada tema-tema baru atau partai baru, sedangkan tingkat pendidikan SMA, SMP, dan SD menyatakan kurang tertarik pada tema-tema baru atau partai baru.
Dari tabel tersebut, menunjukkan jumlah ketertarikan pada tema perubahan pada dari Partai Gerindra dan PDIP lebih besar. “Sebuah gagasan dari partai yang membawa perubahan, Gerindra” dan “Ayo, kita lakukan perubahan!” disukai oleh responden sebanyak masing-masing 9 responden. Hal tersebut dapat disebabkan oleh keduanya mengusung tema perubahan dengan menampilkan isu ekonomi rakyat kecil yang semakin terpinggirkan bahkan terlupakan. Isu tersebut menjadi perpaduan yang mampu menarik minat pemirsa dengan situasi di Indonesia.
Tabel 4.2.2
Respon Pemirsa Televisi terhadap Penggunaan Ajakan
Berdasar Usia

Dari perolehan pengaruh penggunaan ajakan berdasarkan usia, yang menyatakan dapat mendorong untuk memilih partai yang bersangkutan didominasi oleh usia pemula yang berusia antara 17-22 tahun dengan persentase 20%, sisanya usia bukan pemula dengan kisaran usia 23 dengan persentase 8%. Hal tersebut menunjukkan bahwa usia pemula terdorong oleh ajakan dalam iklan.
Perolehan kurang mendorong didapat dari pemilih bukan pemula sebanyak 48%, sedangkan usia pemula sebanyak 20%. Dominasi pengaruh ajakan dalam iklan yang menunjukkan kurang mendorong berasal dari usia bukan pemula. Dominasi tersebut menunjukkan, usia bukan pemula kurang terdorong oleh penggunaan ajakan dalam iklan tersebut.
Responden sebanyak 4% menyatakan tidak terdorong oleh ajakan dari iklan tersebut dengan didominasi oleh usia bukan pemula. Usia 23 tahun ke atas atau usia bukan pemula menyatakan tidak terdorong oleh penggunaan ajakan tersebut.
Sebanyak 19 dari 25 responden menyatakan terdorong oleh ajakan dari Partai Demokrat, “Mari kita dukung terus!”. Penggunaan interjeksi ajakan mari merupakan bentuk ajakan yang halus dengan secara tidak langsung menunjukkan harapan dari Partai Demokrat. Selain itu, penggunaan pronomina inklusif kita menunjukkan ajakan yang ditujukan untuk partai pengiklan dengan pemirsanya. Interjeksi ajakan mari dan pronomina inklusif kita digunakan sebagai upaya mendorong ketertarikan khalayak untuk memilih partai yang bersangkutan.

Tabel 4.2.3
Respon Pemirsa Televisi terhadap Keterpahaman Isi/ Maksud Iklan
Berdasar Pendidikan Terakhir

Dari tabel di atas menunjukkan tingkat keterpahaman terhadap isi atau maksud iklan cukup tinggi, dengan perolehan persentase sebanyak 76% yang menyatakan mengerti/ paham dan sebanyak 24% kurang mengerti/ paham.
Tingkat pendidikan Perguruan Tinggi menyatakan mengerti sebanyak 32%, SMA sebanyak 20%, SMP sebanyak 16%, dan sebanyak SD 8%. Hal tersebut menunjukkan tingkat Perguruan Tinggi lebih banyak yang memahami isi atau maksud iklan dibandingkan dengan tingkat pendidikan SMA, SMP, dan SD.
Responden menyatakan kurang mengerti sebanyak 24%, dari SMA sebanyak 8% dan Perguruan Tinggi sebanyak 16%. Responden yang menyatakan kurang mengerti lebih banyak berasal dari Perguruan Tinggi dibandingkan dengan SMA.
Dari tabel juga menunjukkan responden lebih mengerti/ memahami isi iklan dari Partai PAN “Masa depan ada di tangan kita, bukan di tangan orang lain” sebanyak 10 responden, lainnya dari Partai Gerindra “Itulah stimulus bagi rakyat” sebanyak 7 responden. Dari Partai PPP “Tanpa persatuan tidak ada pembangunan” sebanyak 5 responden dan Partai PKPI “Hanya dengan kejujuran kita bisa mengatasi masalah bangsa ini” sebanyak 3 responden.

BAB 5
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1 Kesimpulan
Dari analisis yang dilakukan didapatkan fakta bahwa secara tekstual teks iklan mendeskripsikan partai yang bersangkutan berkontribusi dalam membentuk dan membentuk kembali pencitraan atas dirinya dengan membangun identitas dirinya apakah sebagai agen perubah atau pembangun. Di samping itu, pemirsa diletakkan pada posisi rakyat yang membutuhkan perubahan tersebut. Penggunaan relasi dikonstruksi untuk mengantarkan komunikasi 2 arah antara partai pengiklan dengan pemirsanya, yaitu ditandai dengan pronomina yang dipilih dalam teks, seperti saya, kita, dan Anda. Secara intertekstual, iklan kampanye menggunakan unsur-unsur teks atau peristiwa lain untuk membentuk perspektif baru bagi pemirsa.
Aspek praktik kewacanaan, dalam hal ini konsumsi atau respon pemirsa televisi terhadap iklan kampanye partai politik ini, yaitu memberikan gambaran mengenai interpretasi atau penilaian mereka. Iklan kampanye televisi menjadi media untuk membangun citra partai. Dari penelitian ini, ditemukan bahwa iklan kampanye partai politik kurang memberikan pengaruh di tengah-tengah perspektif masyarakat yang menilai iklan kampanye hanya berisi janji-janji semata. Itu pulalah yang tampak dari aspek sosiokultural teks iklan.
Aspek sosiokultural, sangat berperan besar dalam hasil akhir teks yang berupa wacana iklan kampanye ini. Pemilihan tema yang sesuai dengan kondisi bangsa. Partai incumbent, yaitu Partai Demokrat, Partai Golkar, juga PKS mengusung keberhasilan dari kinerjanya selama 5 tahun terakhir. Hal ini berbeda dengan tema yang diusung partai pendatang atau baru, yang mengandalkan kelebihan partainya berupa misi yang ditampilkan dalam iklan. Tema umum dari partai-partai tersebut adalah perubahan. Selain aspek situasional dan institusional tersebut, aspek sosial yang menyangkut sosial kemasyarakatan dan juga budaya merupakan aspek pendukung praktik sosiokultural yang berkontribusi dalam memberikan pengaruh pada bentuk teks akhir berupa tayangan iklan di televisi.

5.2 Rekomendasi
Penelitian ini masih banyak kekurangan, berikut rekomendasi untuk perbaikan pelaksanaan penelitian selanjutnya.
1. Dalam pemerolehan data primer (teks iklan), sebagai tuntutan penelitian terhadap iklan televisi yang memiliki sifat audiovisual, sebaiknya berasal dalam bentuk video, sehingga secara visual yakni tulisan dapat terekam untuk selanjutnya dicatat sebagai bagian dari data primer selain bahasa lisan.
2. Analisis praktik kewacanaan dalam penelitian ini hanya mengkaji unsur konsumsi (interpretasi/ respon pemirsa), sebaliknya unsur produksi (proses pembuatan teks) tidak tersentuh.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia: Edisi Ketiga. Jakarta: Pusat Bahasa dan Balai Bahasa.
Ardianto, Elvinaro dan Lukiati Komala Erdinaya. 2004. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Arifin, Zainal dan Tasai, S. Amran. 2004. Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Penerbit Akademika Pressindo.
BudDhadesign. 2005. Indonesia Terperangkap Kebijakan Pangan Monokultur. [Online] http://forum.kafegaul.com (diakses Juni 2009)
Budiardjo, Miriam. 2000. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Damaianti, Vismaia S. dan Sitaresmi, Nunung. 2006. Sintaksis Bahasa Indonesia. Bandung: Pusat Studi Literasi.
Eddy Yehuda.. 2003. Jurnal Komunikasi dan Informasi: Periklanan, Suatu Prospek. Sumedang: Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.
Eriyanto. 2008. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara.
Hamad, Ibnu. 2008. Perkembangan Analisis Wacana Dalam Ilmu Komunikasi, Sebuah Telaah Ringkas [Online] http://www.ccmadmin.um.edu (diakses Januari 2009)
Jorgensen, Marianne W. dan Louise J. Phillips. 2007. Analisis Wacana: Teori dan Metode. Penerjemah: Imam Suyitno, Lilik Suyitno, dan Suwarna. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mulyana, Deddy. 2002. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Peni. 2007. Kegiatan Belajar 3: Iklan Televisi [Online] http://www.dictum4magz.wordpress.com (diakses Februari 2009)
Purba, Amir. 2008. Menyelami Analisis Wacana Melalui Paradigma Kritis. [Online] http://www.dictum4magz.wordpress.com (diakses Januari 2009)
Rakhmat, Jalaluddin. 1997. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Ranjabar, Jacobus. 2008. Perubahan Sosial dalam Teori Makro: Pendekatan Realitas Sosial. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Subiakto, Henry. 2008. Dilema Iklan Kampanye di Media Penyiaran. [Online] http://kompas-cetak (diakses Januari 2009)
http://id.wikipedia.org
http://www.tempointeraktif.com

KONSTRUKSI SOSIAL DAN PERUBAHANNYA DALAM KEBUDAYAAN: dari Si Doel Hingga Terorisme

Oleh, Aceng Ruhendi Saifullah/S3/ Program Linguistik

Melalui tulisan berjudul “Introduction: Inventing Traditions”, Eric Hobsbawm (1997) membahas tradisi yang tidak semata-mata merupakan peninggalan masa lalu, tetapi ada tradisi yang diciptakan kembali untuk alasan tertentu, antara lain untuk kepentingan penguasa. Sumber penciptaan tersebut berasal dari masa lalu, dapat berupa ritual di masa yang lampau, dari cerita fiksi, simbolisme dari agama. Tradisi yang diciptakan kembali diformalkan dan diinstitusikan oleh penguasa, dilakukan dengan pola yang berulang-ulang untuk mengukuhkan bahwa tradisi tersebut berasal dari masa lalu, padahal sebenarnya baru diciptakan.
Hobsbawm menulis dalam kaitan krisis identitas yang melanda Inggris pada abad ke-19. Hobsbawn menunjukkan sejumlah contoh tradisi yang sebenarnya diciptakan kembali untuk menunjukkan bahwa negara Inggris mempunyai kebudayaan yang tinggi. Dicontohkan adanya tradisi yang mengharuskan pasukan penjaga Istana Buckingham, Inggris, memakai topi hitam besar dan rok tartan. Jika dikaitkan dengan paham konstruktivisme, terlihat di sini bagaimana konstruksi sosial dibuat untuk kepentingan lapisan masyarakat tertentu.
Melani Budianta dalam tulisannya berjudul “Representasi Kaum Pinggiran dan Kapitalisme” (2008), memperlihatkan bagaimana konstruksi sosial budaya Betawi dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Menggunakan lima teks, yaitu Tjerita Boedjang Bingoeng novel karya Aman Datuk Madjoindo (1936); Si Doel Anak Betawi novel karya Aman Datuk Madjoindo (1940-an); “Si Doel Anak Betawi” film karya Sjuman Djaja (1972); “Si Doel Anak Modern” film karya Sjuman Djaja (1976); dan “Si Doel Anak Sekolahan” serial televisi Rano Karno (1990-an), ia menggambarkan perkembangan konstruksi budaya Betawi yang berhadapan dengan budaya uang dan pasar.
Sesuai kronologi tahun pembuatan, Tjerita Boedjang Bingoeng dinilai merefleksikan sikap masyarakat yang mendua dan bingung terhadap sistem ekonomi modern dengan permasalahanya. Si Doel Anak Betawi novel karya Aman Datuk Madjoindo menggambarkan lokasi budaya yang belum siap menerima modernitas sehingga protagonisnya (Si Doel) masih perlu berjuang melawan semua hambatan dan tradisi. Film “Si Doel Anak Betawi Asli” menggambarkan proses pengentalan “keaslian” Si Doel sebagai anak Betawi, membuang unsur-unsur non-Betawi dari keluarga Si Doel, sekaligus memperkuat stereotip tentang orang Betawi. Film “Si Doel Anak Modern” menggambarkan kota Jakarta modern yang sedang “berkasih mesra” dengan kekayaan, modern, dan glamor sehingga kebudayaan Betawi bukan merupakan tempat yang diidamkan. Serial televisi “Si Doel Anak Sekolahan” menggambarkan harmoni antaretnik yang dikhayalkan pada akhir era Orde Baru.

Setiap komponen dari konstruksi sosial dan perubahannya dapat dijadikan satu kajian kebudayaan. Konstruksi sosial pada dasarnya berkenaan dengan komponen pertama, yaitu perangkat nilai dan konsep pengarah, yang dapat juga dikatakan sebagai komponen inti dalam kebudayaan. Sumber data mengenai ini dapat berupa teks-teks yang pernah ditulis oleh para pelaku seni yang bersangkutan; dapat pula dihimpun dan direkonstruksi atas dasar sejumlah wawancara dengan tokoh-tokoh pelaku seni dalam masyarakat yang dijadikan sasaran kajian. Dalam hal itu perlu disimak pula adanya perkembangan kaidah, atau lebih tepat perumusan kaidah dari waktu ke waktu.
Film sebagai bagian dari seni setidaknya menawarkan berbagai keinginan, mulai dari mengkreasikan ide, imajinasi, mengekspresikan emosi dan fantasi, mensimulasikan intelektualitas seniman, merekam, dan memperingati pengalaman-pengalaman, merefleksikan konteks-konteks sosial budaya, kritik terhadap sesuatu, mengangkat sesuatu yang biasa menjadi hal yang menarik, dan beberapa lainnya. Karya seni setidaknya juga menciptakan konstruksi tindak tanduk manusia untuk saling berinteraksi terhadap segala hal yang terkait dengannya.
Sebuah karya seni, film, maupun teknologi dalam penciptaannya dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kondisi sosial, perkembangan sosial, minat, konstruksi sosial yang berkembang di masyarakat pada saat karya tersebut dimunculkan. Karya yang memiliki kesamaan alur cerita seperti Si Doel masa lalu dan versi Si Doel terbaru memiliki konstruksi alur benang merah, meskipun dibumbui oleh imajinasi yang variatif dari pengarang yang berbeda.

Terorisme: Tradisi Kekerasan Atas Nama Agama?

Agama sering dikaitkan dengan fenomena kekerasan terorisme. Ini jelas kontras dengan nilai-nilai agama yang mengajarkan perdamaian dan menentang kekerasan. Meskipun faktanya, ada sekelompok orang yang jelas-jelas mengatasnamakan tindakan kekerasannya dengan mengatasnamakan agama. Orang juga menyaksikan bahwa agama sering digunakan sebagai landasan ideologis dan pembenaran simbolis bagi kekerasan. Oleh karena itu sulit menjawab pertanyaan, bagaimana agama bisa menjadi dasar suatu etika untuk mengatasi kekerasan. Padahal, agama baru menjadi konkret sejauh dihayati oleh pemeluknya. Apalagi bila diyakini, bukan agamanya yang “bermasalah”, tetapi manusia pelaku teror itu yang “bermasalah” karena menyalahgunakan pemahaman agamanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok sehingga menyulut kekerasan.
Tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama cenderung dilakukan oleh individu (dalam bahasa Giddens: agen) yang memiliki pemahaman agama yang dangkal. Beberapa figur yang melakukan kegiatan teror, diketahui sebagai orang yang memiliki latar belakang pendidikan sekular, seperti Osama bin Laden, Aiman Al-Zawahry, Azhari, Noordin M. Top. Dorongan internal yang merasa nilai-nilai di masyarakat sudah tidak sesuai dengan nuraninya dan dorongan eksternal yang melihat ketidakadilan dari para pemegang kekuasaan di “dunia”, memicunya memiliki semangat keberagamaan yang berlebihan. Di sinilah individu itu mencari tokoh panutan yang bisa memenuhi rasa dahaga semangat keberagamaannya yang meletup-letup. Ciri-ciri tokoh seperti itu biasanya terdapat pada figur panutan yang berpandangan keras dan berhaluan radikal. Lalu, terjadilah proses pendangkalan paham keagamaan karena biasanya tokoh seperti itu tidak memberikan alternatif pemahaman, tetapi hanya memberikan sudut pandang berdasarkan pada versi pemahaman yang diyakininya. Pada titik inilah, klaim kebenaran tunggal biasanya terjadi.
Klaim kebenaran tunggal itu lalu membuatnya mengidentifikasi tentang siapa “kami” (inner group) dan siapa “mereka” (outer group). Setelah identifikasi terselesaikan, barulah pelaku teror itu menentukan target dan terjadilah tindakan teror. Proses terjadinya tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama tersebut tergambar dalam bagan berikut:

Referensi
Budianta, Melani, “Representasi Kaum Pinggiran dan Kapitalisme” dalam Sastra Indonesia Modern Kritik Postkolonial. Rev. ed. Clearing Space, Keith Foulcher dan Tony Day (ed). Jakarta: KILTV dan Yayasan Obor Indonesia, 2008
Cassel, Phillip ed. 1993. “Problems of Action and Structure” dalam The Giddens Reader. Stanford, California: Stanford University Press, hlm. 88—174.
Guba, Egon S. and Yvonna S. Lincoln, “Competing Paradigms in Qualitative Research” dalam Handbook of Qualitative Research ed. by Norman K. Denzin & Yvonna S. Lincoln (London, New Delhi: Sage Publications, 1994)
Hobsbawm, Eric, “Introduction: Inventing Traditions” dalam The Invention of Traditions ed. by Eric Hobsbawn and Terence Ranger. Cambridge: Cambridge University Press, 1997
Maarif, Ahmad Syafii. “Kekerasan Atas Nama Agama”. Diunduh dari http://klipingpilihanku.blogspot.com, 17 Nopember 2009.
Wibowo, I. “Strukturasi Giddens”. Bahan Kuliah “Teori dan Metodologi Ilmu Pengetahuan Budaya”. Depok, FIB UI, 4 November 2009.
“Agama dan Riak-riak Kekerasan”. Diunduh dari http://elpobresiado.blogsome.com, 17 Nopember 2009.

Berkenalan dengan Habermas

BERKENALAN DENGAN HABERMAS

Oleh, Aceng Ruhendi Saifullah
NPM: 0906506776/S3/Program Linguistik
Jürgen Habermas saat ini dikenal sebagai salah satu filsuf paling berpengaruh di dunia. Dalam rangka menjembatani tradisi pemikiran antara continental-eropa dan Anglo-Amerika, ia telah terlibat dalam perdebatan dengan para pemikir berbeda seperti Gadamer dan Putnam, Foucault dan Rawls, Derrida, dan Brandom. Secara ekstensif ia menulis topik yang membentang dari teori sosial-politik, estetika, epistemology, bahasa, filsafat , agama, dan ide-idenya telah berpengaruh terhadap pemikiran hukum-politik, sosiologi, studi komunikasi, teori argumentasi, retorika, psikologi perkembangan, dan teologi. Selain itu, ia sangat menonjol di Jerman sebagai intelektual publik, yang kerap mengomentari isu-isu kontroversial terutama di koran harian Jerman Die Zeit. Namun, jika kita melihat jauh ke belakang atas korpus pekerjaannya, kita dapat melihat dua bidang luas yang menjadi pusat minatnya: satu yang berkaitan dengan ranah politik, yang lainnya yang berkaitan dengan rasionalitas, komunikasi, dan pengetahuan.
Lahir di pinggiran kotar Düsseldorf pada tahun 1929, Habermas beranjak dewasa di Jerman pasca perang. Peradilan Nuremberg yang mencerminkan kegagalan politik dan kebangkrutan moral Jerman di bawah rezim sosialisme nasional ketika itu telah mengguratkan bekas yang mendalam pada diri Habermas. Pengalaman buruk itu kemudian diperkuat ketika sebagai seorang mahasiswa pascasarjana yang tertarik pada eksistensialisme Heidegger, ia membaca Introduction to Metaphysics, di mana Heidideger memperkenalkan sebuah referensi tentang “kebenaran batin dan kebebsaran sosialisme nasional. Ketika Habermas (1953) didesak publik untuk menjelaskan tentang pernyataanHeidegger itu, ia memilih bersikap diam. Belakangan Habermas memberikan konfirmasi bahwa tradisi filsafat Jerman telah gagal saat mengkalkulasi penyediaan sumber daya intelektual dengan tidak mengerti atau mengkritik Sosialisme Nasional. Ini pengalaman negative bagi Habermas tentang hubungan antara filsafat dan politik, kemudian ia termotivasi untuk berusaha mencari sumber daya konseptual dari pemikiran Anglo-Amerika, terutama yang pragmatis dan tradisi demokratis. Ketika bergerak di luar tradisi Jerman, Habermas bergabung dengan sejumlah intelektual muda pascaperang seperti Karl-Otto Apel.
Habermas menyelesaikan disertasi tahun 1954 di Universitas Bonn, menulis tentang konflik antara kemutlakkan dan sejarah dalam pemikiran Schelling. Dia pertama kali mendapat perhatian publik yang serius, setidaknya di Jerman, dengan penerbitan 1962 habilitasinya, Strukturwandel der Öffentlichkeit (Structural Transformation Public Sphere; inggris ed., 1989), sebuah sejarah sosial rinci tentang perkembangan ruang publik borjuis dari asal-usulnya pada abad ke-18 hingga ke era transformasi melalui pengaruh modal yang digerakkan oleh media massa. Dalam deskripsinya dengan jelas ia melihat kepentingan dalam komunikatif ideal yang kemudian akan memberikan standar normatif inti moralnya untuk teori politik: gagasan inklusif diskusi kritis, bebas dari tekanan sosial dan ekonomi, di mana lawan bicara memperlakukan satu sama lain secara setara dalam usaha koperasi untuk mencapai pemahaman mengenai masalah-masalah yang menjadi perhatian bersama. Seperti yang ideal di pusat budaya borjuis, pertukaran semacam ini mungkin tidak sepenuhnya disadari; tetap saja, itu “tidak sekadar ideologi” (1989, 160, juga 36). Sebagai masyarakat diskusi kecil di tengah masyarakat, ide ini tumbuh dan menjadi memasyarakat di abad ke-19, karena bagaimanapun, ide-ide menjadi komoditas, berasimilasi ke ekonomi konsumsi media massa. Daripada dipandang sebagai orang yang menyerah pada alas an gagasan publik, Habermas layak disebut sebagai “ socioinstitutionally” dengan “ konsep-pembentukan opini publik” yang secara historis berarti, bahwa secara normatif memenuhi persyaratan negara kesejahteraan sosial, dan bahwa secara teori jelas dan diidentifikasi secara empiris. “Seperti sebuah konsep” dapat didasarkan hanya dalam transformasi struktural ranah publik itu sendiri dan dalam dimensi . Menyimpulkan sketsanya yang mengandung secara garis besar dua model bertingkat tentang demokrasi musyawarah, ia kemudian menguraikan secara matang bagaimana gagasannya itu bekerja pada tataran hukum dan demokrasi.
Habermas’s interest in the political subsequently led him to a series of philosophical studies and critical-social analyses that eventually appeared in English in his Toward a Rational Society (1970) and Theory and Practice (1973b). Minat Habermas kemudian politik membawanya ke serangkaian studi filosofis dan analisis sosial kritis yang akhirnya muncul dalam bahasa Inggris dalam Toward a Rational Society (1970) dan Teori dan Praktek (1973b). Whereas the latter consists primarily of reflections on the history of philosophy, the former represents an attempt to apply his emerging theory of rationality to the critical analysis of contemporary society, in particular the student protest movement and its institutional target, the authoritarian and technocratic structures that held sway in higher education and politics. Sedangkan yang terakhir terutama terdiri dari refleksi tentang sejarah filsafat, mantan mewakili sebuah usaha untuk menerapkan teori yang muncul rasionalitas untuk analisis kritis masyarakat kontemporer, khususnya gerakan protes mahasiswa dan sasaran kelembagaan, dan teknokratis otoriter struktur yang memegang kekuasaan di bidang pendidikan tinggi dan politik.
Refleksi kritis Habermas mengambil pendekatan yang bernuansa kedua sisi dari kerusuhan sosial yang menjadi ciri akhir tahun enam puluhan. Meskipun bersimpati dengan siswa permintaan partisipasi yang lebih demokratis dan penuh harapan bahwa aktivisme mereka memendam potensi untuk transformasi sosial yang positif, dia juga tidak ragu-ragu untuk mengkritik aspek yang militan, yang ia sebut bersifat menipu diri dan “jahat”.. Dalam kritiknya terhadap teknokrasi yang dikelola oleh para pakar ilmiah dan birokrasi-ia mengandalkan kerangka filosofis yang mengantisipasi kategori berpikir, minus filsafat bahasa yang populer di tahun 1970-an. Khususnya, Habermas secara tajam membedakan antara dua modus tindakan, “bekerja” dan “interaksi”, yang sesuai dengan kepentingan abadi umat manusia. Yang pertama, “bekerja”, termasuk cara bertindak berdasarkan pilihan rasional yang efisien, yang berarti juga bentuk-bentuk tindakan instrumental dan strategis, sedangkan yang kedua , “interaksi”, merujuk kepada bentuk-bentuk “tindakan komunikatif” di mana aktor mengkoordinasikan perilaku mereka atas dasar “norma konsensual”. Konsep Habermas tentang perbedaan tersebut dipengaruhi oleh pendekatan klasik Aristotalian yang mengkontraskan antara teknik dan praksis dalamk teori kritik sosial. Hasilnya adalah kritik Habermasian khas ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai ideologi: dengan mengurangi pertanyaan-pertanyaan praktis tentang kehidupan yang baik untuk masalah teknis untuk para pakar, elit kontemporer yang menghilangkan kebutuhan untuk umum, diskusi tentang nilai-nilai demokratis, sehingga terjadi depolitisasi penduduk. Yang sah adalah kepentingan manusia dalam kontrol teknis sehingga secara alamiah berfungsi sebagai latar ideologi yang menutupi nilai-karakter yang sepenuhnya merupakan keputusan pemerintah dalam pelayanan status quo kapitalis. Tidak seperti Herbert Marcuse, yang menganggap bahwa kepentingan sebagai jatah khusus untuk masyarakat kapitalis, Habermas menegaskan kontrol teknis alam sebagai sungguh-sungguh universal spesies kepentingan; tidak seperti Horkheimer dan Adorno dalam Dialectic of Enlightenment, teknis kepentingan tidak memerlukan dominasi sosial.
Habermas membela filsafat antropologi f ini paling lengkap dalam Knowledge and Human Interests (1971b; Jerman ed., 1968b), suatu karya yang merupakan usaha pertama untuk memberikan kerangka sistematis untuk teori sosial kritis. Di dalamnya, Habermas mengembangkan teori “pengetahuan-konstitutif kepentingan” yang terikat baik untuk “sejarah alam spesies manusia” dan “keharusan dari bentuk sosial-budaya kehidupan” . Ada tiga pengetahuan-konstitutif kepentingan, masing-masing terikat pada konsepsi tertentu sains dan ilmu sosial. Yang pertama adalah “kepentingan teknis,” yang “mendalam antropologis kepentingan” yang kita miliki dalam prediksi dan pengendalian lingkungan alam. Positivisme melihat pengetahuan dalam syarat-syarat ini, dan rekening naturalistik kemungkinan manusia sering menganggap sejarah manusia hanya dari sudut pandang ini. Kedua, ada yang sama-sama mendalam “kepentingan praktis” dalam mengamankan dan memperluas kemungkinan saling pemahaman diri dalam menjalankan kehidupan. Akhirnya, ada “kepentingan emansipatoris” dalam mengatasi dogmatisme, paksaan, dan dominasi.
Jika setiap kepentingan yang membentuk suatu bentuk pengetahuan, maka kita boleh berharap untuk menemukan yang sesuai untuk masing-masing bentuk realisasi institusi budaya, yaitu cara-cara terorganisir penyelidikan dan pengetahuan-produksi. Hal ini tampaknya masuk akal untuk kepentingan mengendalikan alam dan pemahaman sosial: empiris-analitis ilmu-ilmu instrumental berorientasi pada tindakan dan pengendalian teknis di bawah syarat-syarat tertentu, dan budaya-ilmu hermeneutik mengandaikan dan mengartikulasikan cara tindakan-berorientasi (antar) pemahaman pribadi yang beroperasi dalam bentuk-bentuk sosial-budaya kehidupan dan tata bahasa biasa. In retrospect, Dalam retrospeksi, analisis Habermas dalam kedua kepentingan tersebutdibatasi oleh kekhawatiran hari ini. Perbedaan itu antara ilmu-ilmu yang mengambil alam sebagai objek, dan cara penafsiran penyelidikan yang bergantung pada akses komunikatif domain kehidupan manusia, masih memiliki beberapa hal masuk akal. Tapi pandangannya tentang ilmu alam masih belum sepenuhnya menyerap pelajaran dari ilmu positivis pasca-studi. Juga tidak jelas bahwa prediksi dan kontrol knalpot kepentingan yang mendorong ilmu-ilmu alam (misalnya, minat terhadap geologi masa lalu tampaknya melibatkan lebih dari kontrol teknis).
Status kepentingan emansipatoris, memang, bermasalah sejak awal. Habermas diidentifikasi secara luas sebagai alasan kepentingan seperti itu, yang mendasari pengetahuan reflektif kritis. Namun, Habermas segera menyadari bahwa ia telah menggabungkan dua bentuk refleksi kritis: kritik yang bertujuan untuk membuka kedok penipuan diri dan ideologi dan artikulasi reflektif struktur formal pengetahuan. Selain itu, minat emansipasi tidak jelas berhubungan dengan ilmu tertentu atau bentuk dilembagakan penyelidikan. Walaupun psikologi Freudian dan teori sosial Marxis memiliki minat, banyak jika tidak kebanyakan penyelidikan psikologis dan sosiologis secara eksplisit tidak memiliki tujuan emansipatoris, melainkan didorong oleh kepentingan-kepentingan dalam prediksi dan pemahaman sosial. Juga tidak jelas, apakah psikoanalisis memberikan model refleksi pembebasan yang tepat dalam hal apapun, sebagai kritikus menunjukkan bagaimana asimetri antara pasien dan analis tidak bisa mewakili bentuk intersubjektif yang tepat untuk emansipasi. Defisit ini menimbulkan tantangan bagi Habermas yang memandu selama puluhan tahun dalam mencari dasar empiris normatif dan kritik. Apa pun yang terbaik atas dua bagian itu, yakni dasar epistemik dan normatif untuk kritik mungkin, itu harus melewati ujian yang demokratis: yang “dalam Pencerahan hanya ada peserta”. Habermas tidak akan memecahkan masalah metodologis ini sampai serangkaian studi transisi pada 1970-an berpuncak dalam pekerjaan sistematis yang matang, The Theory of Communicative Action (1984a/1987).
Jurgen Habermas adalah filsuf kontemporer yang paling terkenal di Jerman dan juga menghiasi panggung filsafat internasional. Ia dilahirkan pada 18 Juni 1929 di pinggiran kota Dusseldorf Jerman. Habermas merupakan anak Ketua Kamar Dagang propinsi Rheinland – Westfalen di Jerman Barat. Ia dibesarkan di Gummersbach, sebuah kota menengah di Jerman dengan dinamika lingkungan Borjuis-Protestan.
Pada tahun 1953, ketika Habermas sedang sibuk menulis disertasi doktor, ia menerbitkan artikel yang berjudul “Berpikir Bersama Heidegger Melawan Heidegger”. Di lingkungan filsafat akademik Jerman pasca kehancuran akibat Perang Dunia II, Heidegger bagaikan tiang penunjang yang diandalkan, jembatan antara dunia yang berantakan sehabis Hitler dan tradisi luhur filsafat Jerman. Dengan sangat kritis, Habermas berujar “Ingatlah, bagaimana dulu Heidegger memuji Nazi” Bahkan filsafat Heideggerpun dicela Habermas, “bisa dipakai untuk apa-apa saja”.
Habermas berhasil menyelesaikan disertasinya pada 1954 di Universitas Bonn Jerman, dengan menulis “Das Absolute und die Geschichte. Von der Zwiespältigkeit in Schellings Denken (The absolute and history: on the contradiction in Schelling’s thought)”.
Habermas bertolak dari Teori Kritis Masyarakat Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno. Ia hendak mengembangkan gagasan teori masyarakat yang dicetuskan dengan maksud yang praksis. Habermas melihat apa yang disampaikan oleh kedua punggawa mazhab Teori Kritis awal itu tidaklah mencukupi untuk menganalisa keadaan masyarakat.
The Theory of Communicative Action yang terdiri dari dua jilid merupakan upaya Habermas dalam mengembangkan rumusan perubahan sosial. Buku monumental ini merupakan rangkuman hasil penelitian Habermas selama 20 tahun. Karya ini menyiratkan cara Habermas membuat perhitungan dengan dua cara berpikir yang paling menantang dan mengembangkannya: Teori Modernisasi Max Weber dan Analisa Modernitas Horkheimer – Adorno.
Jilid 2 The Theory of Commucative Action terdiri dari 4 Bab (Bab V sampai Bab VIII). Bab V mengangkat tema: Pergeseran Paradigma dalam Pemikiran Mead dan Durkheim: daari Tindakan bertujuan Menuju Tindakan Komunikastif. Bab VI membahas, “Kesimpulan Sementara: Sistem dan Dunia Kehidupan”. Bab VII mengangkat judul “Talcott Parsons: Kendala-Kendala dalam Membentuk Teori Masyarakat. Bab VIII adalah “Kesimpulan Akhir: Dari Parsons, Weber, sampai Marx”.
Bagi Habermas, ketika seseorang berhubungan dengan dunia kehidupan, maka dia mengalami salah satu dari 3 relasi pragmatis. Pertama, dengan sesuatu di dunia objektif (sebagai totalitas entitas yang memungkinkan adanya pernyataan yang benar. Kedua, dengan sesuatu di dunia sosial (sebagai totalitas hubungan antar pribadi yang diatur secara legitim/sah). Ketiga, dengan sesuatu di dunia subjektif (sebagai totalitas pengalaman yang akses ke dalamnya hanya dimiliki si pembicara dan yang dapat dia ungkapkan di hadapan orang banyak).
Ucapan komunikatif selalu melekat pada berbagai hubungan dengan dunia. Tindakan komunikatif bersandar pada proses kooperatif interpretasi tempat partisipan berhubungan bersamaan dengan sesuatu di dunia objektif, sosial, dan subjektif. Pembicara dan pendengar menggunakan sistem acuan ketiga dunia tersebut sebagai kerangka kerja interpretatif tempat mereka memahami definisi situasi bersama. Mereka tidak secara langsung mengaitkan diri dengan sesuatu di dunia namun merelatifkan ucapan mereka berdasarkan kesempatan aktor lain untuk menguji validitas ucapan tersebut. Kesepahaman terjadi ketika ada pengakuan intersubjektif atas klaim validitas yang dikemukan pembicara. Konsensus tidak akan tercipta manakal pendengar menerima kebenaran pernyataan namun pada saat yang sama juga meragukan kejujuran pembicara atau kesesuaian ucapannya dengan norma.
Proses yang terjadi dalam ucapan komunikasi adalah konfirmasi (pembuktian), pengubahan, penundaan sebagian, atau dipertanyakan secara keseluruhan. Proses defenisi dan redefinisi ini yang terus berlangsung ini meliputi korelasi isi dengan dunia (ditafsirkan secara konsensual dari dunia objektif, sebagai elemen privat dunia subjektif yang hanya bisa diakses oleh orang yang bersangkutan. Jadi komunikasi terbentuk dalam situasi intersubjektif, dimana “situasi” tidak didefinisikan secara kaku, tapi diselami konteks-konteks relevansinya,
Tindakan komunikatif memiliki 2 aspek, aspek teleologis yang terdapat pada perealisasian tujuan seseorang (atau dalam proses penerapan rencana tindakannya) dan aspek komunikatif yang terdapat dalam interpretasi atas situasidan tercapainya kesepakatan. Dalam tindakan komunikatif, partisipan menjalankan rencananya secara kooperatif berdasarkan definisi situasi bersama. Jika definisi situasi bersama tersebut harus dinegosiasikan terlebih dahulu atau jika upaya untuk sampai pada kesepakatan dalam kerangka kerja definisi situasi bersama gagal, maka pencapaian konsensus dapat menjadi tujuan tersendiri., karena konsensus adalah syarat bagi tercapainya tujuan. Namun keberhasilan yang dicapai oleh tindakan teleologis dan konsensus yang lahir dari tercapainya pemahaman merupakan kriteria bagi apakah situasi tersebut telah dijalani dan ditanggulangi dengan baik atau belum. Oleh karen itu, syarat utama agar tindakan komunikatif bisa terbentuk adalah partisipan menjalankan rencana mereka secara kooperatif dalam situasi tindakan yang didefiniskan bersama. Sehingga mereka bisa menghindarkan diri dari dua resiko, resiko tidak tercapainya pemahaman (ketidaksepakatan atau ketidaksetujuan) dan resiko pelaksanaan rencana tindakan secara salah (resiko kegagalan).
Sebagaimana telah kita singgung sedikit di awal bahwa The Theory of Communicative Action merupakan landasan bagi Teori Kritis Masyarakat Habermas, maka dia mengakhiri bahasan buku ini dengan memperkenalkan konsep sistem masyarakat dengan cara mengobjektivikasikan dunia-kehidupan secara metodologis dan menjustifikasi pergeseran perspektif (dari perspektif partispan ke arah perspektif peneliti) berdasarkan pemahaman teori tindakan.
Pandangan baru ini hendak menjelaskan makna reproduksi simbolis dunia-kehidupan ketika tindakan komunikatif digantikan oleh interaksi yang dikendalikan media, ketika bahasa (dalam fungsi koordinasinya) digantikan oleh media-media sepertia uang dan kekuasaan. Konversi ini menimbulkan proses deformasi infrastruktur komunikatif dunia-kehidupan yang mengakibatkan patologis dalam masyarakat. Salah satunya adalah dominasi para kapitalis.
Agar tidak terjadi pengambilalihan tindakan komunikatif yang sehat akibat berkuasanya kelompok-kelompok tertentu, teori tindakan komunikatif Habermas, membawa angin segar perubahan. Dunia-kehidupan bisa berjalan harmoni, ketika tidak ada pemaksaan sesuka hati dari beberapa atau kelompok orang. Pemahaman awal pengetahuan manusia mula-mula memang diterima sebagai dunianya sendiri. Tapi ketika kita berhadapan dengan dunia sosial, dimana manusia hidup, bertindak, dan berbicara satu sama lain serta berhadapan satu dengan yang lawan dengan pengetahuan eksplisit sesuatu membawanya praktik komunikatif. Sering kali hanya sebagian kecil dari pengetahuan valid. Ketika memasuki ruang sosial makan timbul persoalan-persoalan. Oleh karena itu, dibutuhkan komunikasi intersubjektif yang membawa setiap orang menjadi otonom dengan ikatan fungsional kebaikan bersama.
Referensi:
• Habermas, Jurgen, 1988, On The Logic of the Social Sciences. Massachusetts Institut of Tchnology: Polity Press
• Habermas, Jurgen. Maret 2007. Teori Tindakan Komunikatif II: Kritik atas Rasio Fungsionaris. Terjemahan oleh Nurhadi. Kreasi Wacana Yogyakarta.
• Redaksi. November-Desember 2004. Majalah Basis Edisi 75 Tahun Jurgen Habermas. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.
• Yusuf, Akhyar,2009/2010. Pengetahuan alam dan Pengetahuan Naratif pada Posmodernisme Francois Lyotrad. Materi Kuliah Pascasarjana (S3) FIB UI: departemen Fislsafat.
• www. Stanford Encyclopedia Philosophy.