KONSTRUKSI SOSIAL DAN PERUBAHANNYA DALAM KEBUDAYAAN: dari Si Doel Hingga Terorisme

Oleh, Aceng Ruhendi Saifullah/S3/ Program Linguistik

Melalui tulisan berjudul “Introduction: Inventing Traditions”, Eric Hobsbawm (1997) membahas tradisi yang tidak semata-mata merupakan peninggalan masa lalu, tetapi ada tradisi yang diciptakan kembali untuk alasan tertentu, antara lain untuk kepentingan penguasa. Sumber penciptaan tersebut berasal dari masa lalu, dapat berupa ritual di masa yang lampau, dari cerita fiksi, simbolisme dari agama. Tradisi yang diciptakan kembali diformalkan dan diinstitusikan oleh penguasa, dilakukan dengan pola yang berulang-ulang untuk mengukuhkan bahwa tradisi tersebut berasal dari masa lalu, padahal sebenarnya baru diciptakan.
Hobsbawm menulis dalam kaitan krisis identitas yang melanda Inggris pada abad ke-19. Hobsbawn menunjukkan sejumlah contoh tradisi yang sebenarnya diciptakan kembali untuk menunjukkan bahwa negara Inggris mempunyai kebudayaan yang tinggi. Dicontohkan adanya tradisi yang mengharuskan pasukan penjaga Istana Buckingham, Inggris, memakai topi hitam besar dan rok tartan. Jika dikaitkan dengan paham konstruktivisme, terlihat di sini bagaimana konstruksi sosial dibuat untuk kepentingan lapisan masyarakat tertentu.
Melani Budianta dalam tulisannya berjudul “Representasi Kaum Pinggiran dan Kapitalisme” (2008), memperlihatkan bagaimana konstruksi sosial budaya Betawi dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Menggunakan lima teks, yaitu Tjerita Boedjang Bingoeng novel karya Aman Datuk Madjoindo (1936); Si Doel Anak Betawi novel karya Aman Datuk Madjoindo (1940-an); “Si Doel Anak Betawi” film karya Sjuman Djaja (1972); “Si Doel Anak Modern” film karya Sjuman Djaja (1976); dan “Si Doel Anak Sekolahan” serial televisi Rano Karno (1990-an), ia menggambarkan perkembangan konstruksi budaya Betawi yang berhadapan dengan budaya uang dan pasar.
Sesuai kronologi tahun pembuatan, Tjerita Boedjang Bingoeng dinilai merefleksikan sikap masyarakat yang mendua dan bingung terhadap sistem ekonomi modern dengan permasalahanya. Si Doel Anak Betawi novel karya Aman Datuk Madjoindo menggambarkan lokasi budaya yang belum siap menerima modernitas sehingga protagonisnya (Si Doel) masih perlu berjuang melawan semua hambatan dan tradisi. Film “Si Doel Anak Betawi Asli” menggambarkan proses pengentalan “keaslian” Si Doel sebagai anak Betawi, membuang unsur-unsur non-Betawi dari keluarga Si Doel, sekaligus memperkuat stereotip tentang orang Betawi. Film “Si Doel Anak Modern” menggambarkan kota Jakarta modern yang sedang “berkasih mesra” dengan kekayaan, modern, dan glamor sehingga kebudayaan Betawi bukan merupakan tempat yang diidamkan. Serial televisi “Si Doel Anak Sekolahan” menggambarkan harmoni antaretnik yang dikhayalkan pada akhir era Orde Baru.

Setiap komponen dari konstruksi sosial dan perubahannya dapat dijadikan satu kajian kebudayaan. Konstruksi sosial pada dasarnya berkenaan dengan komponen pertama, yaitu perangkat nilai dan konsep pengarah, yang dapat juga dikatakan sebagai komponen inti dalam kebudayaan. Sumber data mengenai ini dapat berupa teks-teks yang pernah ditulis oleh para pelaku seni yang bersangkutan; dapat pula dihimpun dan direkonstruksi atas dasar sejumlah wawancara dengan tokoh-tokoh pelaku seni dalam masyarakat yang dijadikan sasaran kajian. Dalam hal itu perlu disimak pula adanya perkembangan kaidah, atau lebih tepat perumusan kaidah dari waktu ke waktu.
Film sebagai bagian dari seni setidaknya menawarkan berbagai keinginan, mulai dari mengkreasikan ide, imajinasi, mengekspresikan emosi dan fantasi, mensimulasikan intelektualitas seniman, merekam, dan memperingati pengalaman-pengalaman, merefleksikan konteks-konteks sosial budaya, kritik terhadap sesuatu, mengangkat sesuatu yang biasa menjadi hal yang menarik, dan beberapa lainnya. Karya seni setidaknya juga menciptakan konstruksi tindak tanduk manusia untuk saling berinteraksi terhadap segala hal yang terkait dengannya.
Sebuah karya seni, film, maupun teknologi dalam penciptaannya dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kondisi sosial, perkembangan sosial, minat, konstruksi sosial yang berkembang di masyarakat pada saat karya tersebut dimunculkan. Karya yang memiliki kesamaan alur cerita seperti Si Doel masa lalu dan versi Si Doel terbaru memiliki konstruksi alur benang merah, meskipun dibumbui oleh imajinasi yang variatif dari pengarang yang berbeda.

Terorisme: Tradisi Kekerasan Atas Nama Agama?

Agama sering dikaitkan dengan fenomena kekerasan terorisme. Ini jelas kontras dengan nilai-nilai agama yang mengajarkan perdamaian dan menentang kekerasan. Meskipun faktanya, ada sekelompok orang yang jelas-jelas mengatasnamakan tindakan kekerasannya dengan mengatasnamakan agama. Orang juga menyaksikan bahwa agama sering digunakan sebagai landasan ideologis dan pembenaran simbolis bagi kekerasan. Oleh karena itu sulit menjawab pertanyaan, bagaimana agama bisa menjadi dasar suatu etika untuk mengatasi kekerasan. Padahal, agama baru menjadi konkret sejauh dihayati oleh pemeluknya. Apalagi bila diyakini, bukan agamanya yang “bermasalah”, tetapi manusia pelaku teror itu yang “bermasalah” karena menyalahgunakan pemahaman agamanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok sehingga menyulut kekerasan.
Tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama cenderung dilakukan oleh individu (dalam bahasa Giddens: agen) yang memiliki pemahaman agama yang dangkal. Beberapa figur yang melakukan kegiatan teror, diketahui sebagai orang yang memiliki latar belakang pendidikan sekular, seperti Osama bin Laden, Aiman Al-Zawahry, Azhari, Noordin M. Top. Dorongan internal yang merasa nilai-nilai di masyarakat sudah tidak sesuai dengan nuraninya dan dorongan eksternal yang melihat ketidakadilan dari para pemegang kekuasaan di “dunia”, memicunya memiliki semangat keberagamaan yang berlebihan. Di sinilah individu itu mencari tokoh panutan yang bisa memenuhi rasa dahaga semangat keberagamaannya yang meletup-letup. Ciri-ciri tokoh seperti itu biasanya terdapat pada figur panutan yang berpandangan keras dan berhaluan radikal. Lalu, terjadilah proses pendangkalan paham keagamaan karena biasanya tokoh seperti itu tidak memberikan alternatif pemahaman, tetapi hanya memberikan sudut pandang berdasarkan pada versi pemahaman yang diyakininya. Pada titik inilah, klaim kebenaran tunggal biasanya terjadi.
Klaim kebenaran tunggal itu lalu membuatnya mengidentifikasi tentang siapa “kami” (inner group) dan siapa “mereka” (outer group). Setelah identifikasi terselesaikan, barulah pelaku teror itu menentukan target dan terjadilah tindakan teror. Proses terjadinya tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama tersebut tergambar dalam bagan berikut:

Referensi
Budianta, Melani, “Representasi Kaum Pinggiran dan Kapitalisme” dalam Sastra Indonesia Modern Kritik Postkolonial. Rev. ed. Clearing Space, Keith Foulcher dan Tony Day (ed). Jakarta: KILTV dan Yayasan Obor Indonesia, 2008
Cassel, Phillip ed. 1993. “Problems of Action and Structure” dalam The Giddens Reader. Stanford, California: Stanford University Press, hlm. 88—174.
Guba, Egon S. and Yvonna S. Lincoln, “Competing Paradigms in Qualitative Research” dalam Handbook of Qualitative Research ed. by Norman K. Denzin & Yvonna S. Lincoln (London, New Delhi: Sage Publications, 1994)
Hobsbawm, Eric, “Introduction: Inventing Traditions” dalam The Invention of Traditions ed. by Eric Hobsbawn and Terence Ranger. Cambridge: Cambridge University Press, 1997
Maarif, Ahmad Syafii. “Kekerasan Atas Nama Agama”. Diunduh dari http://klipingpilihanku.blogspot.com, 17 Nopember 2009.
Wibowo, I. “Strukturasi Giddens”. Bahan Kuliah “Teori dan Metodologi Ilmu Pengetahuan Budaya”. Depok, FIB UI, 4 November 2009.
“Agama dan Riak-riak Kekerasan”. Diunduh dari http://elpobresiado.blogsome.com, 17 Nopember 2009.

About acengruhendisaifullah

dosen di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), mahasiswa S3 program Ilmu Linguistik Universitas Indonesia, peminat kajian Pragmatik, analisis wacana kritis, linguistik forensik, Jurnalistik, dan analisis Wacana Kritis

Posted on Desember 1, 2009, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: